Kita terbiasa mengenal Jakarta dari hal-hal yang sudah begitu dekat dengan keseharian. Dari cara manusia berpindah, ruang yang terus berubah, sampai aktivitas yang membuat Jakarta nyaris tidak pernah berhenti. Ada beberapa hal yang mungkin baru terlihat ketika kita mengamatinya dari pengalaman orang lain. Bagi penyandang disabilitas, misalnya.
Perjalanan menuju suatu tempat dapat menghadirkan permasalahan yang tidak banyak orang perhatikan. Trotoar yang terputus, dan aksesnya yang terbatas dapat mengubah perjalanan sederhana menjadi sesuatu yang cukup rumit rasanya.
Hal ini menjadi penting karena perjalanan Jakarta menuju predikatnya sebagai kota global. Status ini tentu membutuhkan daya saing konektivitas, infrastruktur, hingga layanan publik yang memastikan warganya dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan layak. Termasuk warga dengan kebutuhan mobilitas dan aksesibilitas berbeda.
Pembangunan Jakarta yang inklusif juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), ke-10 tentang pengurangan kesenjangan. Tujuan ini ikut melibatkan penyandang disabilitas dalam kehidupan dan pembangunan Jakarta untuk membuka akses yang lebih setara terhadap berbagai layanan dan kesempatan. Jika kebutuhan kelompok ini saja masih terabaikan, tentu masalah kesenjangan akan semakin sulit ditekan sehingga menghambat pembangunan yang seimbang.
Upaya membangun akses yang lebih setara sudah mulai terlihat di berbagai sudut Jakarta. Sejumlah trotoar telah dilengkapi guiding block, sementara fasilitas umum menyediakan toilet khusus yang lebih mudah diakses. Pada sektor transportasi, Transjakarta melakukan penyesuaian layanannya melalui ruang khusus bagi pengguna kursi roda.
Pemprov DKI Jakarta sudah menyediakan tiga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ramah disabilitas di wilayah Sarinah, Kebayoran Lama, dan Senayan. Kehadiran fasilitas ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara jalur pejalan kaki dan transportasi publik.
Aksesibilitas ruang-ruang di Jakarta setidaknya perlu dimulai sejak seseorang bergerak dari trotoar menuju moda transportasi publik. Ramp atau jalur landai yang dapat memudahkan pengguna kursi roda sebagai pengganti tangga, sementara Portal S atau bollard untuk membantu menjaga ruang gerak tetap aman. Bagi penyandang disabilitas netra, guiding block berfungsi sebagai jalur pemandu dengan tekstur yang berbeda untuk membantu mengenali arah.
Pengalaman yang sama juga dibutuhkan ketika warga tiba di ruang publik atau menggunakan transportasi umum. Alat bantu untuk naik dan turun dari kendaraan, pintu yang aman dan mudah diakses, serta lift prioritas dapat membuat proses berpindah menjadi lebih nyaman. Berbagai informasi juga sebaiknya tersedia dalam bentuk audio maupun visual sehingga mudah dipahami, disertai dengan informasi layanan khusus atau bahkan dihadirkan juga tombol dengan tulisan Braille.
Dukungan dari petugas yang siap membantu menjadi pelengkap yang cukup dibutuhkan, bersamaan dengan ruang tunggu, kursi prioritas, toilet khusus, hingga kursi roda yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Namun, kemampuan untuk berpindah dengan mudah bukan satu-satunya ukuran Jakarta menjadi ramah bagi semua. Kita tentu membutuhkan ruang untuk menjalani aktivitas lain sesederhana untuk duduk sejenak, berjalan santai, atau sekadar menikmati suasana Jakarta.
Ruang-ruang terbuka seperti ini seringkali luput dalam pembicaraan tentang aksesibilitas. Padahal, Jakarta perlu menyediakan tempat bagi warganya untuk menikmati ruang bersama.
Taman menjadi salah satu ruang yang paling dekat dengan keseharian warga. Kita dapat menggunakannya untuk berbagai aktivitas sesuai kebutuhan. Karena sifatnya yang terbuka dan digunakan bersama, taman semestinya memberikan pengalaman yang sama kepada siapa pun, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini tentu sejalan dengan kebutuhan Jakarta untuk terus menambah dan memperbaiki ruang terbuka. Sehingga, pertumbuhannya perlu diikuti dengan ruang-ruang yang memberi kesempatan bagi semua untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Ketika Jakarta mampu memperluas ruang terbukanya, aspek aksesibilitas perlu ditempatkan sejak awal. Penyandang disabilitas sebaiknya dilibatkan dalam proses perencanaan. Pengalaman mereka tentu dapat membantu melihat kebutuhan yang mungkin tidak selalu terlihat. Ruang yang didesain bersama akan memiliki peluang manfaat yang lebih besar bagi warga.
Skala sebuah kota global dapat dilihat dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian warganya. Kemudahan bergerak, keleluasaan menggunakan ruang publik, hingga kesempatan menikmati taman dan ruang terbuka menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Jakarta dapat terus tumbuh dengan berbagai akselerasi yang menyertainya. Namun, kemajuan itu akan memiliki makna yang lebih utuh ketika manfaatnya dapat dirasakan semua.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

