Ada kepuasan kecil saat sebuah cap baru mendarat di halaman kosong. Bentuknya mungkin sederhana. Hanya tinta, gambar, atau nama sebuah tempat. Namun, setelah beberapa kali berkunjung, halaman itu mulai terlihat seperti catatan perjalanan.
Buku kecil ini mengajak pengunjung mengumpulkan cap dari museum dan situs cagar budaya yang dikunjungi. Konsepnya mirip dengan paspor perjalanan. Bedanya, kali ini tujuan perjalanannya adalah sebuah museum.
Museum Passport diluncurkan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) pada Juni 2026. Program ini dibentuk sebagai cara baru untuk membuat kunjungan ke museum terasa lebih interaktif dan personal.
Museum Passport memang sengaja dibuat dengan konsep mengajak pengunjung menjelajahi museum dan situs cagar budaya sambil mengumpulkan cap sebagai penanda perjalanan. Program ini diluncurkan pada Juni 2026 oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB) Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Saat pertama kali diperkenalkan, terdapat 16 lokasi yang menyediakan cap Museum Passport. Daftarnya kemudian bertambah pada akhir Juni 2026 dengan jumlahnya yang mencapai 21 museum dan situs budaya di Indonesia. Diantaranya adalah:
Museum Nasional Indonesia
Museum Majapahit
Museum Kebangkitan Nasional
Museum Benteng Vredeburg
Museum Batik Indonesia
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti
Museum Prasejarah Semedo
Museum Song Terus
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari
Museum Perjuangan Yogyakarta
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Ngebung
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Bukuran
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Manyarejo
Galeri Nasional Indonesia
Museum Bahari
Museum Arkeologi Onrust
Museum Wayang
Museum Seni Rupa & Keramik
Museum Tekstil
Jakarta menjadi salah satu kota yang menarik untuk memulai “perburuan”. Pilihannya cukup ragam dan tersebar di beberapa wilayah. Artinya, satu buku kecil bisa menjadi alasan untuk membuat beberapa perjalanan yang berbeda di Jakarta.
Museum Passport membuat perjalanan semacam ini terasa seperti permainan. Ada target yang bisa dikejar, tetapi tidak ada keharusan untuk menyelesaikannya dalam satu hari. Yang menarik dari berburu cap adalah setiap museum membawa cerita yang berbeda.
Museum Kebangkitan Nasional, misalnya, mengajak pengunjung melihat sejarah pergerakan bangsa. Museum ini berada di kawasan yang juga memiliki cerita panjang dalam sejarah Jakarta. Kemudian ada Museum Tekstil yang bercerita melalui sebuah kain. Pengunjung dapat melihat koleksi tekstil dari berbagai daerah dan mengenal lebih dekat tradisi yang melekat pada setiap kain. Motif dan warna yang terlihat sederhana ternyata memiliki latar cerita yang kompleks.
Berpindah ke Museum Wayang, koleksinya membawa pengunjung lebih dekat dengan dunia pewayangan. Ada berbagai bentuk wayang dari Indonesia dan sejumlah negara lain. Museum ini juga berada di kawasan Kota Tua yang memang cocok untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Bagi yang tertarik dengan seni, Museum Seni Rupa dan Keramik bisa menjadi tujuan berikutnya.
Setiap museum memiliki ceritanya sendiri. Satu cap bisa membawa ingatan pada arca yang dilihat di Museum Nasional. Cap berikutnya mengingatkan pada kain, wayang, atau kisah sejarah yang ditemukan dalam perjalanan museum lain.
Museum Passport menawarkan sesuatu yang rasanya agak berbeda di tengah kebiasaan serba digital hari ini. Hampir semua pengalaman bisa kita simpan dalam gawai. Mengambil foto sebanyak mungkin, membeli tiket dalam aplikasi, bahkan peta perjalanan pun dapat diakses dalam genggaman.
Namun, cap di atas kertas punya sensasi tersendiri. Ada proses untuk mendapatkannya. Pengunjung perlu datang langsung ke museum, melihat koleksinya, lalu membawa pulang satu tanda kecil yang mengingatkan pada tempat yang pernah dikunjungi.
Bagi sebagian orang, kegiatan mengoleksi seperti ini mungkin sepele. Tetapi hal kecil seperti ini yang bisa membuat sebuah kunjungan menjadi lebih berkesan. Apalagi jika dilakukan bersama teman atau keluarga. Anak-anak bisa diajak mencari cap sambil mengenal koleksi museum.
Untuk ikut berburu cap, pengunjung perlu memiliki Museum Passport yang dijual dengan harga Rp89.000. Harganya dapat berubah menjadi Rp81.000 saat ada periode promo tertentu. Selain menjadi tempat mengumpulkan cap, buku ini juga dilengkapi voucher tiket masuk gratis ke sejumlah museum yang berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Kebudayaan RI.
Tidak perlu memaksakan diri mengunjungi lima museum dalam satu hari hanya agar halaman cepat terisi penuh. Museum hopping akan lebih menyenangkan jika dilakukan secara bertahap. Datang ke satu museum, luangkan waktu untuk melihat koleksinya, lalu temukan cerita-cerita yang mungkin belum pernah diketahui sebelumnya. Setelah puas berkeliling, barulah mencari cap. Dengan cara seperti ini, Museum Passport bisa menjadi alasan sederhana untuk mengenal Jakarta dari sisi yang berbeda.
Jakarta memang seringkali membuat orang sibuk berpindah tempat. Namun, ada banyak cerita yang baru terlihat ketika kita mengenalnya lebih dekat.
Mungkin setiap cap hanya terlihat seperti tanda kecil di atas kertas. Namun, ketika buku itu dibuka kembali, setiap tanda akan membawa ingatan pada tempat yang berbeda. Pada perjalanan yang berbeda, pada cerita-cerita yang berbeda.
Kalau akhir pekan kalian nanti belum punya rencana, mungkin tidak ada salahnya memilih satu museum. Mulai dengan berkeliling, menikmati koleksinya, lalu menutup kunjungan dengan mendapatkan sebuah cap yang menjadi penanda perjalanan. Setelah satu halaman terisi, siapa tahu, satu cap pertama membuat kita penasaran untuk mencari cap yang kedua, ketiga, keempat hingga memenuhi seluruh halaman didalamnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

