Tersembunyi di balik gagahnya punggung raksasa pegunungan kapur yang membeku di tengah hamparan samudera hijau nan manis, Blitar menyajikan banyak potensi yang membuatnya pantas diberi julukan ‘kawentar’.
Di bumi Bung Karno, lintasan jalan aspal yang sempit nan meliuk-meliuk terbentang sepanjang dua puluh lima purnama kilometer dari bisingnya Stasiun Blitar.
Lalu lalang pengangkut tebu menghiasi setiap lekukan jalan melintang, tanpa memandang waktu. Tak menentu perjalanan yang ditempuh, terbawalah menuju penanda masuk Desa Bakung.
Melawan rimbunnya tumbuhan di kanan kiri jalan menuju peradaban sederhana yang hangat. Rumah-rumah terbingkai selonjor-lonjor bentangan kelapa dan gerombolan tebu siap panen.
Dualisme Kemelut Histori dan Lanskap Harmonis
Memukaunya Air Terjun Tirto Galuh | Dokumentasi Pribadi Tim Seraya Blitar, 2026
Perkebunan sejauh mata memandang. Sungai-sungai membiarkan riaknya terdengar mengikuti arus keberadaan permadani hijau.
Dari gapura desa, bertemulah pusat pelayanan masyarakat yang menggenapi penghidupan warga. Etalase dagangan nampak di kanan kiri, pengusaha kecil membawa lentera demi memenuhi panggilan asa.
Hijau sawah, kepulan asap dapur rumah tangga, warga bahu membahu tangguh selalu mendengar riak air kolam sebagai melodi pagi, tempat peternak menggantungkan mimpi.
Di punggung bukit yang sunyi, terabadikan sejarah kelam yang menyalakan api juang. Di sana, tiga ujung tombak menjulang bersama lima arca yang membeku dalam sunyi, mengabadikan memoar operasi berdarah, membentengi dari siar komunis, demi kesaktian Pancasila yang mempersatukan lebih dari setengah abad silam. Monumen Trisula, begitulah jagat mengenalnya.
Langkah demi langkah menyusuri jalan utama, menengok ke kiri, sebuah papan penunjuk menanti dalam senyap menuju jalan setapak di sebalik lebatnya rerumputan.
Meniti setapak demi setapak, telinga disambut gemercik abadi yang memamerkan air menari mesra dari tebing batu yang lebih tinggi, mereka menyebutnya Air Terjun Tirto Galuh. Keindahan yang masih malu–malu, tetapi tak tersaput debu.
Di tanah ini, bersama dengan hangatnya dekapan masyarakat, terserap pelajaran yang tak ternilai. Di antara larutan tawa dalam kesederhanaan piring jamuan acara, bercengkrama dengan muda-mudinya, hingga keringat yang tertumpah ketika menyatu dengan alam dalam hijaunya perkebunan membentuk memori yang tak mudah pudar.
Deru Lembut Sungai Kondang
Terdekap di balik gagahnya nyiur daun melambai yang tumbuh rapat dengan barisan tebu, diperelok dengan gemericik air menyeru. Curug Moncar, destinasi yang mungkin hanya menjadi angin lalu, menyimpan keindahan dengan suasana tak terdeskripsi.
Menembus pekarangan dan ladang warga, jalan setapak dan bongkahan kapur yang kian tergerus kaki petani. Usaha terbayarkan oleh petirtaan yang mengalir deras di kala kemarau, yang kelak bermuara melintasi Jalur Lintas Selatan Blitar.
Putihnya Kapur, Hitamnya Aspal
Keindahan panorama Jalur Lintas Selatan yang baru selesai dibangun | Dokumentasi Pribadi Tim Seraya Blitar, 2026
Membelah pegunungan kapur, menyusuri tebing dengan lanskap menawan pantai selatan Blitar, begitulah kenampakan Jalur Lintas Selatan yang terbentang dari Pacitan hingga Banyuwangi.
Megahnya aspal panas dan tebing belahan menciutkan sifat angkuh kepada alam. Meski hanya lintasan singkat, namun keberadaannya menjadi penyambung sektor-sektor penting kehidupan bukit dan pesisir.
Hasil panen berlalu lalang, terpanggang panas mentari. Terombang-ambing oleh hembus kencang angin bebas laut selatan, petani teguh bergiat meladang.
Panorama indah ladang tebu dan pohon teduh di tepi membingkai ruang sunyi dari Bululawang atas hingga Pasur.
Kelapa sebagai Giok Tak Berharga
Pemandangan keberadaan pohon kelapa di sepanjang jalan desa | Dokumentasi Pribadi Tim Seraya Blitar, 2026
Halusnya JLS bersanding dengan jalanan bergerigi desa, transisi pembangunan desa. Suasana yang lumrah ditemui di pemukiman pesisir. Pemandangan indah dengan akses terbatas, begitulah kondisinya. Di persimpangan, pilihan tiba untuk menentukan destinasi, pantai atau muara.
Nyiur daun menghiasi setiap sisi jalan menuju Pantai Pasur. Kelapa gading dan kelapa puyuh, bersaing kuantitas dengan tanaman tebu. Mustahil agaknya bila mata masih sempat melihat orang menanggung malnutrisi dan tengkes.
Andai masyarakat memperdagangkan kelapa di Desa Bululawang, kelak buah itu akan berakhir layaknya derasnya santan. Jumlahnya yang tak terhitung, kelapa-kelapa itu terkadang berakhir sebagai buah tangan untuk pendatang atau wisatawan pantai.
Penyambung Harapan dan Legasi Leluhur
Suasana sakral acara Petik Laut yang diadakan oleh kelompok nelayan Desa Bululawang | Dokumentasi Pribadi Tim Seraya Blitar, 2026
Lantunan irama gamelan seakan menjadi pengiring derap langkah para pembawa sesaji, yang berisi doa-doa keselamatan bagi pelaut, mereka yang mencari secercah harapan di lautan. Wujud kesyukuran yang dituangkan dalam berbagai bentuk sajian, baik dari alam maupun dari racikan dapur rumah tangga.
Gerak para pelantun doa menjadi pemimpin bagi para pembawa sesaji di belakang. Kelak, hantaran itu akan dilabuhkan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan, dan kepada garda terdepan narmada selatan, hanyut ke tengah birunya langit laut sementara pesisir dipenuhi oleh lautan manusia yang tanpa sirna melantunkan harapan.
Bakung, Bululawang, dan Notasi Kehidupan
Kegiatan penanaman mangrove mahasiswa/i KKN-PPM UGM yang dibersamai oleh Dinas Lingkungan Hidup Kab. Blitar (kanan) | Dokumentasi Pribadi Tim Seraya Blitar, 2026
Di antara debur ombak Pantai Pasur, teduhnya biang-biang hijau, garangnya Monumen Trisula, hamparan lahan pertanian, dan ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi, Bakung dan Bululawang menyimpan sebuah petuah sederhana. Sebuah desa tidak hanya dibangun oleh apa yang dimilikinya. Namun, oleh cara masyarakatnya menjaga, mengolah, dan menceritakan kembali kekayaan tersebut kepada dunia, kisah kesahajaan dan keagungan tanah selatan ini akan terus abadi melewati zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


