Ada cara menegur seseorang tanpa mengatakan bahwa ia sedang ditegur. Tidak perlu suara keras. Tidak perlu wajah masam. Bahkan tidak harus menyebut nama orang yang dimaksud. Cukup dengan beberapa baris kalimat yang terdengar seperti permainan kata.
Itulah salah satu keunikan pantun dalam kehidupan masyarakat Melayu Riau dan Kepulauan Riau pada masa lalu. Pantun bukan sekadar puisi untuk acara adat atau pelengkap upacara. Ia pernah menjadi bagian dari cara orang Melayu berbicara, bercanda, menyampaikan nasihat, bahkan menyindir tanpa membuat lawan bicara kehilangan muka.
Barangkali, di situlah salah satu alasan pantun mampu bertahan begitu lama. Ia bukan hanya soal rima. Ia adalah seni berbicara tanpa melukai.
Ketika Nasihat Tidak Disampaikan Secara Terang-Terangan
Bagi masyarakat Melayu, bahasa tidak selalu digunakan untuk mengatakan sesuatu secara langsung. Ada pertimbangan tentang siapa yang diajak bicara, bagaimana hubungan kekerabatannya, dan bagaimana sebuah pesan dapat disampaikan tanpa menimbulkan rasa malu.
Dalam kebudayaan Melayu Riau, ungkapan adat seperti pepatah, petitih, bidal, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, dan seloka merupakan bagian dari warisan yang mengandung simbol serta falsafah kehidupan.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Riau bahkan menggambarkan budaya Melayu sebagai budaya yang terbuka dan kaya variasi, sementara adat resamnya sarat dengan lambang serta nilai.
Dengan kata lain, pantun tidak berdiri sendirian. Ia berada di dalam sebuah kebudayaan yang memandang cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan pesan itu sendiri.
Karena itu, sebuah teguran dapat dibuat terdengar seperti candaan. Sebuah nasihat bisa terdengar seperti permainan kata. Dan sebuah sindiran dapat disampaikan tanpa harus menunjuk siapa yang sedang disindir.
Pantun Dulu Bukan Barang Pajangan
Hari ini kita mungkin lebih sering menemukan pantun dalam buku pelajaran, perlombaan, acara resmi, atau unggahan media sosial. Namun, kehidupan pantun pada masa lalu jauh lebih luas.
Kompas.com mencatat bahwa pantun merupakan tradisi lisan masyarakat Melayu di Riau dan Kepulauan Riau. Pada masa dahulu, pantun bahkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan hampir setiap kegiatan budaya Melayu memiliki tradisi berpantun.
Bayangkan suasana sebuah pertemuan keluarga. Seseorang ingin memberikan nasihat kepada anak muda.
Ia bisa saja berkata: “Jangan terlalu sombong.” Namun, dalam budaya yang akrab dengan pantun, pesan semacam itu dapat dibungkus dengan kata-kata yang lebih halus. Bukan karena orang Melayu tidak berani berbicara terus terang.
Justru karena mereka memahami bahwa kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah bisa kehilangan maknanya. Pantun kemudian menjadi semacam “jembatan”. Pesan tetap sampai, tetapi harga diri orang yang mendengarnya tetap dijaga.
Dari Pantun, Kita Bisa Melihat Cara Orang Melayu Memahami Hubungan Sosial
Inilah bagian yang sering luput ketika pantun hanya dipandang sebagai warisan sastra. Pantun sebenarnya bisa dibaca sebagai rekaman cara masyarakat berhubungan dengan sesamanya.
Ada rasa hormat kepada orang tua. Ada perhatian terhadap hubungan antarkerabat. Ada kebiasaan bermusyawarah. Ada keinginan untuk menjaga suasana tetap baik. Bahkan ada ruang untuk menyampaikan kritik tanpa mengubah percakapan menjadi pertengkaran.
Tradisi tersebut sejalan dengan berbagai bentuk adat Melayu yang menempatkan tata krama dan norma sebagai bagian penting dari kehidupan sosial. Kajian tentang upacara tradisional masyarakat Melayu Riau mencatat bahwa pewarisan budaya berlangsung melalui pembiasaan dalam rumah tangga, pergaulan masyarakat, dan penghayatan terhadap tata krama serta norma budaya.
Maka, kalau kita ingin memahami masyarakat Melayu masa lalu, mungkin tidak cukup hanya melihat rumah adat, pakaian, atau tarian. Dengarkan juga bagaimana mereka berbicara. Sebab terkadang kebudayaan paling jelas justru tersembunyi di balik cara seseorang memilih kata.
Dari Riau dan Kepulauan Riau, Pantun Menyeberangi Batas
Menariknya, tradisi pantun tidak berhenti sebagai kebiasaan lokal. Ia menjadi bagian dari warisan budaya Melayu yang lebih luas.
Pada 2020, UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk Kemanusiaan bersama Malaysia. Kompas.com mencatat bahwa pantun berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Melayu dan digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari komunikasi sehari-hari hingga kegiatan budaya. Ini membuat sebuah tradisi yang tampak sederhana menjadi jauh lebih menarik.
Empat baris pantun ternyata mampu membawa cara berpikir sebuah masyarakat melampaui batas geografis dan generasi. Yang diwariskan bukan hanya bunyi akhir yang berima. Namun, juga cara manusia berbicara kepada manusia lain.
Penyengat, Bahasa, dan Warisan Kata yang Panjang Umurnya
Kisah ini semakin menarik ketika kita menoleh ke Pulau Penyengat di Kepulauan Riau. Pulau kecil tersebut dikenal sebagai salah satu pusat penting peradaban Melayu dan memiliki hubungan kuat dengan perkembangan bahasa dan tradisi intelektual Melayu.
ANTARA News Kepulauan Riau melaporkan bahwa Pulau Penyengat dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pulau ini juga pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.
Sementara itu, tradisi pertunjukan seperti bangsawan, makyong, mendu, dan langlang buana turut menjadi bagian dari khazanah budaya Kepulauan Riau.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyebut Kepulauan Riau, khususnya kawasan Lingga, sebagai salah satu wilayah penting dalam khazanah budaya dan bahasa Melayu.
Artinya, budaya Melayu di Riau dan Kepulauan Riau tidak pernah hanya memiliki satu wajah. Ada musik. Ada teater. Ada upacara adat. Ada manuskrip. Ada bahasa. Dan di antaranya, ada pantun yang membuat percakapan sehari-hari bisa berubah menjadi sesuatu yang indah.
Mungkin yang Hilang Bukan Pantunnya, Melainkan Kebiasaan Mendengarkannya
Hari ini kita masih mengenal pantun. Kita bahkan bisa membuatnya hanya dalam beberapa detik dengan bantuan teknologi.
Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik. Apakah kita masih menggunakan bahasa seperti orang-orang yang mewariskan pantun itu dahulu? Apakah kita masih tahu bagaimana menegur tanpa mempermalukan?
Apakah kita masih bisa berbeda pendapat tanpa harus meninggikan suara? Apakah kita masih mampu menyampaikan nasihat tanpa membuat orang lain merasa sedang dihakimi?
Mungkin itulah nostalgia yang sebenarnya. Bukan sekadar merindukan zaman ketika orang berpantun. Melainkan merindukan cara manusia memperlakukan manusia lain melalui bahasa.
Pantun boleh berubah bentuk. Bahasa boleh berkembang. Zaman boleh berganti. Tetapi gagasan bahwa sebuah kebenaran bisa disampaikan dengan indah seharusnya tidak ikut hilang.
Ketika Bahasa jadi Warisan
Barangkali, yang perlu kita wariskan dari pantun Melayu bukan hanya empat baris dengan rima yang indah. Namun, juga cara orang-orang dahulu memilih kata: tegas tanpa melukai, menasihati tanpa menggurui, dan berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Sebab pada akhirnya, budaya tidak selalu hilang ketika orang berhenti mengenakan pakaian adat atau memainkan kesenian tradisional. Kadang, budaya mulai hilang ketika kita lupa bagaimana memperlakukan orang lain melalui kata-kata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

