kkn mit 22 uin walisongo posko 69 ajak siswa berani bersuara tentang bullying - News | Good News From Indonesia 2026

KKN MIT 22 UIN Walisongo Posko 69 Ajak Siswa Berani Bersuara tentang Bullying

KKN MIT 22 UIN Walisongo Posko 69 Ajak Siswa Berani Bersuara tentang Bullying
images info

Foto: Hak milik Pribadi


Hallo, Kawan GNFI!

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat anak merasa aman untuk belajar, bermain, dan berteman. Namun, bagi sebagian anak, lingkungan sekolah justru bisa menjadi tempat munculnya pengalaman yang tidak menyenangkan, salah satunya karena bullying.

Hal inilah yang menjadi perhatian tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT 22 UIN Walisongo Semarang Posko 69. Melalui sosialisasi bertema Stop Bullying, mahasiswa KKN mengajak siswa untuk mengenali perundungan sekaligus berani berbicara ketika mengalaminya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua sekolah, yakni SDN 1 Wonokerto pada Senin (10/8/2026) dan SDN 2 Demak pada Rabu (12/8/2026). Aktivitas ini melibatkan mahasiswa KKN, pihak sekolah, serta para siswa.

Di SDN 1 Wonokerto, kegiatan mendapat sambutan dari Kepala Sekolah Umar Bakri, sementara di SDN 2 Demak, sosialisasi disambut oleh Kepala Sekolah Hasan Taukhid.

baca juga

Mengenalkan Bullying ke Siswa 

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa KKN tidak hanya menjelaskan pengertian bullying. Para siswa juga diajak mengenali berbagai bentuk perundungan yang mungkin terjadi di sekitar mereka.

Mahasiswa menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Ejekan, panggilan yang membuat teman merasa tidak nyaman, mempermalukan, hingga mengucilkan seseorang juga dapat memberikan dampak bagi korban.

Hal sederhana yang sering dianggap sebagai candaan ternyata bisa meninggalkan perasaan tidak menyenangkan bagi orang lain. Karena itu, siswa diajak untuk lebih berhati-hati dalam bercanda dan belajar menghargai perasaan teman.

Mahasiswa KKN juga mengajak siswa untuk tidak menjadikan kekurangan fisik, kondisi keluarga, maupun perbedaan yang dimiliki teman sebagai bahan lelucon.

Selain mengenali bentuknya, siswa juga diberikan pemahaman mengenai apa yang bisa dilakukan ketika melihat atau mengalami bullying. Mereka diajak untuk tidak diam dan tidak takut meminta bantuan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.

Ketika Siswa Mulai Berani Bercerita

Bagian yang paling berkesan dari kegiatan ini terjadi ketika mahasiswa KKN memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita.

Awalnya, beberapa siswa masih terlihat malu dan ragu. Namun, setelah diberikan ruang untuk berbicara, satu per satu mulai berani mengangkat tangan dan menceritakan pengalaman yang pernah mereka alami maupun saksikan.

Cerita yang disampaikan pun beragam. Ada yang pernah mendapatkan ejekan dari teman, ada yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan tertentu, hingga pengalaman yang membuat mereka merasa sedih.

Suasana kemudian berubah ketika beberapa siswa tidak mampu menahan tangis saat menceritakan pengalaman mereka.

Bagi mahasiswa KKN, momen tersebut menjadi pengingat bahwa bullying bukan sekadar materi yang bisa dijelaskan di depan kelas. Di balik pembahasan mengenai perundungan, ternyata ada anak-anak yang pernah merasakan sendiri bagaimana tidak nyamannya diperlakukan dengan buruk oleh orang lain.

Mahasiswa KKN kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan ceritanya tanpa menghakimi. Mereka juga mengingatkan bahwa ketika mengalami bullying, siswa tidak perlu menyalahkan diri sendiri dan tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Keberanian untuk bercerita menjadi langkah penting. Sebab, ketika seorang anak sudah berani mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, orang-orang di sekitarnya memiliki kesempatan untuk membantu.

baca juga

Teman Sebaya Juga Punya Peran

Pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab guru maupun orang tua. Teman sebaya juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mengajak siswa untuk tidak ikut menertawakan atau mengejek ketika ada teman yang menjadi sasaran perundungan. Siswa juga diajak untuk tidak mengucilkan teman dan berani mendampingi mereka ketika membutuhkan bantuan.

Jika melihat tindakan bullying, siswa diarahkan untuk melapor kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya. Dengan begitu, masalah tidak dibiarkan begitu saja dan dapat segera mendapatkan perhatian.

Dari kegiatan di dua sekolah tersebut, mahasiswa KKN MIT 22 Posko 69 berharap siswa tidak hanya memahami apa itu bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk bersuara.

Sebab, menghentikan bullying tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Bisa dimulai dari hal sederhana, seperti berhenti mengejek, tidak ikut mengucilkan, berani membela teman, dan mau mendengarkan ketika seseorang memilih untuk bercerita.

Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu. Lebih dari itu, sekolah juga menjadi tempat anak-anak belajar mengenal diri, berteman, dan tumbuh bersama. Karena itu, sudah seharusnya setiap anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri tanpa takut direndahkan atau disakiti.

Bagaimana menurut Kawan GNFI, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat lingkungan sekolah menjadi tempat yang lebih aman dari bullying?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.