menelusuri setu babakan mengenal budaya betawi melalui perspektif global volunteer - News | Good News From Indonesia 2026

Menelusuri Setu Babakan: Mengenal Budaya Betawi melalui Perspektif Global Volunteer

Menelusuri Setu Babakan: Mengenal Budaya Betawi melalui Perspektif Global Volunteer
images info

AIESEC in UIN Jakarta Incoming Global Volunteer melalui kegiatan Setu Babakan Journey Walk| Dokumentasi Pribadi


AIESEC in UIN Jakarta melanjutkan rangkaian program Incoming Global Volunteer melalui kegiatan Setu Babakan Journey Walk pada Selasa, 28 Juli 2026.

Kegiatan ini mempertemukan Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dalam perjalanan eksplorasi kawasan Setu Babakan untuk mengenal kekayaan budaya Betawi sekaligus mengamati potensi pengembangan pariwisata lokal dari perspektif yang lebih luas.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman Global Volunteer yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan proyek, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan masyarakat lokal.

Melalui eksplorasi sejumlah destinasi di kawasan Setu Babakan, peserta diajak melihat bagaimana budaya, ekonomi masyarakat, dan sektor pariwisata dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman yang berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan opening plenary. Dalam sesi pembukaan, peserta memperoleh penjelasan mengenai agenda serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama kegiatan.

EPs dan LVs juga diberikan beberapa target yang perlu dipenuhi selama perjalanan, seperti mengamati kelebihan dan kekurangan destinasi wisata, mengumpulkan informasi dari masyarakat atau pelaku usaha lokal, serta mendokumentasikan kegiatan sebagai bagian dari curriculum project dan kampanye digital.

baca juga

Sebelum memulai perjalanan, peserta mengikuti check-in dengan pertanyaan mengenai tempat yang paling mereka sukai untuk dikunjungi.

Sesi tersebut dilanjutkan dengan roll dance yang membangun energi positif sebelum peserta memulai kegiatan eksplorasi.

Perjalanan kemudian dimulai dengan mengunjungi Museum Betawi. Bersama tour guide, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat berbagai aspek kebudayaan Betawi.

Tidak hanya menikmati informasi yang diberikan, peserta juga diarahkan untuk mengamati kondisi destinasi dari berbagai sisi, termasuk fasilitas, kebersihan, daya tarik, serta pengalaman yang dapat dirasakan oleh pengunjung.

Eksplorasi dilanjutkan menuju Zona A dan Zona Embrio. Di setiap lokasi, peserta melakukan pengamatan sekaligus mendokumentasikan berbagai hal yang dianggap relevan dengan pengembangan kawasan wisata.

Aktivitas tersebut mendorong peserta untuk melihat destinasi bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki potensi dan tantangan untuk dikembangkan.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian peserta adalah kunjungan ke sejumlah home industry yang bergerak di bidang kuliner. Peserta berkesempatan mengenal berbagai produk khas Betawi, seperti bir pletok, dodol, kembang goyang, dan produk lokal lainnya.

Interaksi dengan para pelaku usaha memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami bagaimana budaya lokal dapat terus hidup melalui kegiatan ekonomi masyarakat.

Dalam proses eksplorasi tersebut, peserta juga diarahkan untuk melakukan wawancara dengan warga sekitar, pedagang, maupun pelaku wisata. Informasi yang dikumpulkan mencakup kondisi kawasan wisata serta data yang dapat digunakan untuk melihat tantangan dan peluang pengembangan destinasi.

Aktivitas ini sekaligus melatih peserta dalam melakukan observasi lapangan dan mengubah pengalaman langsung menjadi informasi yang dapat digunakan dalam proses reporting.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Danau Setu Babakan sebagai salah satu bagian dari kawasan wisata yang menjadi tujuan eksplorasi.

Setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan, peserta mengikuti sesi Circling Your Idea. Dalam sesi ini, mereka diberikan ruang untuk membagikan pengalaman dan perspektif yang diperoleh selama menjelajahi Setu Babakan.

Perbedaan latar belakang antara EPs dan LVs menjadi salah satu hal yang memperkaya proses refleksi. Peserta dapat melihat budaya dan lingkungan yang sama dari sudut pandang yang berbeda, kemudian saling bertukar pemikiran mengenai bagaimana kekayaan lokal dapat diperkenalkan dan dikembangkan secara lebih luas.

baca juga

Kegiatan dilanjutkan dengan Checking-Up, ketika peserta mengumpulkan hasil dokumentasi serta rangkuman wawancara yang telah diperoleh selama eksplorasi.

Data tersebut selanjutnya menjadi bahan untuk menyusun hasil observasi dan mendukung kebutuhan proyek On The Map.

Tidak berhenti pada pengumpulan data, peserta juga mengikuti sesi Through the Lens untuk mengolah pengalaman mereka dalam bentuk konten digital. Peserta diminta menyusun video berdasarkan dokumentasi yang telah dikumpulkan selama perjalanan sebagai bagian dari tugas proyek dan kampanye digital.

Melalui aktivitas tersebut, pengalaman eksplorasi budaya tidak hanya menjadi pengalaman personal, tetapi juga dapat dikomunikasikan kepada masyarakat melalui media yang lebih luas.

Dokumentasi Pribadi
info gambar

Dokumentasi Pribadi


Salah satu peserta menyampaikan bahwa perjalanan ini memberikan pengalaman berbeda dalam mengenal budaya lokal.

“Menurut saya, Setu Babakan membuat saya melihat budaya bukan hanya sebagai sesuatu yang dipelajari, tetapi juga sesuatu yang bisa ditemukan langsung melalui masyarakat, makanan, dan tempat yang kita kunjungi. Bertemu langsung dengan pelaku usaha juga membuat pengalaman ini terasa lebih nyata,” ujar Michal, salah satu peserta Global Volunteer.

Peserta lainnya menilai kegiatan eksplorasi memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara pariwisata dan masyarakat lokal.

“Hal yang paling menarik adalah kami tidak hanya datang untuk melihat-lihat, tetapi juga harus mengamati, bertanya, dan mencari tahu kondisi di setiap tempat. Dari situ saya jadi lebih memahami bahwa mengembangkan pariwisata juga perlu memperhatikan masyarakat dan budaya yang ada di dalamnya,” ungkap Davin.

Melalui Setu Babakan Journey Walk, AIESEC in UIN Jakarta memberikan ruang bagi peserta Global Volunteer untuk belajar melalui pengalaman langsung, mengenal keberagaman budaya Indonesia, serta memahami potensi pengembangan pariwisata lokal.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif peserta sekaligus mendorong mereka untuk melihat isu lokal melalui sudut pandang global.

Kegiatan ditutup dengan pengisian feedbackform, check-out, dan sesi dokumentasi bersama. Melalui rangkaian perjalanan ini, peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman menjelajahi Setu Babakan, tetapi juga pemahaman baru mengenai pentingnya menjaga budaya, mendukung masyarakat lokal, dan menciptakan pariwisata yang memiliki dampak berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.