Kawan, pernahkah terpikir bahwa tumpukan jerami yang tersisa setelah panen bisa kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan peternakan?
Bagi masyarakat Desa Nanggulan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, jerami padi merupakan salah satu hasil samping pertanian yang mudah ditemui, terutama setelah musim panen. Namun, melimpahnya jerami juga menghadirkan persoalan tersendiri.
Tidak semua jerami dapat dibawa pulang dan disimpan oleh peternak karena keterbatasan tempat penyimpanan. Akibatnya, sebagian jerami hanya ditumpuk di sekitar lahan atau berpotensi dibakar setelah panen. Padahal, jika diolah dengan tepat, jerami masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai salah satu alternatif bahan pakan ternak.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNT) IPB University mengajak peternak Desa Nanggulan mengenal salah satu cara pemanfaatan jerami melalui praktik pembuatan silase. Silase merupakan pakan ternak yang dibuat melalui proses fermentasi sehingga bahan pakan dapat disimpan dan dimanfaatkan dalam jangka waktu tertentu serta mempertahankan nutrisi dari pakan.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/2026) di kandang sapi tengah sawah, Dukuh Brumbung, Desa Nanggulan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan mengenai konsep dasar pembuatan silase, tetapi juga mengajak peternak untuk mempraktikkan langsung setiap tahap pengolahannya.
Dalam praktiknya, jerami padi terlebih dahulu dicacah menggunakan alat bantu chopper. Proses pencacahan dilakukan agar ukuran jerami menjadi lebih kecil dan mudah diolah. Jerami yang telah dicacah kemudian dimasukkan ke dalam plastik secara bertahap. Pada proses tersebut, jerami disiram menggunakan larutan yang terdiri atas air, EM4, dan molases. Selanjutnya, jerami dipadatkan dan dikemas untuk menjalani proses fermentasi.
Para peternak tidak hanya menyaksikan proses tersebut. Mereka turut terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari pencacahan hingga pengemasan jerami. Praktik secara langsung ini menjadi bagian penting dalam kegiatan. Peternak tidak hanya memperoleh informasi mengenai silase, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mencoba sendiri bagaimana jerami yang sebelumnya dianggap sebagai sisa hasil panen dapat diolah melalui proses fermentasi.

Proses pencacahan jerami padi bersama peternak Desa Nanggulan | Tim KKNT IPB
Meskipun demikian, hasil silase tidak dapat langsung terlihat setelah kegiatan selesai. Jerami yang telah dikemas masih membutuhkan waktu untuk menjalani proses fermentasi hingga siap digunakan. Menariknya, respons dari para peternak mulai terlihat sejak kegiatan berlangsung.
Beberapa peternak yang mengikuti praktik meminta plastik silase kepada tim KKNT IPB University untuk mencoba kembali proses pengolahan tersebut secara mandiri di tempat masing-masing. Bahkan salah satu peternak tertarik untuk melakukan percobaan dengan bahan tambahan yang mereka ingin uji coba saat pembuatan silase.
Antusiasme tersebut menjadi langkah kecil yang menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk mencoba memanfaatkan potensi yang tersedia di sekitar mereka.
Bagi Desa Nanggulan, praktik pembuatan silase menjadi salah satu langkah sederhana untuk melihat kembali potensi yang ada di sekitar masyarakat. Jerami yang selama ini identik dengan sisa hasil panen dapat dipandang sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan cara yang tepat.
Kegiatan pembuatan silase ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKNT IPB University dalam mendorong pemanfaatan potensi pertanian lokal bersama masyarakat Desa Nanggulan. Bagi kawan-kawan di Desa Nanggulan, jerami bukan lagi sekadar sisa yang menumpuk setelah panen.
Dengan pengolahan yang tepat, jerami dapat dicoba untuk dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari kebutuhan pakan ternak. Sebab, terkadang sesuatu yang terlihat seperti sisa justru masih menyimpan manfaat, tinggal bagaimana kita melihat dan mengolahnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


