Berapa harga sesisir pisang mentah di tangan tengkulak? Biasanya relatif rendah. Namun begitu diiris tipis, digoreng renyah, diberi bubuk perasa, lalu dikemas dengan label yang menarik, harga sekantong keripik pisang aneka rasa bisa berlipat kali dari harga bahan mentahnya.
Perbedaan sederhana itulah yang coba dibuktikan mahasiswa KKNT IPB University kepada ibu-ibu di Balai Desa Karanganyar, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Selasa (4/8/2026).
Program yang diberi nama CUANANA, singkatan dari Cuan dari Banana, ini digagas setelah mahasiswa KKN IPB University Desa Karanganyar mendapati fakta bahwa pisang tumbuh berlimpah nyaris di setiap pekarangan warga. Namun, selama ini hanya dijual mentah kepada tengkulak dengan keuntungan yang relatif rendah.
Setelah berdiskusi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Todanan, mahasiswa KKNT IPB University Desa Karanganyar pun merancang CUANANA yang bukan sekadar sebagai pelatihan memasak satu arah, melainkan bekal usaha yang menyeluruh dari cara berpikir soal nilai produk, hitung-hitungan modal, sampai strategi menjualnya.
Sasarannya adalah ibu-ibu PKK, kader posyandu, ibu-ibu pengajian, dan pelaku UMKM setempat, dengan total sekitar 17 orang yang hadir memenuhi balai desa siang itu.
Uniknya, kegiatan ini sengaja tidak dimulai dengan wajan dan minyak panas. Mahasiswa lebih dulu mengajak peserta duduk dan berpikir: mengapa pisang yang sama bisa punya dua harga yang sangat berbeda tergantung cara menjualnya?
Dari pertanyaan itulah, materi tentang pentingnya nilai tambah produk mengalir secara alami, sebelum masuk ke bagian yang selama ini terasa menakutkan bagi banyak pelaku usaha rumahan, menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).
Alih-alih dijejali rumus rumit, peserta diajak menghitung sendiri dengan cara paling sederhana supaya harga jual yang ditetapkan nanti benar-benar mendatangkan untung, bukan sekadar menutup modal.
Materi berlanjut ke hal yang jarang disadari pelaku usaha kecil, yaitu penyusutan peralatan usaha, lalu beralih ke sesi yang tak kalah penting: teknik packaging. Sebab, secantik apa pun rasa keripik pisang, kemasan yang asal-asalan bisa membuat calon pembeli urung melirik.
Bagian yang paling mengundang decak kagum peserta justru datang dari sesi pembuatan logo produk menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Banyak ibu-ibu yang selama ini mengira membuat logo profesional butuh biaya mahal, kini melihat sendiri bagaimana identitas visual produk bisa dirancang hanya lewat gawai di tangan.
Sesi sosialisasi ditutup dengan strategi pemasaran, baik secara online melalui media sosial dan marketplace, maupun offline lewat pasar dan warung-warung di sekitar desa.
Setelah seluruh materi sosialisasi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi live cooking pembuatan keripik pisang aneka rasa. Sesi ini menjadi puncak kegiatan, di mana peserta dapat langsung melihat dan mempraktikkan proses pengolahan pisang menjadi keripik.
Sebongkah teori yang tadinya terasa abstrak, kini benar-benar bisa dipegang, dicium aromanya, dan dicicipi hasilnya.
"Saya mengapresiasi program KKN IPB yang tidak hanya datang, tapi meninggalkan dampak. Pelatihan Cuanana ini membuka wawasan warga bahwa sumber daya lokal bisa diolah jadi produk unggulan seperti halnya pisang, dari yang awalnya pisang hanya dijual mentah dengan harga relatif murah, setelah adanya pelatihan yang dilakukan mahasiswa IPB kami jadi tahu cara mengolahnya menjadi produk yang bernilai tinggi. Mahasiswa IPB membuktikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan nyata. Program ini sangat bermanfaat dan semoga bisa mengangkat ekonomi desa kita," ungkap Siti Nur Munawaroh, Ketua PKK Desa Karanganyar.
Melalui program CUANANA, mahasiswa KKNT IPB University berharap masyarakat Desa Karanganyar dapat lebih berdaya secara ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis olahan pisang yang berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


