sampah organik tak lagi terbuang kknt ipb university hadirkan bak komposter sabdo di desa cibodas - News | Good News From Indonesia 2026

Sampah Organik Tak Lagi Terbuang, KKNT IPB University Hadirkan Bak Komposter SABDO di Desa Cibodas

Sampah Organik Tak Lagi Terbuang, KKNT IPB University Hadirkan Bak Komposter SABDO di Desa Cibodas
images info

Pembangunan bak komposter metode SABDO oleh Tim KKNT IPB University di Desa Cibodas | Foto: Dokumentasi Pribadi.


Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Desa Cibodas, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil observasi Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University, pengelolaan sampah rumah tangga di desa tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada sampah organik.

Berangkat dari kondisi tersebut, Tim KKNT IPB University melalui program SABODAS atau Sampah Bermanfaat Pikeun Cibodas membangun bak komposter dengan metode SABDO sebagai salah satu upaya untuk mendorong pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.

Metode SABDO (Sebelas Detik Aja Bio Degradasi) dikembangkan oleh Prof. Arief Sabdo Yuwono dengan konsep pengolahan sampah organik yang praktis, relatif mudah diterapkan, dan dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Sistem ini memanfaatkan proses penguraian secara aerob serta pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai agen biodegradasi dalam pengelolaan sampah organik. Melalui proses pengolahan menggunakan maggot, sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan buah dapat dikurangi volumenya, sementara hasil samping berupa kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bak komposter yang dibangun oleh Tim KKNT IPB University memiliki ukuran 2 × 1 × 1 meter dan terdiri atas dua ruang pengolahan. Kedua ruang tersebut dirancang untuk mendukung proses pengelolaan sampah secara bergantian, mulai dari tahap pengisian hingga proses penguraian dan pemanenan kompos.

baca juga

Dengan adanya dua ruang pengolahan, proses pengomposan dapat tetap berjalan ketika salah satu bagian sedang memasuki tahap dekomposisi. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah organik secara lebih berkelanjutan.

Namun, pembangunan fasilitas bukan menjadi satu-satunya fokus dalam program ini. Perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah juga menjadi bagian penting yang ingin didorong melalui SABODAS. Masyarakat diajak untuk mulai melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan alami lainnya, dipisahkan dari sampah anorganik agar dapat memperoleh penanganan yang sesuai.

Langkah sederhana tersebut menjadi penting karena pemilahan dari sumber dapat menjadi awal dari sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Sampah organik yang telah dipisahkan tidak hanya berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi kompos yang memiliki manfaat bagi lingkungan. Kompos hasil pengolahan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti pemupukan tanaman di pekarangan, lahan pertanian, maupun ruang terbuka hijau di Desa Cibodas. Dengan demikian, proses pengelolaan sampah tidak berhenti pada tahap pembuangan, tetapi dapat menghasilkan produk baru yang kembali memberikan manfaat.

Program pembangunan bak komposter metode SABDO juga menjadi bagian dari upaya untuk memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat. Dalam konsep ini, sumber daya yang telah digunakan tidak langsung berakhir sebagai limbah, melainkan dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah justru dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat.

Keberadaan bak komposter diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas fisik, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kawan GNFI, perubahan dalam pengelolaan lingkungan memang tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dari rumah, dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.

Tim KKNT IPB University berharap bak komposter metode SABDO dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang dapat terus dimanfaatkan setelah program KKNT selesai. Model pengelolaan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan pada lingkungan lain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat.

baca juga

Keberlanjutan program tentunya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dukungan Pemerintah Desa Cibodas, KSM Reksa Bumi, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi bagian penting agar fasilitas yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dan dikelola.

Melalui kolaborasi tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak tertentu, tetapi menjadi gerakan bersama. Dari langkah sederhana berupa pemilahan sampah di rumah hingga pengolahan sampah organik menjadi kompos, masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan baru untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.