stasiun wonokromo gerbang selatan surabaya yang jadi saksi bisu tragedi gerbong maut - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Wonokromo: Gerbang Selatan Surabaya yang Jadi Saksi Bisu Tragedi “Gerbong Maut”

Stasiun Wonokromo: Gerbang Selatan Surabaya yang Jadi Saksi Bisu Tragedi “Gerbong Maut”
images info

Stasiun Wonokromo | Rizal Febri Ardiansyah/WikimediaCommons


Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga pusat perkembangan transportasi di Jawa Timur. Salah satu ikon sejarah yang masih kokoh melayani penumpang setiap harinya adalah Stasiun Wonokromo.

Stasiun Wonokromo adalah stasiun kereta api kelas besar tipe C. Terletak di Jalan Stasiun Wonokromo No. 1, Jagir, Surabaya, stasiun ini dikelola oleh Daerah Operasi VIII Surabaya dan KAI Commuter.

Berada di ketinggian +7 di atas permukaan air laut (mdpl), Stasiun Wonokromo merupakan pintu gerbang kereta api dari arah barat daya (Yogyakarta) dan selatan (Malang/Ketapang).

Saksi Bisu Tragedi “Gerbong Maut”

Stasiun Wonokromo mulai dioperasikan di akhir tahun 1800-an sebagai bagian dari jalur tertua yang menghubungkan Surabaya Kota dengan Pasuruan. Pembangunannya dilaksanakan oleh Staatsspoorwegen (SS). Keberadaan jalur darat ini perlahan menggeser peran transportasi air di Kali Jagir yang sebelumnya mendominasi mobilitas barang.

Di masa penjajahan, stasiun ini memegang peran penting untuk menunjang aliran hasil perkebunan dari daerah sekitar Surabaya untuk diekspor ke Eropa melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Seiring meluasnya jaringan kereta api, Wonokromo berkembang menjadi persimpangan besar yang terhubung dengan jalur Surabaya-Solo hingga Batavia pada tahun 1894.

baca juga

Stasiun ini juga menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa perjuangan bangsa Indonesia, termasuk tragedi kelam "Gerbong Maut" pada November 1947. Kala itu, 100 tahanan pejuang dipindahkan oleh tentara Belanda dari Bondowoso ke Surabaya.

Rute keberangkatannya dimulai dari Stasiun Bondowoso ke Stasiun Wonokromo. Pejuang itu dimasukkan ke gerbong barang yang ditutup rapat tanpa ventilasi. Mereka juga tidak diberi makan atau minum.

Akibatnya, saat tiba di Stasiun Wonokromo, lebih dari 40 pejuang meninggal dunia. Konon, pejuang ini ditangkap karena dicurigai sebegai revolusioner.

Simpul Utama KA Komuter Surabaya Raya

Disadur dari Instagram Ditjen Perkeretaapian (DJKA), @ditjenperkeretaapian, Stasiun Wonokromo dikembangkan sebagai stasiun utama (main station) dalam jaringan Kereta Rel Listrik (KRL) komuter Surabaya Regional Railway Line (SRRL).

Pemilihan stasiun ini sebagai stasiun utama tentu bukan tanpa alasan. DJKA menyebut, lokasinya yang strategis membuat Stasiun Wonokromo menjadi simpul penting yang menghubungkan koridor Surabaya, Sidoarjo, sampai Mojokerto.

Nantinya, stasiun ini akan saling terintegrasi dengan moda transportasi lain di Surabaya Selatan, seperti KA Antarkota, Commuter Line, dan Transportasi Perkotaan dan Lanjutan.

Saat ini, Stasiun Wonokromo sendiri memang aktif melayani pemberhentian dan keberangkatan kereta lokal dan komuter, seperti KA Arjonegoro, Jenggala, Penataran, Dhoho, dan Supas.

Selain itu, di sini juga melayani pemberhentian kereta lintas selatan Jawa, yakni KA Wijayakusuma, Logawa, Gaya Baru Malam Selatan, Sri Tanjung, dan Pasundan Tambahan. Stasiun Wonokromo turut melayani pemberhentian lintas timur Jawa dengan KA Mutiara Timur dan Probowangi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.