Menemukan sebuah kaldera raksasa di Lombok dan menghitung volume letusannya adalah pencapaian besar — tetapi dalam sains, korelasi bukanlah bukti. Sebelum komunitas ilmiah global bisa menerima bahwa Gunung Samalas benar-benar bertanggung jawab atas anomali iklim yang mengguncang dunia pada 1258, tim peneliti harus melakukan satu hal lagi: membuktikan secara kimiawi bahwa jejak yang ditemukan di es kutub benar-benar berasal dari gunung berapi ini, dan bukan dari sumber lain.

Batu apung (pumice) hasil letusan eksplosif — material serupa inilah yang dianalisis para geokimiawan untuk merekonstruksi komposisi magma dan sidik jari kimia Gunung Samalas. Foto oleh Outlookxp, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
Menghitung Emisi Belerang lewat Inklusi Lelehan
Salah satu tantangan terbesar dalam merekonstruksi erupsi purba adalah menghitung berapa banyak gas belerang dioksida (SO₂) yang sebenarnya dilepaskan ke atmosfer. Gas ini menguap dan menyebar ke seluruh dunia, sehingga tidak bisa diukur langsung dari endapan batuan di permukaan.
Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti — dipimpin oleh geokimiawan Céline Vidal bersama Nicole Métrich dan Jean-Christophe Komorowski — menggunakan metode yang disebut analisis inklusi lelehan (melt inclusions). Teknik ini memanfaatkan kristal-kristal mineral kecil yang terbentuk jauh di dalam ruang magma sebelum erupsi terjadi. Saat kristal-kristal ini tumbuh, mereka terkadang menjebak setetes kecil magma cair di dalamnya — sebuah "kapsul waktu" mikroskopis yang menyimpan komposisi kimia magma asli, termasuk kandungan belerangnya, sebelum gas tersebut sempat menguap saat erupsi terjadi.

Close-up kristal mineral — struktur internal semacam inilah yang diteliti untuk menemukan inklusi lelehan, "kapsul waktu" mikroskopis penyimpan komposisi magma purba. Foto oleh Jason D, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).
Dengan membandingkan kandungan sulfur di dalam inklusi lelehan yang belum terdegas dengan kandungan sulfur pada kaca vulkanik di permukaan yang sudah kehilangan gasnya, para ilmuwan dapat menghitung secara akurat berapa banyak gas yang sesungguhnya dilepaskan selama erupsi. Hasil perhitungan ini sangat mengejutkan: penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports (Nature) pada 2016 menunjukkan bahwa erupsi Samalas melepaskan sekitar 158 juta ton (158 ± 12 teragram) belerang dioksida serta 227 juta ton klorin ke dalam stratosfer — menjadikannya pelepasan gas stratosfer terbesar yang pernah tercatat sepanjang Era Umum (Common Era), bahkan melampaui perkiraan sebelumnya yang hanya didasarkan pada data inti es semata.
Mencocokkan Sidik Jari Kimia dari Dua Ujung Bumi

Mikroskop laboratorium — instrumen semacam inilah yang digunakan para geokimiawan untuk menganalisis inklusi lelehan pada kristal mineral dan mencocokkan sidik jari kimia partikel abu vulkanik. Foto oleh Ousa Chea, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).
Langkah pembuktian paling menentukan datang dari perbandingan geokimia langsung antara dua sampel yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer: partikel abu vulkanik (tephra) yang ditemukan terperangkap di dalam inti es Kutub Selatan (Antartika), dan sampel abu vulkanik yang diambil langsung dari endapan erupsi di Gunung Samalas, Lombok.
Setiap gunung berapi memiliki komposisi kimia magma yang unik — semacam "sidik jari" geokimia yang dibentuk oleh kondisi geologi spesifik di bawah gunung tersebut, termasuk rasio unsur-unsur jejak dan komposisi kaca vulkaniknya. Dengan menggunakan teknik analisis mikro-geokimia presisi tinggi, tim peneliti membandingkan komposisi unsur pada partikel abu mikroskopis dari kedua sampel tersebut.
Hasilnya menunjukkan kecocokan yang sangat signifikan. Komposisi geokimia partikel abu dari inti es Antartika secara konsisten sesuai dengan komposisi magma trakidasit khas Gunung Samalas — sebuah kecocokan yang menjadi bukti langsung dan tak terbantahkan bahwa partikel yang mengendap di kutub selatan bumi memang berasal dari letusan gunung tersebut di Lombok, lebih dari 12.000 kilometer jauhnya.
Mengapa Bukti Ini Begitu Penting
Pencocokan geokimia ini menjadi elemen kunci yang mengubah hipotesis Samalas dari sekadar "kandidat yang sangat mungkin" menjadi kesimpulan ilmiah yang telah tervalidasi secara ketat. Dalam sains, klaim sebesar ini — bahwa satu gunung berapi di Indonesia mengubah iklim seluruh dunia dan berkontribusi pada kelaparan massal di London — membutuhkan bukti dari berbagai jalur independen yang semuanya mengarah pada kesimpulan yang sama.
Ketika digabungkan, rangkaian bukti berikut membentuk sebuah kasus ilmiah yang kokoh:
- Lonjakan sulfat raksasa yang tercatat bersamaan di inti es Greenland dan Antartika.
- Penyempitan cincin pohon yang menandai pendinginan global tajam.
- Bukti arkeologi kelaparan massal di London yang bertepatan waktu.
- Legenda lokal Lombok tentang kehancuran Kerajaan Pamatan.
- Rekonstruksi fisik kaldera dan volume erupsi 40 kilometer kubik.
- Perhitungan emisi gas dari inklusi lelehan kristal.
- Kecocokan geokimia langsung antara abu Antartika dan abu Samalas.
Ketujuh jalur bukti independen ini, yang berasal dari disiplin ilmu yang sama sekali berbeda — mulai dari glasiologi, dendrokronologi, arkeologi, hingga geokimia vulkanik — semuanya bermuara pada satu kesimpulan yang sama. Inilah yang menjadikan kasus Samalas sebagai salah satu contoh paling elegan dari kerja ilmiah multidisiplin dalam merekonstruksi peristiwa masa lalu yang tidak memiliki catatan sejarah langsung.
Menutup Kasus yang Telah Terbuka Selama Puluhan Tahun
Dengan bukti geokimia yang tak terbantahkan ini, misteri yang telah menggantung sejak pertama kali lonjakan sulfat aneh ditemukan di inti es kutub akhirnya terpecahkan. Gunung Samalas, yang dulunya bahkan tidak dikenal oleh dunia ilmiah internasional, kini diakui sebagai salah satu gunung berapi paling mematikan dan berpengaruh dalam sejarah manusia — sebuah gunung yang letusannya mengubah nasib jutaan orang di seluruh dunia, ribuan kilometer dari lokasinya.
Namun penemuan ini bukan sekadar catatan sejarah yang menarik. Ia juga membawa implikasi serius bagi dunia modern: apa yang akan terjadi jika sebuah letusan seskala Samalas terjadi hari ini, di dunia yang jauh lebih padat penduduk dan saling terhubung? Pertanyaan inilah yang akan kita jawab dalam artikel penutup seri ini.
Referensi
- Vidal, C.M., Métrich, N., Komorowski, J.C. et al. (2016). The 1257 Samalas eruption (Lombok, Indonesia): the single greatest stratospheric gas release of the Common Era. Scientific Reports 6, 34868. Nature Publishing Group.
- Lavigne, F. et al. (2013). Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled. PNAS.
- Dokumenter: The Lost Supervolcano: The Biggest Eruption in Human History (segmen 41:23–47:31).
Artikel ini adalah bagian keempat dari seri "Erupsi Samalas 1257: Menguak Bencana Vulkanik Terbesar dalam Sejarah Manusia". Artikel sebelumnya "Penemuan Gunung Samalas: Kisah Ekspedisi Ilmiah Prancis Mengungkap Gunung Berapi Terdahsyat di Lombok".
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

