hadapi kekeringan pentingnya menanam pangan di jakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Hadapi Kekeringan, Pentingnya Menanam Pangan di Jakarta

Hadapi Kekeringan, Pentingnya Menanam Pangan di Jakarta
images info

Foto oleh Gigi di Unsplash


Musim kemarau selalu membawa pengingat sederhana tentang pangan yang sangat bergantung kepada air. Ketika hujan berkurang dan sumber air mulai terbatas, kegiatan pertanian ikut menghadapi tantangan. Petani perlu memastikan lahan tetap dapat diolah dan dipanen. Jika produksi di daerah pertanian terganggu, maka pasokan pangan Jakarta dapat ikut terdampak.

Bagi Jakarta, persoalan ini terasa lebih dekat. Jakarta memiliki lahan pertanian yang terbatas dan masih bergantung pada daerah penyangga untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Kondisi tersebut membuat ketahanan pangan perlu dipikirkan dari banyak sisi. Salah satunya dengan memperkuat kemampuan kota untuk menghasilkan pangan di dalam wilayahnya sendiri. 

Urban farming dipilih untuk menjadi salah satu solusi yang digunakan. Warga menanam sayuran di halaman rumah, sekolah membuat kebun kecil, atau lahan kosong diubah menjadi tempat bercocok tanam.

baca juga

Jakarta memang tidak didesain untuk wilayah pertanian. Cara bertaninya pun perlu menyesuaikan dengan karakter wilayah. Pemprov DKI Jakarta mendorong konsep space based farming yang memanfaatkan ruang-ruang yang masih tersedia.

Lahan kosong dan atau lahan-lahan yang tidak digunakan dapat dimanfaatkan kembali. Begitu pula rooftop, RPTRA, sekolah, hingga area perkantoran. Teknologi dan sarana budi daya dapat membantu tanaman tumbuh di ruang yang terbatas.

Pendekatan ini membuat urban farming terasa lebih dekat dengan kehidupan kita. Tidak perlu membayangkan sawah yang luas untuk mulai bertani. Beberapa pot di halaman rumah sudah dapat menjadi sarana awal. Sekelompok warga juga dapat mengelola satu lahan bersama atau menyediakan sudut khusus untuk tanaman pangan. 

Upaya tersebut sudah berjalan di sejumlah wilayah Jakarta. Di Jakarta Pusat, misalnya, lahan aset Pemda seluas 162 meter persegi di Kelurahan Pegangsaan dimanfaatkan untuk menanam golden melon, melon hijau, anggur, dan pisang.

Lahan tersebut juga memiliki kolam ikan nila dan lele. Dari ruang yang terbatas itu, 25 melon pernah dipanen dan dinikmati bersama. Contoh ini menunjukkan bahwa lahan kecil tetap dapat memberi hasil ketika dikelola dengan baik.

Pemanfaatan lahan yang lebih luas juga dilakukan di kawasan Cikini. Pemerintah Kota Jakarta Pusat mengelola lahan privat seluas sekitar 4.500 meter persegi untuk kegiatan urban farming. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk menanam sejumlah komoditas, seperti cabai, pare, pakcoy, dan kangkung.

Kerja sama seperti ini membuka peluang baru bagi Jakarta. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat memiliki fungsi bagi ketahanan pangan Jakarta.

Selain itu, pada Agustus 2026, Pemerintah Kota Jakarta Timur bersama Tim Penggerak PKK melakukan panen serentak di Cipayung Edufarm. Panen berlangsung di 191 titik dan menghasilkan sekitar 1,1 ton jagung manis serta sayuran.

Selain jagung, terdapat kangkung dan pakcoy yang ikut dipanen. Hasilnya dapat dikonsumsi masyarakat dan menjadi tambahan sumber pangan di lingkungan sekitar.

Hal menarik lainnya adalah ketika urban farming di Jakarta Timur mulai masuk ke lingkungan pendidikan. Pada 14 Agustus 2026, panen serentak bersama pelajar dilakukan di 223 lokasi yang tersebar di 10 kecamatan. Total lahannya mencapai hampir 1 hektar. Kegiatan ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga universitas.

Kegiatan seperti ini memberi insight baru pada konsep urban farming. Anak-anak dapat melihat langsung dari mana makanan berasal. Mereka belajar menanam, merawat, dan memanen. Proses tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman itu dapat membangun kepedulian terhadap pangan sejak dini.

baca juga

Di Pondok Pesantren Ulul Ilmi, Cipayung, lahan sekitar 1.500 meter persegi telah dimanfaatkan untuk urban farming sejak 2022. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan para santri dan sebagian dipasarkan melalui kerja sama dengan sejumlah swalayan serta pusat perbelanjaan di Jakarta Timur.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa konsep urban farming dapat berkembang dari kegiatan konsumsi menjadi nilai ekonomi. Hasil panen dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk dibagikan kepada warga, atau dijual ketika jumlahnya cukup banyak. Urban farming terbukti dapat memberikan manfaat yang terus berputar. Hasil penjualan bisa digunakan kembali untuk membeli bibit, pupuk, dan kebutuhan kebun lainnya. Dengan begitu, kelompok tani dan komunitas dapat menjaga kegiatan bercocok tanam tetap berjalan.

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta mencatat bahwa program pertanian perkotaan menghasilkan lebih dari 80.000 ton tanaman hortikultura pada 2023. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam di tengah kota sudah berkembang dalam skala yang cukup besar.

Tentu urban farming tidak akan membuat Jakarta sepenuhnya mandiri pangan. Kita tetap membutuhkan tambahan pasokan dari daerah lain. Barangkali ini pentingnya mengembangkan urban farming secara konsisten. Ketahanan pangan tidak cukup dibangun ketika pasokan mulai terganggu.

Persiapannya perlu dilakukan jauh hari sebelumnya. Setiap kebun kecil yang tumbuh di lingkungan warga dapat menjadi bagian dari persiapan kita. Ketika lahan kosong mulai produktif dan warga mulai terbiasa menanam, Jakarta memiliki banyak pilihan saat mulai menghadapi tekanan pada sistem pangan.

Kekeringan memberikan kita alasan untuk melihat kembali cara Jakarta memenuhi kebutuhan pangannya. Di tengah keterbatasan ini seharusnya tidak membuat kita untuk berhenti menanam.

Ruang yang ada masih dapat diolah menjadi sumber pangan. Dari halaman rumah, sekolah, hingga rooftop sebuah perkantoran dapat kita manfaatkan menjadi kebutuhan ruang hijau.

Ketahanan pangan Jakarta tidak hanya berbicara tentang berapa banyak pangan yang tersedia di pasar, tapi seberapa siap Jakarta untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri. Urban farming menawarkan langkah yang sederhana untuk kita akhirnya memiliki sebuah pilihan. Sudah waktunya kita melihat ruang di sekitar sebagai tempat untuk menanam. Dari satu tanaman, satu rumah, harapannya ketahanan pangan Jakarta dapat mulai tumbuh.

Untuk warga yang ingin ikut terlibat, informasi mengenai kegiatan urban farming di Jakarta dapat diakses melalui media sosial @dkpkp.jakarta atau situs resmi Dinas KPKP DKI Jakarta. Kita juga bisa datang ke RPTRA terdekat yang biasanya menjadi ruang untuk kegiatan berkebun dan hidroponik.

Cara lainnya, tanyakan kepada pengurus RT, RW, atau pihak kelurahan mengenai kebun warga maupun Taman Ketahanan Pangan yang aktif di lingkungan sekitar. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.