ikhwan arief nahkoda konservasi yang ubah cara nelayan melihat laut dari laut banyuwangi - News | Good News From Indonesia 2026

Ikhwan Arief, Nahkoda Konservasi yang Ubah Cara Nelayan Melihat Laut dari Laut Banyuwangi

Ikhwan Arief, Nahkoda Konservasi yang Ubah Cara Nelayan Melihat Laut dari Laut Banyuwangi
images info

Kenapa Laut Banyuwangi Tak Lagi Sekadar Tempat Mencari Ikan? | Foto: unsplash


Dulu, Laut Bangsring adalah tempat mencari ikan. Kini, orang datang ke sana untuk menyelam, melihat terumbu karang, berenang, belajar tentang ekosistem laut, bahkan ikut merawatnya.

Perubahannya bukan terjadi dalam semalam. Ada nelayan yang harus berhadapan dengan kebiasaan lama, penolakan, bahkan intimidasi sebelum masyarakat pesisir Bangsring perlahan mengubah cara memperlakukan laut.

Di balik perubahan itu ada nama Ikhwan Arief. Ia bukan datang sebagai penyelamat dari luar. Ia seorang nelayan yang pernah melihat sendiri bagaimana laut yang menjadi sumber penghidupan justru perlahan kehilangan kehidupan.

Dan mungkin, di situlah kisah konservasi Banyuwangi menjadi menarik: laut tidak diselamatkan oleh orang yang tidak membutuhkannya, tetapi oleh orang yang menggantungkan hidup kepadanya.

Ketika Ikan Mulai Hilang, Nelayan Mulai Bertanya

Perairan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pernah menghadapi persoalan serius akibat praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem, termasuk penggunaan potasium dan bom ikan.

Detik mengatakan, sejak sekitar 2000-an nelayan mulai merasakan berkurangnya ikan yang berdampak langsung terhadap pendapatan.

Namun, kebiasaan menangkap ikan dengan cara yang merusak belum serta-merta berhenti. Ikhwan kemudian sampai pada kesadaran sederhana: tidak ada cara ajaib untuk mengembalikan ikan jika lautnya sendiri terus dirusak.

Pada 2008, ia bersama kelompok nelayan mulai mengampanyekan cara menangkap ikan yang lebih ramah lingkungan.

baca juga

Jalannya tidak mudah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat, perubahan tersebut awalnya mendapat penolakan dari sebagian nelayan karena bertentangan dengan kebiasaan yang sudah berlangsung turun-temurun.

Namun, Ikhwan tidak berhenti pada ajakan untuk "jangan merusak laut". Ia mengajak masyarakat mencari alasan baru untuk menjaga laut.

Dari Laut yang Rusak Menjadi Ruang yang Menghidupi

Perlahan, gerakan konservasi berkembang. Terumbu karang dipulihkan. Masyarakat mulai terlibat. Kemudian muncul gagasan menjadikan kawasan tersebut sebagai wisata berbasis konservasi. Bangsring Underwater pun lahir. UniversitasBrawijaya menjelaskan, kegiatan masyarakat Bangsring berkembang dari perubahan metode penangkapan ikan menjadi penanaman vegetasi pantai, transplantasi terumbu karang, hingga pembentukan kawasan perlindungan ekosistem laut.

Konservasi akhirnya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menghalangi nelayan mendapatkan penghasilan. Justru sebaliknya. Laut yang sehat menjadi modal untuk menciptakan sumber penghidupan baru.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyebut Bangsring sebagai contoh perubahan dari wilayah yang dahulu dikenal tertinggal dan memiliki persoalan penangkapan ikan ilegal menjadi kawasan wisata yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Di sinilah peran seorang "nahkoda" menjadi menarik.

Nahkoda tidak harus selalu menjadi orang yang paling depan. Tugasnya adalah mengetahui arah ketika kapal sedang bergerak. Ikhwan dan masyarakat Bangsring seperti sedang melakukan hal serupa: mengubah arah tanpa meninggalkan kapal yang sama.

Ketika Konservasi Harus Belajar Masuk ke Dunia Digital

Hari ini, cerita tentang laut tidak lagi hanya hidup di atas perahu. Ia hidup di kamera wisatawan, video pendek, mesin pencari, media sosial, situs wisata, hingga berbagai platform digital yang membuat orang di luar Banyuwangi bisa mengenal sebuah kawasan pesisir.

Bangsring sendiri telah berkembang sebagai ekowisata berbasis konservasi. Pengelola Bangsring Underwater menjelaskan, kawasan tersebut dibangun sebagai wisata bahari berbasis edukasi dan konservasi, dengan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaannya.

Maka, pekerjaan menjaga laut hari ini mempunyai tantangan baru. Menjaga ekosistem saja tidak cukup. Ceritanya juga harus sampai kepada orang lain.

Inilah makna "nahkoda konservasi digital": generasi setelah Ikhwan tidak cukup hanya meneruskan transplantasi karang atau menjaga kawasan pesisir. Mereka juga perlu membawa cerita konservasi ke ruang digital agar semakin banyak orang memahami bahwa laut bukan latar belakang untuk berwisata.

Kompas mencatat, kawasan Bangsring telah menjadi zona konservasi terumbu karang sekaligus bagian dari pengembangan ekonomi biru. Dengan kata lain, teknologi digital dapat menjadi perpanjangan tangan konservasi: membantu orang mengenal, datang, belajar, lalu—yang paling penting—peduli.

baca juga

Hari Maritim Nasional dan Pertanyaan yang Lebih Penting

Hari Maritim Nasional diperingati setiap 21 Agustus. Maritim sering identik dengan laut. Laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga penghubung Nusantara dan bagian dari identitas Indonesia sebagai negara kepulauan.

Karena itu, kisah Bangsring sebenarnya bukan hanya tentang Banyuwangi. Ia tentang cara kita memandang laut. Apakah laut hanya tempat mengambil ikan? Ataukah ia rumah yang harus dijaga agar tetap mampu memberi kehidupan?

Ikhwan Arief dan masyarakat Bangsring menunjukkan bahwa jawabannya tidak harus berhenti pada slogan. Kadang, perubahan bermula ketika seseorang yang setiap hari pergi ke laut berani mengatakan: "Kalau laut ini habis, kami juga kehilangan masa depan."

Mungkin itulah warisan terbesar seorang nahkoda konservasi. Bukan sekadar meninggalkan laut yang lebih sehat, tetapi meninggalkan cara pandang baru tentang laut.

Sekarang, tugas itu berpindah kepada kita. Sebab laut yang kita lihat hari ini mungkin bukan laut yang akan dilihat anak-anak kita nanti. Pertanyaannya: jika suatu hari mereka bertanya siapa yang menjaga laut ini ketika masih punya kesempatan, apakah kita punya cerita untuk mereka?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.