Indonesia belakangan ini menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan bencana alam. Kekeringan, kebakaran hutan, kualitas udara yang memburuk, banjir bandang, hingga gempa bumi terjadi di berbagai wilayah dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh berbagai makhluk hidup yang kehilangan habitat dan ruang hidupnya.
Perhatian terhadap nasib satwa yang turut terdampak pun semakin marak dibicarakan, mendorong munculnya berbagai tanggapan dan kepedulian dari masyarakat. Ketika mereka yang tak tahu apa-apa menjadi korban karena kerakusan manusia, apakah yang harus kita lakukan?
Ramainya perbincangan di sosial media mengenai situasi alam Indonesia bermula dari gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Gmpa terjadi pada 15 Agustus 2026, pukul 05:58 WITA, dan berkekuatan M7.7.
Berdasarkan laporan dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, gempa ini merusak lebih dari 40.000 unit rumah dan meraup korban jiwa hingga lebih dari 80 orang.
Peristiwa tersebut turut mengundang simpati dan keprihatinan dari masyarakat Indonesia. Berbagai bentuk kepedulian pun bermunculan, salah satunya melalui penggalangan dana yang dilakukan oleh masyarakat untuk membantu warga yang terdampak bencana.
Tak lama kemudian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali terjadi dan meluas hingga mendekati permukiman warga. Peristiwa yang berulang dari tahun ke tahun ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, bahkan justru menghadirkan dampak yang semakin mengkhawatirkan.
Masyarakat sekitar pun terpaksa menjalani keseharian di tengah kepungan asap dengan kualitas udara yang kian memburuk, seakan kondisi tersebut telah menjadi bagian normal dari kehidupan mereka setiap tahunnya.
Dua peristiwa tadi baru secuil contoh dari segala peristiwa alam yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Walaupun dinamakan bencana alam, tak semua peristiwa ini adalah murni faktor alami bumi pertiwi.
Pemanasan global, perubahan iklim, suhu yang kian meningkat merubah cara kerja cuaca dan ketahanan bumi. Sebagai generasi muda yang akan meneruskan masa depan bangsa, ada banyak hal yang dapat kita lakukan daripada hanya berdiam diri dan larut dalam keprihatinan.
Salah satu organisasi internasional, AIESEC, menciptakan enam nilai prinsip bagi anak muda untuk menjadi acuan dalam mengambil peran dan berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai tersebut biasa disebut SELADA Values.
Sebagai anak muda yang penuh inisiatif, jarak bukanlah halangan bagi kita untuk membantu teman-teman yang terdampak bencana. Berdonasi atau sesederhana berani menyuarakan kepedulian dan menyebarkan kesadaran merupakan bentuk aksi nyata dalam mengambil peran.
Selain itu, kesadaran ini dijaga tak hanya ketika sedang terjadi bencana saja. Namun, hingga efek samping sudah terselesaikan dengan tuntas dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal.
Di tengah maraknya penggalangan bantuan, kita perlu lebih selektif dan cermat dalam memilih bentuk bantuan yang sesuai dengan kebutuhan para korban agar dapat tersalurkan dengan tepat sasaran.
Selain itu, kewaspadaan juga diperlukan terhadap penggalangan dana palsu yang kerap beredar di media sosial dan berpotensi merugikan masyarakat.
Poin terpenting dari seluruh upaya tersebut adalah bagaimana kita menjadikan nilai keberlanjutan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar respons sesaat ketika bencana terjadi. Satwa kehilangan habitat, kebakaran hutan, dan banjir bandang merupakan contoh bencana yang dapat disebabkan oleh pemanasan global.
Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik kita dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini agar bencana tersebut tidak semakin meluas daripada menimbulkan lebih banyak korban.
Sebagai anak muda, kita dapat menerapkan aksi nyata yang berkelanjutan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membawa botol minum sendiri, menggunakan transportasi umum, membawa tas belanja, serta berbagai langkah kecil lainnya.
Di AIESEC in UGM sendiri, SELADA Values telah diterapkan sebagai salah satu landasan dalam menjalankan organisasi dan menciptakan dampak.
Para anak muda yang tergabung di dalamnya saling mendorong untuk mengambil langkah dan membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, kepedulian terhadap sesama juga diwujudkan melalui aksi solidaritas, salah satunya dengan penggalangan dana bersama AIESEC in Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


