Infertilitas masih menjadi tantangan besar bagi banyak pasangan di dunia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas, menunjukkan besarnya kebutuhan akan penanganan medis fertilitas yang perlu terus berkembang.
Menjawab tantangan kesehatan ini, Blastula IVF Siloam Sriwijaya terus meningkatkan kualitas layanan fertilitas melalui inovasi integrasi teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI), peningkatan mutu laboratorium, serta pendekatan medis yang dipersonalisasi bagi setiap pasien yang menjalani program In Vitro Fertilization (IVF).
Salah satu inovasi utama dalam edukasi layanan IVF modern ini adalah pemanfaatan teknologi AI dalam proses seleksi embrio. Selama ini, penilaian kualitas embrio umumnya dilakukan secara konvensional melalui pengamatan bentuk fisik dan tingkat perkembangan dengan sistem grading (morfologi).
Namun, evaluasi morfologi visual semata tidak selalu cukup mendalam untuk menggambarkan potensi biologis embrio dalam berkembang menjadi kehamilan yang sehat.
Dalam keterangan melalui siaran persnya pada Jumat (21/8) lalu dr. M. Aerul Chakra Alibasya, Sp.OG, Subsp.FER, MIGS, Head of Blastula IVF Siloam Sriwijaya mengatakan dengan menggunakan AI, kecanggihan ini dapat memprioritaskan embrio mana yang terbaik untuk ditransfer pertama sehingga nantinya dapat meningkatkan angka keberhasilan.
Teknologi inovatif tersebut dipadukan dengan pemanfaatan time-lapse incubator. Melalui perangkat ini, perkembangan embrio dapat dipantau secara langsung dan kontinu, mencakup pola serta rentang waktu perubahan perkembangannya (morfokinetik).
Data pemantauan morfokinetik tersebut kemudian dianalisis dengan bantuan algoritma AI untuk mendukung efisiensi seleksi dan menentukan prioritas embrio terbaik yang siap ditransfer.
Menjelaskan lebih lanjut mengenai mekanisme analisis berbasis data tersebut, dr. Chakra menambahkan, “Dengan AI itu akan muncul scoring system, prediksi dari AI berdasarkan morfokinetik dan morfologi selama perkembangan embrio, score yang kemungkinan besar akan menjadi implan dan bakal jadi baby.”
Selain optimasi seleksi embrio, edukasi mengenai standar keselamatan laboratorium juga menjadi fokus perhatian utama. Blastula IVF Siloam Sriwijaya menerapkan sistem keselamatan electronic witnessing berbasis MIRI® Evidence, yang memanfaatkan teknologi identifikasi RFID dan kode data matriks untuk memverifikasi identitas serta mendokumentasikan seluruh perjalanan embrio sepanjang proses laboratorium.
Inovasi ini memberikan peringatan otomatis jika terjadi ketidaksesuaian identitas, sehingga meminimalkan risiko kesalahan identifikasi atau baby mix-up. Penerapannya mencakup tahap fertilisasi, kultur dan seleksi embrio, pembekuan (kriopreservasi), pencairan, hingga transfer embrio ke pasien.
Terkait pentingnya jaminan keamanan prosedur laboratorium ini, dr. Chakra menegaskan, “Setiap tahapan IVF harus dapat ditelusuri dengan baik. Tujuan akhirnya adalah memberikan rasa trust kepada pasien bahwa embrio mereka ditangani secara tepat sepanjang proses IVF.”
Strategi IVF yang dipersonalisasi juga mencakup pengembangan embrio hingga mencapai tahap blastokista sebelum prosedur transfer dilakukan, yang memberi kesempatan bagi embrio untuk berkembang lebih matang sebelum diseleksi. dr. Chakra menyampaikan pandangan edukatifnya mengenai pendekatan terapi modern.
“IVF modern bukan hanya tentang memiliki teknologi terbaru. adalah bagaimana kita dapat membantu pasien mendapatkan take-home baby secara efektif, mengurangi beban fisik dan psikologis, serta menghindari prosedur yang tidak diperlukan," sebutnya.
Meski inovasi teknologi canggih sangat mendukung proses IVF, kondisi klinis setiap pasien pada dasarnya berbeda-beda, termasuk faktor usia, jumlah dan kualitas sel telur, cadangan ovarium, hingga kondisi medis lainnya.
Mengenai hal ini, dr. Chakra menekankan pentingnya komunikasi yang jelas dan edukatif. “Yang paling penting adalah transparansi. Kita ingin membantu pasien tetap memiliki harapan, tetapi dengan ekspektasi yang realistis.”
AI mendukung presisi seleksi embrio, electronic witnessing memperkuat sistem keamanan proses, sementara kualitas laboratorium, quality control yang ketat, pengalaman tim medis, dan strategi personal tetap menjadi fondasi utama dalam memberikan layanan terbaik bagi pasien.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

