Ketika mendengar nama Thailand, Bangkok, Phuket, atau Chiang Mai mungkin menjadi beberapa tempat pertama yang muncul dalam benak wisatawan. Namun, di bagian selatan Thailand, "Songkhla" menawarkan cerita yang berbeda.
Di kota ini, jejak pertemuan berbagai masyarakat dapat ditemukan dalam arsitektur, makanan, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari. Pengaruh Thai, Tionghoa, dan Melayu telah menjadi bagian dari identitas Songkhla yang berkembang melalui sejarah panjang interaksi antarmasyarakat.
Bagi grup Thaitan1c, yang merupakan mahasiswa IPB University dan sedang menjalankan program KKN Internasional di Songkhla, keberadaan di kota ini memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar mengunjungi tempat baru.
Kami datang dari Indonesia dengan bahasa dan kebiasaan yang berbeda. Di Songkhla, kami kemudian belajar bahwa mengenal sebuah tempat tidak selalu cukup dilakukan dengan melihat destinasi wisatanya. Sebagian cerita justru ditemukan melalui interaksi dengan masyarakat dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Melihat Sejarah di Balik Kota Tua
Salah satu ruang yang memperlihatkan perjalanan budaya Songkhla adalah Songkhla Old Town. Kawasan yang berada di sekitarNakhon Nok, Nakhon Nai, dan Nang Ngam Road ini mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari perkembangan Songkhla sebagai kawasan perdagangan.
Arsitekturnya memperlihatkan lapisan sejarah tersebut. Pengaruh Tionghoa dan Eropa berpadu dengan karakter lokal Thailand Selatan, sementara aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat terus berkembang di sekitarnya.
Namun, Songkhla Old Town bukan ruang yang berhenti pada masa lalu. Bangunan lama kini berdampingan dengan toko, tempat makan, ruang kreatif, dan berbagai aktivitas masyarakat. Sejarah tetap terlihat, tetapi kehidupan baru terus berlangsung di dalamnya.
Tourism Authority of Thailand sendiri menggambarkan Songkhla sebagai melting pot masyarakat Thai, Tionghoa, dan Melayu. Pengaruh tersebut tercermin dalam tradisi, dialek, kesenian, arsitektur, dan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Berjalan di kota tua dengan demikian menjadi pengalaman membaca sejarah melalui ruang yang masih digunakan.
Mengenal Kota melalui Makanan
Jika arsitektur memperlihatkan pertemuan budaya melalui ruang, makanan memperlihatkannya melalui rasa. Tradisi kuliner Songkhla berkembang dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Pengaruh berbagai kebudayaan dapat ditemukan dalam perkembangan makanan dan praktik gastronomi di kota ini.
Kekayaan tersebut mendapat pengakuan internasional ketika Songkhla ditetapkan sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network dalam bidang Gastronomy pada 2025.
UNESCO mencatat bahwa gastronomi Songkhla menggabungkan pengaruh Thai, Tionghoa, India, dan Jawa. Kekayaan tersebut juga tidak terlepas dari sumber daya alam Songkhla Lake yang menjadi salah satu basis penting bagi gastronomi lokal.
Dengan kata lain, makanan di Songkhla tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga menceritakan perjalanan sebuah masyarakat.
Sebuah hidangan dapat mempertemukan bahan lokal dengan teknik memasak yang berkembang dari kebudayaan berbeda. Sebuah warung dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat lokal dengan pendatang. Dan sebuah meja makan dapat menjadi ruang percakapan antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Bagi wisatawan, pengalaman semacam ini membuat makanan menjadi lebih dari sekadar bagian dari perjalanan.
Datang sebagai Tamu dan Pulang Membawa Banyak Kenangan
Pengalaman tersebut menjadi lebih nyata ketika kami menjalankan KKN Internasional di Songkhla. Sebagai grup Thaitan1c, kami berada di lingkungan yang memiliki bahasa dan kebiasaan berbeda dari Indonesia. Perbedaan tersebut terkadang membuat komunikasi tidak berjalan semudah yang dibayangkan.
Namun, hambatan bahasa justru membuat kami lebih sadar bahwa komunikasi tidak hanya bergantung pada kata-kata. Ekspresi, gestur, makanan, kebiasaan, hingga rasa ingin tahu menjadi bagian dari cara kami berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Pada saat yang sama, kami membawa sesuatu dari Indonesia. Cerita tentang kehidupan sehari-hari, kebiasaan, makanan, dan pengalaman sebagai mahasiswa menjadi bagian dari percakapan ketika kami berinteraksi dengan masyarakat setempat. Tidak ada satu pihak yang sepenuhnya menjadi pemberi dan pihak lain sebagai penerima.
Kami belajar mengenai Songkhla, sementara kehadiran kami juga menjadi kesempatan bagi orang lain untuk mengenal Indonesia. Pertukaran tersebut berlangsung dalam bentuk yang sederhana dan sering kali tidak direncanakan.
Sebuah percakapan dapat memperkenalkan kebiasaan baru. Sebuah makanan dapat membuka pembicaraan tentang asal-usulnya. Bahkan perbedaan bahasa dapat menjadi alasan bagi dua orang untuk mencari cara lain agar dapat saling memahami. Di situlah pengalaman lintas budaya berlangsung secara nyata.
Kota yang Selalu Menceritakan Dirinya
Pertemuan antara masa lalu dan masa kini juga dapat dilihat melalui perkembangan ruang kreatif di Songkhla Old Town. Pada 24-26 Juli 2026, kawasan kota tua tersebut menjadi lokasi Singorama Art Fest 2026 dengan tema “Continuity”.
Festival seni kontemporer tersebut menghadirkan berbagai kegiatan seni dan mempertemukan pelaku kreatif dengan ruang serta komunitas di kawasan kota tua.
Tema “Continuity” menjadi relevan bagi sebuah kota yang memiliki warisan budaya panjang. Mempertahankan budaya tidak selalu berarti membiarkannya tetap dalam bentuk lama. Budaya dapat terus hidup ketika generasi baru menemukan cara untuk menceritakan kembali sejarah dan menghubungkannya dengan kehidupan masa kini.
Di Songkhla, ruang kota tua tidak hanya menjadi pengingat masa lalu. Songkhla juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membicarakan kembali identitas kotanya.
Sebuah Pariwisata yang Bermula dari Perjumpaan
Pengalaman tersebut membuat kami melihat pariwisata dari sisi yang berbeda. Daya tarik sebuah kota tidak hanya terletak pada berapa banyak tempat yang dapat dikunjungi.
Pengalaman wisata juga terbentuk dari orang-orang yang ditemui, makanan yang dicicipi, cerita yang didengar, dan kebiasaan yang dipelajari.
Songkhla memiliki modal untuk menciptakan pengalaman tersebut. Sejarahnya sebagai kawasan perdagangan, keberagaman masyarakat, kekayaan kuliner, Songkhla Old Town, serta kehidupan seni dan komunitas membentuk sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan tempat untuk dilihat, tetapi juga pengalaman untuk dipahami.
Bagi wisatawan dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perjalanan ke Songkhla juga membuka ruang perjumpaan yang lebih dekat secara geografis sekaligus beragam secara budaya. Wisatawan datang membawa latar belakangnya sendiri.
Masyarakat lokal memiliki cerita mereka sendiri. Ketika keduanya bertemu, pengalaman wisata tidak lagi berjalan satu arah.
Pada akhirnya, Songkhla bukan hanya tentang kota tua, kuliner, seni, atau tempat-tempat yang dapat dikunjungi. Setiap cerita manusia di balik semua itu, semakin membuat Songkhla terasa menarik.
Sejarah perdagangan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar. Pertemuan tersebut kemudian meninggalkan jejak dalam arsitektur, makanan, tradisi, dan kehidupan kota.
Kini, pertemuan itu terus berlangsung melalui wisatawan, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat yang datang dari berbagai tempat.
Bagi grup Thaitan1c, berada di Songkhla menjadi kesempatan untuk memahami bahwa pertukaran budaya tidak selalu membutuhkan agenda besar. Pertukaran budaya dapat dimulai dari percakapan sederhana. Dari rasa ingin tahu. Dari keberanian untuk bertanya dan mendengarkan.
Kami datang ke Songkhla membawa cerita dari Indonesia. Namun, kami juga pulang membawa cerita tentang Songkhla, tentang sebuah kota yang dibentuk oleh pertemuan dan terus menemukan cara untuk menjaga cerita tersebut tetap hidup.
Mungkin, pengalaman itulah yang membuat sebuah perjalanan lebih dari sekadar perjalanan. Bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang manusia yang ditemui dan pemahaman baru yang dibawa pulang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


