82 persen tukang becak yogyakarta berpendapatan di bawah rp50000 sehari ini solusi dari riset ilmiah - News | Good News From Indonesia 2026

82 Persen Tukang Becak Yogyakarta Berpendapatan di Bawah Rp50.000 Sehari, Ini Solusi dari Riset Ilmiah

82 Persen Tukang Becak Yogyakarta Berpendapatan di Bawah Rp50.000 Sehari, Ini Solusi dari Riset Ilmiah
images info

PIC by Mufid Majnun | Unsplash.com


Kawan GNFI, di balik senyum ramah dan sapaan hangat para pengemudi becak yang menyambut wisatawan di Malioboro, ada realita ekonomi yang cukup berat untuk dijalani. Kondisi ini terungkap dari riset berjudul "Pergerakan Becak Tradisional dalam Mendukung Pariwisata di Kota Yogyakarta" yang ditulis oleh Rian Desiana, Andi Fajar Iscahyono, dan Imam Prabowo Kusmantoro, dan dipublikasikan pada tahun 2025 dalam jurnal RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil terbitan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

Penelitian ini mengungkap potret sosial-ekonomi para pengemudi becak Yogyakarta secara mendalam, sekaligus merumuskan strategi konkret agar profesi yang sudah puluhan tahun mereka jalani ini bisa terus bertahan.

Profesi yang Dijalani Puluhan Tahun, namun Penuh Ketidakpastian

Penelitian yang melibatkan survei terhadap 100 pengemudi becak ini mengungkap fakta yang mengharukan sekaligus menggambarkan tantangan berat yang mereka hadapi.

Sebanyak 54 persen pengemudi becak telah menjalani profesi ini selama lebih dari 30 tahun, sebuah dedikasi luar biasa yang jarang ditemukan di sektor pekerjaan manapun di era modern ini.

Namun dedikasi panjang ini berbanding terbalik dengan jaminan penghasilan yang layak. Ketika kondisi sepi wisatawan, sebanyak 82 persen responden mengaku berpendapatan kurang dari Rp50.000 per hari.

Bayangkan, Kawan: dengan penghasilan sekecil itu, para pengemudi becak, yang mayoritas berusia 51 hingga 60 tahun, harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

baca juga

Ketimpangan Pendapatan antara Musim Ramai dan Sepi

Kondisi ini jauh berbeda ketika musim ramai wisatawan tiba. Data penelitian menunjukkan bahwa saat ramai wisatawan, pendapatan pengemudi becak terdistribusi jauh lebih merata, dengan 28 persen responden bahkan mampu memperoleh lebih dari Rp100.000 per hari.

Namun ketimpangan yang sangat lebar antara musim ramai dan sepi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi yang terus-menerus dialami para pengemudi becak sepanjang tahun.

Ketimpangan pendapatan semacam ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat sebagian besar pengemudi becak menggantungkan hidup sepenuhnya pada profesi ini tanpa memiliki sumber pendapatan alternatif yang stabil.

Mayoritas Becak adalah Milik Pribadi, Bukan Sewaan

Kawan GNFI, salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah status kepemilikan becak yang mereka operasikan. Mayoritas status kepemilikan becak yang digunakan merupakan milik pribadi, tercatat sebanyak 66 persen, sementara sisanya menyewa secara harian atau dalam jangka waktu tertentu.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi becak telah berinvestasi langsung pada alat kerja mereka sendiri, sebuah komitmen jangka panjang terhadap profesi ini, meski penghasilan yang diperoleh belum tentu sepadan dengan investasi dan waktu yang telah mereka curahkan selama puluhan tahun.

Strategi Menjaring Pelanggan: Dari Cara Tradisional hingga Media Sosial

Yang mengejutkan, penelitian ini juga menemukan bahwa para pengemudi becak, meski mayoritas berusia lanjut, ternyata sudah cukup adaptif terhadap perubahan zaman dalam mencari nafkah. Pengemudi becak memiliki beberapa cara tersendiri untuk dapat menjaring pelanggan, dari mulai cara konvensional hingga non-konvensional.

Cara konvensional tentu saja dengan mangkal atau menunggu penumpang di titik-titik strategis seperti hotel, mall, dan toko cenderamata. Namun menariknya, sebagian pengemudi becak sudah mulai menjaring pelanggan dengan media sosial, membentuk komunitas becak secara virtual, hingga membentuk jejaring dengan pelaku bisnis wisata lainnya.

Adaptasi ini membuktikan bahwa meski usia rata-rata mereka sudah tidak muda lagi, semangat untuk terus relevan dengan perkembangan zaman tetap tinggi.

Analisis SWOT: Peta Jalan Menuju Keberlanjutan

Untuk merumuskan strategi keberlanjutan yang komprehensif, penelitian ini menggunakan analisis SWOT yang mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi becak tradisional Yogyakarta secara sistematis.

Dari sisi kekuatan, penelitian mengidentifikasi pengalaman pengemudi becak yang sudah di atas 30 tahun, status kepemilikan pribadi becak, moda yang tidak menghasilkan polusi udara, serta budaya keramahan masyarakat Yogyakarta yang juga dimiliki para pengemudi becak.

Namun di sisi lain, kelemahan yang teridentifikasi cukup serius: belum adanya jalur khusus becak, rendahnya partisipasi dalam paguyuban, usia pengemudi yang mayoritas sudah lanjut, serta kualitas keamanan yang dinilai belum maksimal.

baca juga

Peluang Besar dari Status Yogyakarta sebagai Kota Wisata

Kawan, di sisi peluang, penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor yang sangat menjanjikan. Yogyakarta sebagai kota wisata yang sudah banyak dikenal wisatawan lokal maupun mancanegara menjadi modal utama, ditambah dengan adanya kebijakan yang mendukung pelestarian becak tradisional, serta dukungan pendanaan dari APBD Provinsi maupun APBD Kota Yogyakarta dan Dana Keistimewaan.

Berdasarkan analisis ini, penelitian merekomendasikan strategi konkret seperti mengembangkan lebih banyak rute becak tradisional menuju daerah-daerah pariwisata, melakukan promosi yang lebih bervariatif, serta meningkatkan jaringan sosial eksternal dengan para pelaku usaha di sekitar kawasan wisata untuk mendongkrak pendapatan para pengemudi.

Ancaman Nyata dari Becak Motor dan Transportasi Online

Namun tidak bisa dipungkiri, ada ancaman nyata yang mengintai keberlangsungan becak tradisional. Meningkatnya becak motor yang dapat menjangkau berbagai lokasi, serta terdapatnya transportasi online sebagai alternatif moda paratransit yang dipilih wisatawan, menjadi tantangan yang harus dihadapi becak tradisional yang notabene lebih lambat dan terbatas jangkauannya.

Untuk mengatasi ancaman ini, penelitian merekomendasikan pengembangan inovasi becak tradisional seperti becak listrik, sekaligus perumusan standar keamanan dan keselamatan yang lebih baik, termasuk pelatihan cara mengemudi dan pemberian penghargaan bagi pengemudi yang taat terhadap standar keselamatan seperti penggantian ban secara berkala.

Kawan GNFI, di balik setiap angka statistik dalam penelitian ini, tersimpan kehidupan nyata puluhan ribu keluarga yang menggantungkan hidup dari mengayuh becak setiap harinya.

Mereka bukan sekadar objek nostalgia bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman tradisional Yogyakarta, melainkan pekerja keras yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk profesi ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.