Kawan GNFI, ada pemandangan yang mungkin sudah jarang Kawan sadari keberadaannya setiap kali berkunjung ke Malioboro: becak tradisional yang perlahan mengayuh di antara hiruk pikuk wisatawan dan kendaraan bermotor.
Di balik pemandangan yang terkesan romantis itu, tersimpan angka yang cukup mengkhawatirkan, sekaligus perjuangan nyata untuk mempertahankan salah satu ikon transportasi Kota Yogyakarta ini.
Kabar ini terungkap dari riset berjudul "Pergerakan Becak Tradisional dalam Mendukung Pariwisata di Kota Yogyakarta" yang ditulis oleh Rian Desiana, Andi Fajar Iscahyono, dan Imam Prabowo Kusmantoro. Makalah iniĀ dipublikasikan pada tahun 2025 dalam jurnal RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil terbitan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.
Penurunan Drastis dalam Waktu Singkat
Penelitian ini mengungkap data yang cukup mengejutkan tentang nasib becak tradisional di Kota Gudeg. Jumlah becak tradisional terus mengalami penurunan drastis, yaitu sebanyak 8.000 unit pada tahun 2015, 5.080 unit pada tahun 2016, 3.415 unit pada tahun 2017, dan 3.325 unit pada tahun 2018.
Bayangkan, Kawan. Dalam kurun waktu hanya tiga tahun, jumlah becak tradisional di Yogyakarta menyusut lebih dari 58 persen. Angka ini menjadi alarm nyata bahwa tanpa intervensi yang tepat, ikon transportasi khas Yogyakarta ini bisa benar-benar hilang dari peredaran dalam beberapa dekade ke depan.
Tak Hanya Nostalgia, tapi Mata Pencaharian Nyata
Penurunan jumlah becak ini bukan sekadar soal berkurangnya elemen nostalgia bagi wisatawan. Di baliknya, ada ribuan pengemudi becak yang menggantungkan hidup dari profesi yang telah mereka jalani puluhan tahun.
Penelitian ini menyoroti bahwa mayoritas pengemudi becak berusia lanjut dan tidak memiliki sumber pendapatan alternatif yang stabil, sehingga penyusutan populasi becak berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.
Kawan, ada beberapa faktor yang mendorong tergerusnya eksistensi becak tradisional ini. Meningkatnya keberadaan becak motor yang dapat menjangkau berbagai lokasi dengan lebih cepat, serta hadirnya transportasi online sebagai alternatif moda paratransit yang lebih diminati wisatawan, menjadi tantangan nyata bagi becak tradisional yang notabene lebih lambat dan terbatas jangkauannya.
Strategi Konkret untuk Menyelamatkan Becak Tradisional
Namun, penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi masalah semata. Melalui analisis SWOT yang komprehensif, tim peneliti merumuskan sejumlah strategi keberlanjutan yang bisa ditempuh.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain mengembangkan lebih banyak rute becak tradisional menuju daerah-daerah pariwisata, melakukan promosi yang lebih bervariatif, serta memperkuat jaringan sosial eksternal dengan para pelaku usaha di sekitar kawasan wisata untuk mendongkrak minat penggunaan becak.
Untuk mengatasi ancaman dari becak motor dan transportasi online, penelitian ini juga merekomendasikan pengembangan inovasi seperti becak listrik, sekaligus perumusan standar keamanan dan keselamatan yang lebih baik, termasuk pelatihan cara mengemudi dan pemberian penghargaan bagi pengemudi yang taat terhadap standar keselamatan.
Peluang dari Status Yogyakarta sebagai Kota Wisata
Kawan GNFI, di tengah tantangan ini, penelitian juga mengidentifikasi peluang besar yang bisa dimanfaatkan. Status Yogyakarta sebagai kota wisata yang sudah dikenal luas oleh wisatawan lokal maupun mancanegara menjadi modal utama, ditambah dengan adanya kebijakan yang mendukung pelestarian becak tradisional, serta dukungan pendanaan dari APBD Provinsi maupun APBD Kota Yogyakarta dan Dana Keistimewaan.
Angka penyusutan dari 8.000 menjadi 3.325 unit ini pada akhirnya bukan sekadar statistik yang perlu diratapi, melainkan panggilan untuk bertindak.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas pengemudi becak, dan pelaku usaha pariwisata, becak tradisional Yogyakarta masih punya peluang besar untuk terus mengayuh, tidak hanya sebagai objek nostalgia, tetapi sebagai bagian hidup dari identitas budaya kota ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


