Menjadi mahasiswa sering kali dipahami sebagai fase untuk mengejar prestasi akademik, menyelesaikan berbagai tugas, dan mempersiapkan diri menuju dunia kerja. Namun, di balik proses tersebut, ada berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat.
Tugas yang menumpuk, revisi skripsi, jadwal organisasi yang beririsan dengan perkuliahan, persoalan finansial, hingga kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi tekanan tersendiri bagi mahasiswa. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk menghadapi kesulitan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencapai keberhasilan.
Kawan GNFI mungkin pernah berada dalam situasi ketika satu persoalan akademik belum selesai, tetapi persoalan lain sudah datang. Ketika itu terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menyelesaikan tugas, melainkan bagaimana tetap mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bergerak ketika berada di bawah tekanan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres akademik berkaitan dengan kondisi psikologis mahasiswa, sementara resiliensi menjadi salah satu kemampuan yang berperan dalam menghadapi tekanan tersebut. Penelitian terhadap mahasiswa perguruan tinggi juga menunjukkan adanya keterkaitan antara resiliensi dan stres akademik.
Mengenal Adversity Quotient sebagai Kemampuan Menghadapi Kesulitan
Selain IQ dan EQ yang lebih dahulu dikenal luas, terdapat konsep Adversity Quotient (AQ) yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz melalui bukunya Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities pada 1997. Konsep ini membahas bagaimana seseorang merespons dan menghadapi kesulitan, termasuk mengapa sebagian orang mampu bertahan ketika menghadapi hambatan, sementara yang lain memilih menyerah.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa, konsep tersebut menjadi menarik karena tantangan akademik tidak selalu dapat dihilangkan. Mahasiswa tetap akan menghadapi ujian, tugas, kegagalan, penolakan, revisi, maupun berbagai ketidakpastian selama menjalani pendidikan.
Karena itu, selain mencari cara untuk mengurangi tekanan, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk merespons kesulitan secara lebih adaptif.
Berangkat dari pemikiran tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) ARISE dari Universitas Pendidikan Indonesia mengembangkan ARISE (Adversity Quotient Based-Interventions), sebuah modul intervensi yang dirancang untuk meningkatkan academic resilience sebagai upaya mengatasi stres akademik mahasiswa.
Dari Konsep Menjadi Pengalaman Intervensi
ARISE melibatkan 34 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Bandung. Rangkaian intervensi dilaksanakan dalam tiga sesi dengan aktivitas yang dirancang secara bertahap.
Partisipan terlebih dahulu mengikuti profiling dan pre-test untuk memperoleh gambaran kondisi awal. Setelah itu, mereka diajak melakukan refleksi melalui self-journaling, mempelajari konsep Adversity Quotient, berdiskusi bersama mentor, serta mempraktikkan metode L.E.A.D. (Listen, Explore, Analyze, Do).
Pada tahap Listen, partisipan diajak mengenali apa yang sedang mereka rasakan dan alami. Kemudian, tahap Explore membantu mereka menelusuri berbagai hal yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Tahap berikutnya, Analyze, mengajak partisipan mempertimbangkan pilihan dan alternatif yang mungkin dilakukan. Sementara itu, Do menjadi tahap untuk menerjemahkan hasil refleksi menjadi tindakan nyata.
Metode tersebut dirancang agar konsep yang diperoleh partisipan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat digunakan sebagai kerangka sederhana ketika mereka menghadapi situasi sulit dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Mahasiswa Mulai Mengenali Cara Mereka Menghadapi Tekanan
Bagi sebagian partisipan, pengenalan terhadap Adversity Quotient menjadi pengalaman baru.
Salah seorang partisipan mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti program, ia belum banyak mengeksplorasi konsep yang berkaitan dengan kemampuan menghadapi kesulitan. Setelah mengikuti pematerian dan diskusi, ia menjadi lebih sadar terhadap pentingnya memahami kondisi diri ketika menghadapi persoalan.
partisipan lainnya bahkan mengaku bahwa ia mengikuti program ARISE ketika sedang mengalami tekanan akademik dan nonakademik. Ia menilai metode L.E.A.D. memberikan langkah yang sederhana untuk mengenali persoalan, memahami penyebabnya, mempertimbangkan solusi, kemudian mengambil tindakan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari ARISE. Sebab, membangun academic resilience bukan semata-mata tentang mengajarkan mahasiswa untuk selalu kuat.
Sebaliknya, mahasiswa perlu memiliki ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan, memahami apa yang terjadi, dan menentukan langkah yang realistis.
Membangun Mahasiswa yang Tidak Hanya Mampu Berprestasi
ARISE dikembangkan di bawah bimbingan Prof. Dr. Siti Nurbayani K., S.Pd., M.Si. serta pendampingan Sitti Chotidjah, S.Psi., M.A., Psikolog Klinis.


Melalui program ini, tim berupaya memperkenalkan perspektif bahwa kemampuan menghadapi kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan akademik mahasiswa.
Ke depan, tim ARISE juga berencana menyusun policy brief berdasarkan hasil penelitian untuk disampaikan kepada pemangku kepentingan yang relevan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendorong penguatan pendampingan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
Kawan, perjalanan kuliah tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika rencana berhasil, tetapi ada pula saat ketika kegagalan, tekanan, dan ketidakpastian datang bersamaan.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang dapat diraih. Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting: bagaimana seseorang merespons ketika menghadapi kesulitan, mengambil pelajaran darinya, lalu kembali melangkah.
Dan di situlah kemampuan menghadapi kesulitan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju ketangguhan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


