Ada satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepala Nabila Nur Amalina atau yang kerap disapa sebagai Lola. Kalimat itu bukan datang dari artis favoritnya atau sebuah buku motivasi, tapi dari refleksinya sendiri setelah melalui kegiatan sukarelawan di Korea Selatan.
"Kalau kamu nggak punya empati, kamu nggak akan bisa mempengaruhi dunia. Kamu cuma akan jadi orang ignorant," ujar Lola dalam wawancara.
Kalimat sederhana ini menjadi fokus utama dari perjalanan Lola sebagai Exchange Participant di kegiatan Global Volunteer, lebih tepatnya di program Play in English. Di sana, Lola diberi kesempatan untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak di Hyochang Comprehensive Social Welfare Center, Seoul.
Lola tertarik untuk melaksanakan kegiatan sukarelawan dengan alasan yang sederhana, yakni ingin merasakan pengalaman yang sama seperti temannya, sekaligus mengambil kesempatan untuk berkontribusi di program yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 yang berfokus di bidang pendidikan.
Namun, semakin ia menjalani aktivitas di sana, semakin ia sadar bahwa empati adalah benang merah dari hampir semua pengalamannya selama di Korea Selatan.
Empati ini pertama kali Lola praktikkan sendiri, ketika ia sedang memikirkan cara untuk mendekati murid-muridnya. Alih-alih memaksakan metode pembelajaran yang formal dan kaku, Lola berusaha memahami terlebih dulu apa yang membuat murid-muridnya merasa tidak antusias selama di kelas.
Dari situ, Lola dan rekan satu timnya pada akhirnya menciptakan sistem penghargaan sederhana berupa stiker atau camilan untuk murid-murid yang aktif di kelas dan terbukti efektif untuk menarik antusiasme murid-murid.
Selain itu, bentuk empati juga sempat terlihat ketika Lola memilih untuk mempelajari beberapa kosakata bahasa Korea, bukan karena diwajibkan oleh siapapun, melainkan untuk membuat murid-muridnya merasa lebih nyaman saat ingin berkomunikasi dengannya.
Dua langkah kecil itu sebenarnya adalah bentuk empati yang paling mendasar, yakni dengan berusaha memahami dari sudut pandang orang lain, kemudian berusaha menyesuaikan diri untuk kenyamanan bersama.
Namun sayangnya, tidak semua orang yang Lola temui menunjukkan kepedulian yang sama.
Dalam satu tim sukarelawan yang berasal dari berbagai negara, Lola dihadapkan dengan rekan satu tim asal Australia yang menurutnya kurang menunjukkan empati. Menurutnya, gaya kerja rekan tersebut sangat berbeda dari orang-orang yang biasa ia temui di Indonesia.
Sukarelawan asal Australia tersebut terbiasa memimpin tim dengan cara yang kurang mengenakkan, sesuatu yang menurut Lola bertentangan dengan cara kerja sama yang ia kenal dari Indonesia.
Tak hanya itu, culture shock terbesar justru datang dari fenomena lain. Suatu ketika, ada rekan satu tim Lola yang terjatuh. Dengan berada di sekitar orang yang terjatuh itu, rekan asal Australia tersebut hanya bertanya singkat, "Are you okay?", tanpa benar-benar berniat untuk menolong.
Momen kecil ini menjadi titik balik bagi Lola untuk memahami bahwa empati tidak selalu datang secara alami seperti yang kebanyakan dari kita pikirkan.
Berbanding terbalik dari pengalaman itu, muncul momen paling genting selama Lola berada di Korea Selatan.
Saat itu, Lola harus dilarikan ke UGD di tengah malam. Di situ, Lola mengaku panik karena tidak tahu harus menghubungi siapa, terlebih ketika ia sedang berada di negeri orang. Namun, justru di saat itulah empati dari orang-orang di sekitarnya benar-benar diuji.
Salah satu Vice President dari Local Committee di Seoul langsung mendampingi Lola ke rumah sakit hingga semua perawatannya selesai. Selain itu, ada pula Ferrel, salah satu penanggung jawab dari AIESEC in UNS, yang menurutnya selalu sigap dalam membantunya.
"Aku bener-bener berterima kasih bisa dikelilingi orang-orang baik," ujar Lola.
Bagi Lola, dua pengalaman yang bertolak belakang ini justru mengajarkannya satu hal penting, bahwa empati bukan sekadar soft skill tambahan, melainkan fondasi dari setiap interaksi yang hendak kita bangun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


