Di Kabupaten Tuban, ada pantai yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kota ini.
Pantai Boom, yang terletak di Kelurahan Kutorejo tepat di sebelah utara Alun-Alun Tuban, dulunya adalah pelabuhan utama yang menjadi jalur perdagangan, pelayaran, dan perlintasan di masa kejayaan Kerajaan Singasari dan Majapahit.
Di sini pula, Adipati Ronggolawe dan pasukannya pernah menyerbu tentara Mongol yang mencoba menyerang Singasari, sebuah peristiwa yang kini terabadikan dalam relief di gerbang masuk pantai.
Luasnya sekitar 2,2 hektar, dilengkapi dermaga yang menjorok ke laut sepanjang 800 meter, pohon cemara yang memberikan keteduhan di tepi pantai berbatu, dan berbagai wahana bermain untuk anak-anak.
Pantai Boom adalah pilihan yang tepat bagi Kawan GNFI yang ingin menggabungkan wisata sejarah dan rekreasi keluarga dalam satu kunjungan di Tuban, terutama jika sudah selesai berziarah ke Makam Sunan Bonang yang berada tidak jauh dari sana.
Sekilas Mengenai Pantai Boom
Nama "Boom" mengacu pada fungsi historis kawasan ini sebagai pelabuhan atau boompunt, istilah Belanda untuk tanjung atau ujung dermaga.
Pantai ini memang secara geografis adalah sebuah tanjung, yaitu bagian laut yang menjorok ke daratan, bukan pantai berpasir yang membentang lurus seperti umumnya.
Sebelum menjadi destinasi wisata seperti sekarang, kawasan ini sempat mengalami masa tidak terawat karena konflik kepemilikan antara Syahbandar Gresik dan Pemerintah Kabupaten Tuban.
Kondisi itu terus berlangsung meskipun kawasan ini punya nilai historis yang sangat tinggi.
Sekitar 1990-an, sebuah perusahaan swasta melakukan pengangkatan benda-benda bersejarah dari dasar laut di kawasan ini, termasuk guci, senjata kuno, dan keramik yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih di selatan Alun-Alun Tuban.
Setelah masalah kepemilikan diselesaikan, Pemerintah Kabupaten Tuban membenahi kawasan ini dan mengembangkannya menjadi destinasi wisata terpadu yang menggabungkan nilai sejarah dengan fasilitas rekreasi modern.
Daya Tarik Utama Pantai Boom
Memasuki gerbang Pantai Boom, pengunjung langsung disambut oleh dua relief bersejarah: di sisi kiri terdapat relief tentara Tar-Tar (Mongol) dan di sisi kanan relief Ronggolawe, menggambarkan pertempuran bersejarah yang pernah terjadi di kawasan ini.
Ini bukan sekadar dekorasi, melainkan penanda bahwa kawasan yang sedang dimasuki punya lapisan cerita yang panjang.
Dermaga sepanjang 800 meter yang menjorok ke Laut Jawa adalah salah satu titik utama Pantai Boom.
Di sore hari, dermaga ini menjadi tempat favorit untuk menikmati angin laut dan menyaksikan kapal-kapal nelayan yang berlalu-lalang di kejauhan.
Sunset dari ujung dermaga, dengan hamparan Laut Jawa yang terbuka lebar, menjadi momen yang banyak dicari pengunjung yang datang di sore hari.
Di tepi pantai yang berbatu, deretan pohon cemara memberikan keteduhan yang cukup untuk bersantai tanpa terlalu kepanasan.
Dua buah sumur air tawar dengan bangunan berarsitektur Jawa dan prasasti sejarah di dindingnya juga menjadi titik yang menarik untuk dikunjungi, memberi konteks bahwa kawasan ini sudah lama menjadi tempat persinggahan manusia bahkan sebelum masa Majapahit sekalipun.
Untuk keluarga yang membawa anak-anak, tersedia wahana bermain seperti ayunan, komedi putar, bianglala, dan perosotan, serta kolam renang khusus anak-anak.
Area memancing dengan berbagai jenis ikan laut ukuran kecil hingga sedang juga tersedia bagi pengunjung yang gemar memancing.
Beberapa spot foto dengan instalasi unik seperti sayap burung, jembatan merah, delman, dan perahu melengkapi pilihan aktivitas di kawasan ini.
Akses Menuju Pantai Boom
Pantai Boom berlokasi di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, tepat di sebelah utara Alun-Alun Tuban.
Dari alun-alun, jarak tempuhnya hanya sekitar 400 meter atau lima menit berjalan kaki ke arah utara menuju tepi Laut Jawa.
Dari Terminal Tuban, perjalanan menuju Pantai Boom bisa ditempuh menggunakan angkutan umum, ojek, atau kendaraan pribadi dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit.
Dari Surabaya, setelah tiba di Terminal Tuban menggunakan bus antarkota dengan waktu tempuh sekitar 3,5 hingga 4 jam, perjalanan ke Pantai Boom bisa dilanjutkan dengan transportasi lokal.
Area parkir kendaraan tersedia di kawasan Pantai Boom dengan kapasitas yang cukup luas untuk motor maupun mobil.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Pantai Boom buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari untuk menikmati suasana segar dan sunrise, atau sore hari mulai sekitar pukul 15.30 untuk sunset dan suasana dermaga yang lebih hidup.
Tiket masuk dikenakan Rp6.000 per orang pada hari biasa dan Rp8.000 pada akhir pekan serta hari libur nasional.
Anak-anak di bawah 10 tahun mendapat potongan Rp2.000 dari tarif yang berlaku.
Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi area parkir, toilet dan kamar mandi umum, musala, gazebo, dermaga, kolam renang anak, wahana bermain, area memancing, warung kuliner khas Tuban, dan kios suvenir.
Di sekitar kawasan juga terdapat pasar yang aktif di sore hingga malam hari.
Ayo Berkunjung ke Pantai Boom!
Pantai Boom cocok untuk Kawan GNFI yang sedang di Tuban dan ingin menghabiskan sore setelah ziarah ke Makam Sunan Bonang.
Datanglah menjelang sore, berjalan sampai ke ujung dermaga, nikmati angin laut dan sunsetnya, dan tutup kunjungan dengan jajan di pasar malam yang buka setelah sore. Selamat berkunjung ya Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


