Di balik padatnya permukiman dan hiruk-pikuk Jakarta Timur, tersimpan sejarah panjang yang membentuk identitas kawasan Duren Sawit dan Rawa Domba.
Nama-nama yang kini akrab sebagai wilayah administratif itu sesungguhnya berakar kuat dari kondisi alam serta denyut kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Sebelum menjelma menjadi kawasan padat, wilayah ini dahulu didominasi oleh lahan basah, rawa, perkebunan, dan persawahan. Kondisi alam tersebut turut menentukan kehidupan masyarakat sekaligus melahirkan nama-nama kampung yang masih digunakan hingga sekarang.
Rawa Domba: Tradisi Penamaan Kampung di Jakarta
Rawa Domba yang diyakini berasal dari kondisi wilayah yang dahulu berupa hamparan rawa luas yang dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas termasuk untuk menggembala hewan ternak, terutama domba dan kambing. Dari perpaduan antara kondisi alam berupa rawa dan aktivitas penggembalaan domba itulah nama Rawa Domba dipercaya muncul.
Pola tersebut sejalan dengan tradisi penamaan kampung di Jakarta pada masa lalu. Masyarakat tempo dulu kerap menamai suatu tempat berdasarkan sesuatu yang paling mudah dikenali di lokasi tersebut, baik kondisi alam, tumbuhan, maupun hewan yang banyak ditemukan.
Oleh karena itu, Rawa Domba memiliki pola penamaan yang serupa dengan sejumlah kawasan lain di Jakarta. Nama Rawa Buaya, misalnya, berkaitan dengan keberadaan buaya di kawasan rawa pada masa lalu, sementara Rawa Kepiting juga menunjukkan keterkaitan nama dengan hewan yang pernah menjadi ciri wilayah tersebut.
Pola serupa terlihat dalam penamaan wilayah berbasis tumbuhan. Pondok Kelapa dan Pondok Bambu mencerminkan lingkungan yang dahulu banyak ditumbuhi kelapa dan bambu.
Nama-nama tersebut menjadi semacam penanda geografis bagi masyarakat sebelum Jakarta berkembang menjadi kota metropilitan seperti sekarang.
Dari Kebun Durian dan Kelapa Sawit
Menurut catatan sejarah dan toponimi Jakarta Timur, wilayah Duren Sawit pada zaman dahulu merupakan kawasan perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon durian dan kelapa sawit. Sebagian besar lahan perkebunan tersebut dimiliki oleh orang-orang Belanda pada masa kolonial.
Dari kondisi alam inilah kemudian muncul nama Duren Sawit, gabungan dari kata "duren" yang merupakan sebutan masyarakat Betawi untuk durian, serta "sawit" yang merujuk pada pohon kelapa sawit yang tumbuh di kawasan tersebut.
Sebelum berkembang menjadi kawasan permukiman padat seperti saat ini, Duren Sawit merupakan daerah yang masih didominasi lahan hijau, kebun, rawa, serta aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Di sekitar kawasan tersebut juga tumbuh sejumlah kampung tua yang kemudian berkembang menjadi kelurahan-kelurahan di Jakarta Timur.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam melalui catatan sejarah lokal lainnya, mundul sebuah pandangan bahwa nama Duren Sawit disebut telah dikenal sebelum kelapa sawit menjadi tanaman perkebunan yang diimpor dan dikembangkan secara luas di Hindia Belanda.
Berdasarkan fakta lini masa tersebut, ada pandangan bahwa nama "Doeren Sawit" sebenarnya dibawa oleh para migran asal Desa Duren Sawit di Pati, Jawa Tengah, yang kemudian membangun pemukiman di pedalaman Batavia.
Terlepas dari perdebatan historis mengenai asal-usul penamaannya, jejak fisik perkembangan kawasan ini terlihat jelas dari jaringan sungai masa lalu yang menjadi urat nadi kehidupan. Sungai Cipinang mengalir menuju Sungai Sunter, sementara kanal-kanal kemudian dibangun untuk mendukung transportasi dan pengelolaan air. Di sepanjang sungai, rawa, dan jalur darat inilah kampung-kampung berkembang.
Eksistensi perkampungan ini tidak lepas dari dinamika sosial pada masa VOC, di mana penduduk dari berbagai daerah Nusantara, termasuk Jawa, direkrut dan ditempatkan di sekitar Batavia. Sebagian kemudian membangun kehidupan baru melalui pertanian dan perkampungan di kawasan pedalaman. Perkembangan tersebut ikut membentuk jaringan kampung yang kelak menjadi bagian dari Jakarta Timur.
Jejak Kampung dalam Nama Kecamatan
Kampung-kampung lama itu kemudian mengalami perubahan administratif seiring berkembangnya Jakarta. Pada 1993, Kecamatan Duren Sawit dibentuk melalui pemekaran Kecamatan Jatinegara. Wilayahnya meliputi Kelurahan Klender, Pondok Bambu, dan Duren Sawit yang sebelumnya berada di Jatinegara; Malaka Jaya, Malaka Sari, dan Pondok Kopi dari Bekasi Barat; serta Pondok Kelapa dari Pondok Gede.
Kini, sebagian besar rawa, kebun, dan persawahan tersebut telah berubah menjadi kawasan perkotaan. Meski lanskapnya tak lagi sama, nama Rawa Domba, Duren Sawit, Pondok Kelapa, dan Pondok Bambu tetap menyimpan ingatan tentang lingkungan dan masyarakat yang pernah hidup di dalamnya.
Nama-nama itu pada akhirnya bukan sekadar alamat, melainkan jejak bagaimana masyarakat masa lalu mengenali lingkungannya, mulai dari rawa tempat domba digembalakan, tanaman yang tumbuh di kebun, hingga asal-usul kelompok masyarakat yang menetap di sebuah kampung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


