Sundaland menyimpan rahasia bentang alam purba ketika seorang pengelana pada puluhan ribu tahun lalu dapat melangkahkan kaki dari Jawa menuju Sumatra hingga Kalimantan tanpa perlu menyeberangi lautan. Jauh sebelum garis pantai modern membingkai pulau-pulau di Indonesia yang Kawan GNFI kenal hari ini, kawasan barat Nusantara dipercaya adalah satu bentang daratan benua yang menyatu.
Fenomena raksasa ini bukanlah kisah fiksi tentang daratan yang bergeser atau bertabrakan secara mendadak, melainkan kenaikan permukaan laut global selama periode glasial.
Ketika lapisan es di kutub membeku dan mengunci volume air bumi, kawasan dangkal ini menjelma menjadi daratan terbuka. Lantas, bagaimana lanskap megah ini bisa ada, dan mengapa alam kemudian memecahnya menjadi pulau-pulau?
Sebelum Menjadi Kepulauan, Nusantara Pernah Memiliki Bentang Daratan yang Berbeda
Dalam kajian geologi, Sundaland atau Paparan Sunda adalah sebutan untuk perpanjangan landas kontinen Benua Asia di kawasan Asia Tenggara. Wilayah ini mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaya, serta kawasan yang kini menjadi dasar Laut Jawa dan Laut Natuna.
Istilah Sundaland menggambarkan bentang alam geologis masa lalu, bukan sebuah kerajaan, peradaban, atau wujud "Indonesia zaman dahulu".
Penggunaan kata "Sunda" di sini merujuk pada tata nama ilmiah paparan benua, bukan konteks etnisitas atau budaya modern.
Jawa, Sumatra, dan Kalimantan yang Pernah Terhubung

Sundaland Indonesia | Sumber Wikimedia Commons
Menjawab keraguan tentang apakah pulau Jawa dan Sumatra pernah menyatu, bukti paleogeografi mengonfirmasi bahwa kedua wilayah tersebut memang terhubung secara daratan ketika muka laut berada pada titik terendah.
Begitu pula saat menjawab apakah dulu Pulau Jawa dan Kalimantan menyatu; dasar Laut Jawa yang dangkal kala itu merupakan bentang lembah hijau yang dialiri alur sungai-sungai purba.
Hubungan daratan ini terjadi secara alami akibat turunnya muka air laut global hingga lebih dari 100 meter pada puncak Zaman Es, menyatukan ketiga pulau besar tersebut dalam satu ekosistem raksasa.
Ketika Es Mencair, Laut Perlahan Mengambil Kembali Daratan
Sering muncul pertanyaan, Sundaland tenggelam tahun berapa? Secara ilmiah, Sundaland tidak tenggelam secara mendadak dalam hitungan hari.
Peristiwa transgresi laut ini berlangsung bertahap selama ribuan tahun sejak berakhirnya Puncak Glasial Maksimum sekitar 18.000 hingga 6.000 tahun yang lalu.
Seiring meningkatkan suhu bumi makin panas dan mencairnya es kutub, air laut perlahan menggenangi dataran rendah Paparan Sunda, membentuk garis pantai baru seperti yang Anda saksikan saat ini.
Bukan Sekadar Daratan, Sundaland Juga Menyimpan Jejak Kehidupan
Terhubungkannya daratan luas ini menjadi kemudahan berpindah dalam sebuah kawasan atau persebaran flora, fauna, dan migrasi manusia purba di Asia Tenggara.
Spesies mamalia besar dapat berpindah melintasi kawasan yang kini terpisah samudra, meninggalkan jejak ekologis yang menjelaskan kekayaan keanekaragaman hayati Nusantara hingga hari ini.
Dari Satu Bentang Daratan Menjadi Nusantara yang Dipisahkan Laut
Laut yang hari ini memisahkan pulau-pulau kita sejatinya adalah saksi bisu dinamika alam yang terus bergerak. Memahami sejarah geologi Sundaland mengajak Kawan GNFI menyadari bahwa Nusantara terbentuk dari proses alam yang amat panjang.
Mari terus jelajahi kekayaan sejarah, geografi, dan bentang alam Indonesia bersama Good News From Indonesia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


