with great comfort comes great complacency kenapa kita takut keluar dari zona nyaman - News | Good News From Indonesia 2026

With Great Comfort Comes Great Complacency: Kenapa Kita Takut Keluar dari Zona Nyaman?

With Great Comfort Comes Great Complacency: Kenapa Kita Takut Keluar dari Zona Nyaman?
images info

AIESEC in UGM mendukung pemuda untuk meregangkan zona nyaman mereka.


You have to step out of your comfort zone.

Kalimat ini mungkin sudah tidak asing lagi. Kita sering mendengarnya sebagai dorongan untuk berkembang, berani mencoba, dan percaya bahwa diri kita sebenarnya mampu melakukan lebih banyak hal. Niatnya tentu baik, tapi masalahnya keluar dari zona nyaman tidak semudah itu.

Ada orang yang ingin mencoba hal baru, tetapi tangannya tetap diam. Ada yang ingin bicara, tetapi memilih menelan kata-katanya kembali. Ada yang ingin mendaftar, tampil, bertemu orang baru, atau mengambil kesempatan, tetapi akhirnya berkata, “Nanti sajalah”. Bukan karena mereka malas. Bukan juga karena mereka tidak punya ambisi. Kadang, mereka hanya sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu rasa takut.

Lalu, sebenarnya… kenapa kita takut keluar dari comfort zone?

Mengenal Comfort Zone

Bayangkan Kawan GNFI punya sebuah gelembung kecil. Di dalamnya ada hal-hal yang sudah kita kenal dan kita kuasai, seperti rutinitas, orang-orang terdekat, aktivitas favorit, sampai cara kita menghadapi masalah. Itulah comfort zone.

Bisa sesederhana menghabiskan waktu di rumah sambil menonton film, membaca buku, atau rebahan. Bisa juga berupa hanya berkumpul dengan teman-teman terdekat, memilih diam dalam diskusi, atau menyimpan hal-hal yang kamu sukai untuk dirimu sendiri.

Sementara di luar gelembung itu? Berbicara di depan banyak orang, presentasi, bertanya kepada orang asing, mencoba kegiatan yang belum pernah dilakukan, atau sekadar datang ke sebuah tempat sendirian dan tidak mengenal siapa pun.

Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut terasa biasa. Bagi sebagian lainnya, itu bisa terasa seperti keluar dari wilayah aman.

Dan sebenarnya, tidak ada yang salah dengan merasa nyaman. Manusia memang secara alami mencari rasa aman dan nyaman. Comfort zone bukan sesuatu yang selalu buruk. Justru, punya ruang yang membuat kita merasa aman itu penting. Hanya saja, ketika kita terlalu lama tinggal di sana kita akan cenderung stagnan.

Kita kurang peka dan kurang bisa berkembang apabila dihadapi hal-hal yang di luar batas kenyamanan. Kita bisa kehilangan kesempatan untuk belajar, bertemu orang baru, menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari, atau mengalami breakthrough dari ekspektasi.

baca juga

Penyebab Takut Keluar dari Kenyamanan

Setelah mengenal tentang comfort zone, barulah kita mencari faktor yang menyebabkan kita takut untuk keluar dari zona nyaman ini. Menurut Patel (2025), ada beberapa alasan yang sering bikin kita memilih mundur sebelum benar-benar mencoba:

Kita memang suka merasa nyaman

Let’s be honest, siapa yang tidak suka nyaman? Kita tahu apa yang akan terjadi, bagaimana harus bersikap, siapa yang akan ditemui, hingga bagaimana semuanya bekerja. Keluar dari comfort zone berarti memasuki situasi yang belum tentu bisa kita kendalikan, sementara otak manusia cenderung menyukai sesuatu yang familiar dan bisa diprediksi. Makanya, terkadang kita hanya sudah terlalu nyaman dengan sesuatu yang sudah kita kenal.

Takut pada sesuatu yang belum terjadi

Inilah salah satu alasan yang terbesar, fear of the unknown. Saat ingin mencoba sesuatu yang baru, kita cenderung overthinking. Takut gagal, takut pada reaksi orang lain, dan takut tidak konsisten. Lucunya, semua itu bahkan belum tentu terjadi. Namun, otak kita sudah sibuk membuat trailer film versi terburuknya.

Memang Kawan GNFI, manusia biasanya sering kali takut bukan terhadap apa yang benar-benar terjadi, tetapi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang kita ciptakan sendiri.

baca juga

Penundaan

Ini juga yang mungkin paling relatable. Kita terus menunda dengan 2 kata ajaib, “Nanti aja.”
Contohnya, mau berolahraga saja perlu menunggu sampaialatnya  lengkap, atau ingin memulai hal baru, ditunda sampai hari besok.

Sounds familiar? Terkadang kita terus menunggu versi diri kita yang katanya sudah siap. Masalahnya, versi itu mungkin tidak akan pernah datang kalau kita tidak mulai.

Lalu apakah kita harus langsung take a leap of faith? Nah, ini bagian yang sering salah dipahami. Ketika mendengar “step out of your comfort zone”, kita sering membayangkannya seperti harus lompat dari satu tebing ke tebing lain. Satu sisi adalah comfort. Sisi lainnya adalah kehidupan baru yang penuh kemungkinan. Dan di antara keduanya? Tidak ada apa-apa. Makanya kita takut.

Keluar dari comfort zone tidak harus berarti mengambil lompatan terbesar dalam hidupmu. Bayangkan saja kamu sedang berada di sebuah kolam. Kawan ingin belajar berenang, maka tidak perlu langsung dilempar ke tengah kolam sambil berharap tubuhmu otomatis tahu apa yang harus dilakukan.

Kawan bisa mulai dengan duduk di pinggir, menyentuhkan kaki ke air, masuk perlahan, belajar mengapung, berpegangan pada sisi kolam, mencoba beberapa meter, dan seterusnya. Apakah menjamin one shot of success? Tidak, tetapi dari kegagalan yang dialami kamu bisa berkembang.

Itulah mengapa mungkin istilah yang lebih tepat bukan stepping out of your comfort zone, tetapi stretching your comfort zone. Saat kita mulai “meregangkan” batas tersebut, kita memasuki apa yang disebut sebagai learning zone. Inilah ruang di mana kita mencoba sesuatu yang sedikit lebih menantang dari biasanya, cukup untuk membuat kita belajar dan berkembang, tetapi tidak sampai membuat kewalahan.

Dan kabar baiknya, kita tidak harus melakukan semuanya sendirian. Kadang, kita hanya butuh ruang yang tepat, orang-orang yang suportif, dan kesempatan kecil untuk mulai mencoba, and that’s where AIESEC enters the plot.

baca juga

AIESEC merupakan organisasi kepemudaan internasional yang dikelola sepenuhnya oleh anak muda. Salah satu pendekatannya adalah experiential leadership development atau belajar melalui pengalaman nyata.

Artinya, kamu tidak hanya diberi tahu bagaimana cara berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, atau memimpin, tetapi kamu mengalaminya sendiri.

Kawan bisa mulai dari hal sederhana seperti memberanikan diri menyampaikan pendapat dalam sebuah diskusi, kemudian bekerja sama dengan orang-orang yang berkarakter dan punya cara berpikir yang berbeda.

Sebagai salah satu Local Committee, AIESEC in UGM menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertemu dengan berbagai macam orang, mengambil peran, berkolaborasi dalam tim, dan terlibat langsung dalam berbagai pengalaman yang mungkin sebelumnya berada di luar zona nyaman mereka.

Dan yang terpenting, kita bisa mulai much closer to home: having the courage to lead yourself beyond what you thought you could do. Start where you are. Stretch a little further. Then grow from there.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AZ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.