Limbah Expanded Polystyrene atau EPS, yang lebih dikenal sebagai styrofoam, selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Materialnya yang ringan dan bervolume besar membuat EPS sulit dikumpulkan serta membutuhkan biaya pengangkutan yang relatif tinggi.
Namun, di balik tantangan tersebut, limbah EPS menyimpan peluang ekonomi. Material ini sebenarnya dapat didaur ulang dan diolah kembali menjadi bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri.
Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih efisien dapat mengubah limbah EPS dari material berbiaya tinggi menjadi sumber daya bernilai. Peluang ini sejalan dengan penerapan ekonomi sirkular, yaitu sistem yang mempertahankan nilai material selama mungkin melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan daur ulang.
Peluang pengembangan limbah EPS tersebut dibahas dalam seminar internasional yang mempertemukan BRIN dan TM R&C Co., Ltd. dari Republik Korea.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan nilai ekonomi EPS sangat dipengaruhi oleh efisiensi sistem pengumpulan dan pengolahannya.
“Polistirena sebenarnya dapat didaur ulang. Tantangan utamanya adalah aspek ekonomi dan logistik. EPS memiliki volume yang besar karena sebagian besar terdiri dari udara, sehingga biaya pengumpulan dan pengangkutannya dapat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai materialnya,” ujarnya.
Teknologi Menentukan Nilai Limbah EPS
Besarnya volume EPS membuat proses pengumpulan dan transportasi menjadi tidak efisien. Jika langsung diangkut dalam bentuk awal, biaya logistik dapat mengurangi nilai ekonominya.
Karena itu, teknologi berperan penting dalam meningkatkan nilai limbah EPS. Proses pengolahan yang mampu mengurangi volume, menghemat lahan, dan menekan kebutuhan tenaga kerja dapat membuat kegiatan daur ulang lebih layak secara bisnis.
CEO of TM R&C, Ahn Sang Ho, menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan perusahaannya dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan dan pengolahan EPS.
“Teknologi kami memiliki keunggulan antara lain penggunaan lahan yang optimal, efisiensi tenaga kerja yang sangat tinggi, penghematan biaya pengumpulan dan transportasi serta memberikan manfaat yang signifikan bagi lingkungan,” ungkapnya.
Efisiensi tersebut dapat menjadi faktor penting dalam membangun industri daur ulang EPS. Semakin rendah biaya operasional, semakin besar peluang material hasil daur ulang untuk bersaing dengan bahan baku baru.
Berpotensi Menjadi Bahan Baku Industri
Salah satu peluang ekonomi utama dari pengolahan EPS adalah menghasilkan bahan baku baru. Menurut Ahn, teknologi TM R&C mampu mengolah berbagai jenis limbah EPS menjadi material dengan kualitas setara virgin-grade.
Kemampuan itu membuka peluang pemanfaatan limbah EPS dalam rantai pasok industri. Material hasil daur ulang dapat digunakan kembali sebagai bahan baku sehingga mengurangi kebutuhan terhadap material baru.
“Kami hadir untuk mengubah limbah EPS menjadi sumber daya bernilai bagi Indonesia dengan menghadirkan sirkulasi sumber daya yang revolusioner serta mengurangi emisi karbon. Kami berharap dapat menjadi inovator bagi masa depan sirkular Indonesia,” ujar Ahn.
Jika dikembangkan secara konsisten, industri pengolahan EPS dapat menciptakan nilai melalui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, pengolahan, produksi material daur ulang, hingga distribusi ke pengguna akhir.
Rantai kegiatan tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha baru, terutama bagi pelaku usaha pengumpulan dan pengelolaan sampah.
Membangun Ekosistem Bisnis Daur Ulang
Potensi ekonomi EPS tidak dapat diwujudkan hanya dengan menghadirkan teknologi pengolahan. Diperlukan ekosistem yang menghubungkan sumber limbah, pengumpul, pengolah, industri pengguna, pemerintah, dan investor.
Nugroho mengatakan Indonesia memerlukan kebijakan yang mendukung pengurangan sampah dari sumbernya serta penerapan Extended Producer Responsibility atau EPR.
Melalui EPR, produsen dapat ikut bertanggung jawab atas produk dan kemasan setelah digunakan oleh konsumen. Skema tersebut berpotensi memperkuat pasokan bahan baku bagi industri daur ulang sekaligus meningkatkan kepastian bisnis.
Kepastian pasokan dan pasar merupakan dua faktor penting bagi pengembangan industri daur ulang. Tanpa pasokan limbah yang konsisten, fasilitas pengolahan akan sulit beroperasi secara optimal. Sebaliknya, tanpa pasar yang jelas, material hasil daur ulang berisiko tidak terserap.
Menjaga Nilai Ekonomi dan Keamanan Produk
Nugroho mengatakan kerja sama terkait hal ini dapat dikembangkan lebih jauh melalui riset bersama, proyek percontohan, pertukaran peneliti, pelatihan, komersialisasi, dan investasi.
Kolaborasi tersebut berpeluang mempercepat pengembangan industri daur ulang EPS di Indonesia. Proyek percontohan dapat digunakan untuk menguji kelayakan teknologi, model pengumpulan, biaya operasional, serta potensi pasar material hasil daur ulang.
Selain menghasilkan nilai ekonomi, material hasil daur ulang juga harus memenuhi standar keamanan. Produk yang dihasilkan perlu dipastikan bebas dari zat berbahaya dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Jaminan keamanan dapat meningkatkan kepercayaan industri dan konsumen terhadap material daur ulang. Kepercayaan tersebut penting untuk memperluas pasar dan mendorong penggunaan bahan baku daur ulang dalam skala lebih besar.
Pengelolaan EPS dapat menjadi peluang investasi apabila didukung teknologi, kebijakan, dan pasar yang memadai. Investasi tidak hanya dibutuhkan untuk membangun fasilitas pengolahan, tetapi juga untuk mengembangkan sistem pengumpulan dan infrastruktur logistik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

