Pertanyaan itu muncul ketika kami memasuki ruang kelas Koh Taeo Pittayasan School di Songkhla, Thailand. Di hadapan kami, mereka adalah para siswa yang akan belajar bahasa Inggris, sementara kami tidak menguasai bahasa Thailand. Situasi itu membuat kami menyadari bahwa mengajar tidak cukup hanya dengan membawa materi yang telah disiapkan. Kami harus terlebih dahulu menemukan cara untuk saling memahami.
Pengalaman tersebut berlangsung selama 4 hari, yakni pada 20—23 Juli 2026, sebagai bagian dari program KKN Tematik Internasional IPB University di Songkhla, Thailand.
Kami merupakan mahasiswa yang tergabung dalam satu grup yang bernama Thaitan1c dan di Koh Taeo Pittayasan School, kami mengajar bahasa Inggris kepada siswa kelas 4-1 dan 4-2.
Mulai Dari Apa yang Sudah Diketahui Siswa
Kami tidak langsung memulai pembelajaran dengan materi yang lebih kompleks. Langkah pertama justru digunakan untuk mengenali kemampuan siswa. Mereka diajak mengeja alfabet, membaca dan menyebutkan kosakata, mengeja nama, serta mencoba percakapan sederhana.
Dari aktivitas tersebut, kami mengamati bagaimana siswa memahami instruksi dan kemampuan bahasa Inggris yang telah mereka miliki.
Cara tersebut membantu kami menentukan titik awal pembelajaran. Materi yang diberikan kemudian berkembang secara bertahap, mulai dari penyusunan kalimat sederhana, penggunaan kata tanya, penyebutan waktu, arah jalan, hingga percakapan pendek.
Dengan kondisi kelas yang berbeda dari yang kami hadapi sebelumnya, rencana pembelajaran tidak bisa menjadi sesuatu yang sepenuhnya kaku. Respons siswa menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan langkah berikutnya.
“Awalnya kami cukup bingung karena tidak ada siswa yang bisa membantu menerjemahkan. Kami juga tidak bisa bahasa Thailand, jadi kami harus mencari tahu dulu bagaimana cara mereka memahami bahasa Inggris,” ujar salah seorang anggota grup Thaitan1c.
Dari sana, proses mengajar berubah menjadi proses membaca kelas. Ketika siswa membutuhkan penjelasan lebih sederhana, materi diulang. Ketika mereka mulai memahami, tingkat kesulitan perlahan dinaikkan.
Gerakan dan Ekspresi Turut Menjelaskan
Tidak semua instruksi dapat disampaikan melalui kata-kata. Karena itu, kami mulai menggunakan cara lain untuk membantu siswa memahami materi. Gambar, gerakan, ekspresi wajah, contoh, dan pengulangan digunakan untuk memperjelas maksud.
Permainan juga menjadi bagian dari pembelajaran, seperti tebak hewan, tebak kosakata, tebak ekspresi, dan berbagai kegiatan ice breaking. Dalam aktivitas tersebut, siswa tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka diajak menebak, merespons, bergerak, dan mencoba menggunakan kosakata yang sedang dipelajari.
Perubahan pendekatan ini membuat bahasa Inggris hadir dalam situasi yang lebih aktif. Ketika penjelasan panjang sulit dipahami, sebuah gerakan atau contoh terkadang justru dapat menyampaikan maksud dengan lebih cepat.
“Kalau langsung masuk ke materi yang lebih sulit, mereka bisa kesulitan mengikuti. Jadi, kami mulai dari yang paling dasar lalu perlahan menaikkan tingkat kesulitannya,” ujar salah seorang anggota tim pengajar.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa metode mengajar tidak selalu harus berjalan sesuai rencana awal. Di ruang kelas dengan latar bahasa yang berbeda, kemampuan beradaptasi menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
Belajar Melalui Film dan Musik
Setelah siswa mulai terbiasa dengan aktivitas pembelajaran, bahasa Inggris juga diperkenalkan melalui media yang lebih dekat dengan pengalaman mereka. Kami menggunakan film berbahasa Inggris dan meminta siswa memperhatikan kosakata yang muncul di dalamnya. Mereka kemudian mencoba menemukan kata-kata yang dikenali dan memahami maknanya.
Musik juga digunakan dalam pembelajaran. Melalui lagu berbahasa Inggris, siswa diajak mendengarkan, mengenali kosakata, dan mencoba memahami makna yang mereka dengar.
Cara tersebut membuat bahasa Inggris tidak hanya dipelajari melalui penjelasan, tetapi juga melalui konteks. Siswa dapat menemukan kata dalam suara, gambar, dan situasi yang mereka lihat atau dengarkan. Bagi kami, pendekatan tersebut juga membantu menjaga suasana kelas agar tetap aktif.
Ketika Layar Ponsel menjadi Jembatan
Di tengah keterbatasan bahasa, teknologi menjadi salah satu alat yang membantu membuka komunikasi. Google Translate digunakan ketika terdapat instruksi atau kosakata yang sulit dipahami. Kami juga mengarahkan siswa menggunakan aplikasi tersebut ketika mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada kami tetapi kesulitan menemukan kata yang tepat.
Komunikasi pun berlangsung dua arah. Bukan hanya pengajar yang menerjemahkan sesuatu untuk siswa, tetapi siswa juga dapat menggunakan teknologi untuk menyampaikan apa yang ingin mereka katakan.
Teknologi dalam situasi tersebut bukan pengganti interaksi di dalam kelas. Ia menjadi jembatan sederhana yang membantu pengajar dan siswa melewati kebuntuan ketika bahasa yang digunakan tidak sama.
Ketika Pengajar Turut Belajar
Pengalaman di Koh Taeo Pittayasan School membuat kami memahami bahwa mengajar di lingkungan lintas bahasa membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi.
Pengajar perlu mengenali kemampuan siswa, membaca respons mereka, menyesuaikan pendekatan, dan mencari cara komunikasi ketika metode yang digunakan belum berhasil.
“Dari pengalaman ini kami belajar bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi. Kami harus memahami siswa dan mencari cara supaya mereka bisa menerima apa yang ingin kami sampaikan,” ujar salah seorang anggota grup Thaitan1c.
Empat hari tersebut pada akhirnya menjadi proses belajar bagi kedua pihak. Siswa belajar mengenal bahasa Inggris melalui berbagai aktivitas, sementara kami belajar memahami bahwa setiap ruang kelas memiliki kebutuhan dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Kami datang ke Koh Taeo Pittayasan School untuk mengajarkan bahasa Inggris. Namun, pengalaman itu juga mengajarkan kami untuk lebih banyak mendengarkan, mengamati, dan beradaptasi.
Pada akhirnya, mengajar bukan hanya tentang apa yang ingin disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana membuat orang lain dapat memahaminya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


