Di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, tersimpan kompleks candi terluas di provinsi ini yang keberadaannya jarang masuk dalam pembicaraan wisata nasional.
Candi Bahal, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal sebagai Biaro Bahal atau Candi Portibi, adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang diperkirakan dibangun pada abad ke-11 Masehi.
Lokasinya berada di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, dan merupakan bagian dari jejaring 26 candi yang tersebar di seluruh kawasan Padang Lawas, menjadikan wilayah ini sebagai salah satu kawasan arkeologi paling penting di Sumatra namun paling jarang dibicarakan.
Kata "biaro" yang digunakan warga setempat berasal dari bahasa Sanskerta, merujuk pada vihara yang berarti serambi tempat para pendeta berkumpul.
Kata ini kemudian terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi biara atau wihara.
Penamaan ini sudah memberi gambaran tentang karakter kawasan ini sebaagai sebuah kompleks yang pernah berfungsi sebagai pusat keagamaan aktif berabad-abad lalu.
Candi Bahal pertama kali ditemukan oleh dunia modern pada pertengahan abad ke-19 oleh Franz Junghun, seorang geolog dan Komisaris Hindia Timur.
Sejak saat itu, berbagai penelitian arkeologi dilakukan, dan tiga bangunan utama dari kompleks yang jauh lebih besar ini kini sudah dipugar dan terbuka untuk dikunjungi.
Sekilas Mengenai Candi Bahal
Candi Bahal dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, sebuah kerajaan yang menjadi bagian dari jaringan pengaruh Kerajaan Sriwijaya.
Sejarah persisnya masih diperdebatkan oleh para peneliti: ada yang meyakini candi ini dibangun oleh pengaruh Raja Hindu Shiva dari Tamil, India Selatan, ada pula yang menegaskan kaitannya dengan Kerajaan Pannai yang merupakan vasal Sriwijaya.
Yang cukup pasti adalah bahwa candi ini dibangun dari bata merah dan bernafaskan ajaran Buddha Vajrayana, sebuah aliran yang dalam sejarah Asia Tenggara lebih lazim ditemukan di wilayah Tibet dan India bagian timur.
Menariknya, kompleks ini juga menampilkan unsur Hindu di beberapa bagiannya, menjadikannya salah satu bukti awal bahwa toleransi antara dua tradisi keagamaan besar ini sudah berlangsung di Nusantara sejak jauh sebelum era modern.
Candi Bahal I adalah yang terbesar dan paling megah dari tiga candi yang sudah dipugar, dengan struktur yang masih berdiri cukup utuh.
Candi Bahal II berada sekitar 500 meter dari yang pertama, sementara Candi Bahal III terletak lebih jauh lagi dalam jarak yang masih bisa ditempuh berjalan kaki.
Selain ketiganya, di sekitar kawasan ini juga terdapat Kompleks Candi Pulo yang bisa dikunjungi dalam satu perjalanan.
Candi Bahal kini masih aktif digunakan sebagai tempat peringatan Hari Raya Waisak, sebuah kelanjutan nilai spiritual yang menjembatani sejarah abad ke-11 dengan kehidupan religius masa kini.
Daya Tarik Utama Candi Bahal
Daya tarik utama Candi Bahal adalah kompleks bangunannya sendiri.
Candi Bahal I dengan strukturnya yang relatif utuh menawarkan gambaran langsung tentang arsitektur bata merah abad pertengahan di Sumatra, dengan relief dan ornamen yang masih bisa diamati dari jarak dekat.
Di sekeliling candi, suasana tenang dan jauh dari keramaian kota memberikan ruang untuk menikmati situs ini dengan lebih khidmat dan tidak terburu-buru.
Bagi yang tertarik dengan arkeologi, kawasan ini adalah tempat yang kaya untuk dipelajari.
Di dalam kompleks tersedia balai pertemuan dan cafetaria untuk kenyamanan pengunjung, serta jalur jungle tracking bagi yang ingin menjelajahi kawasan sekitar.
Kunjungan yang paling meriah ke Candi Bahal adalah saat peringatan Hari Raya Waisak, ketika umat Buddha dari berbagai daerah berkumpul dan kawasan ini kembali dihidupkan oleh aktivitas keagamaan yang mengingatkan pada fungsi aslinya sebelas abad silam.
Akses Menuju Candi Bahal
Candi Bahal terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara.
Dari Kota Medan, jaraknya sekitar 300 hingga 400 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 6 hingga 12 jam tergantung rute dan kondisi jalan.
Dari Kota Padang Sidempuan yang merupakan kota terdekat dengan akses transportasi yang lebih lengkap, perjalanan menuju candi memakan waktu sekitar 3 jam.
Angkutan umum berupa bus sedang tersedia dari Padang Sidempuan menuju kawasan Padang Lawas, meski untuk mencapai Desa Bahal secara langsung tetap disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.
Kondisi jalan menuju lokasi sudah cukup baik untuk sebagian besar rute, meski ada beberapa bagian yang masih memerlukan perbaikan.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Candi Bahal dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Waktu terbaik adalah pagi hari saat udara masih sejuk dan kondisi pencahayaan baik untuk mengamati detail arsitektur dan relief candi.
Tiket masuk ke kompleks Candi Bahal sangat terjangkau, dikenakan sekitar Rp5.000 per orang. Biaya parkir kendaraan tersedia terpisah.
Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi area parkir, balai pertemuan, cafetaria, jalur jungle tracking, dan toilet.
Jasa pemandu wisata bisa ditanyakan langsung di lokasi bagi yang ingin penjelasan lebih mendalam tentang sejarah dan arsitektur masing-masing bangunan candi.
Ayo Berkunjung ke Candi Bahal!
Candi Bahal adalah destinasi yang cocok untuk Kawan GNFI yang ingin menjelajahi sisi Sumatra Utara di luar Danau Toba dan Medan.
Perjalanannya memang tidak singkat, tapi kompleks candi Buddha terluas di Sumatra Utara ini menawarkan pengalaman yang jarang bisa ditemukan di tempat lain, yaitu berdiri di antara reruntuhan peradaban abad ke-11 yang masih bisa dibaca jejaknya hingga hari ini.
Rencanakan kunjungan saat Hari Raya Waisak jika ingin merasakan suasana yang paling hidup di kawasan bersejarah ini ya Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

