Mencicipi makanan daerah tentunya menjadi kesenangan tersendiri. Sebab, bukan hanya karena memiliki rasa yang unik, tetapi karena sering kali membawa cerita sejarah ataupun identitas masyarakat setempat.
Hal tersebut juga dapat Kawan GNFI rasakan ketika berkunjung ke Semarang. Selain lumpia, wingko babat, dan bandeng duri lunak, Semarang juga punya makanan khas bernama gandjel rel.
Namanya mirip dengan potongan rel kereta, sehingga terdengar unik. Walaupun begitu, makanan ini memiliki cerita panjang tentang pertemuan budaya.
Asal-Usul Gandjel Rel
Tahukah Kawan GNFI, kue gandjel rel ada karena percampuran Belanda dengan masyarakat Jawa di Semarang? Sebab, kue ini lahir dari ontbijtkoek, kudapan berempah untuk bangsawa Belanda yang secara harfiah berarti “kue sarapan”.
Menurut tulisan Rahma Danisa Eka Safitri dalam Jurnal Kajian Kebudayaan, resep itu merujuk pada tradisi orang Belanda di Semarang. Ontbijtkoek biasa menemani teh atau sarapan, dibuat dari tepung dan rempah.
Namun, ketika masuk ke jawa, bahannya sangatlah mahal. Dengan begitu, warna membuat kudapan tersebut lebih sederhana dengan gula jawa serta jahe, kembang lawang, cengkeh, dan kayu manis, kemudian ditaburi wijen.
Dengan demikian, hasil pembuatan roti tersebut menjadi menjadi lebih padat, beraroma hangat, dan tahan lama. Tekstur serta bentuknya yang menyerupai bantalan rel kereta api kemudian membuat masyarakat Semarang menyebutnya gandjel rel.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kuliner tidak selalu lahir dari kebudayaan secara utuh. Sebab, Gandjel rel tumbuh melalui proses adaptasi: teknik dan inspirasi dari Eropa bertemu bahan, cita rasa, serta kebiasaan masyarakat Jawa.
Namun, dalam perjalanannya, kue ini sering kali disebut juga sebagai roti gambang. Sebab bentuknya mirip seperti alat musik gambang: berwarna coklat, memanjang seperti balok, dan bertabur wijen.
Keunikan Gandjel Rel
Tidak hanya namanya saja yang unik, rasa dari roti ini juga unik. Apalagi dengan perpaduan gula jawa, aroma rempah seperti kayu manis, cengkeh, jahe, dan kembang lawang, serta taburan wijen di permukaan. Kombinasi itu menciptakan rasa yang khas dibandingkan hidangan lainnya.
Namun, teksturnya yang padat sering kali membuat generasi muda kurang suka. Sebab, anak muda biasanya terbiasa makan roti yang lembut. Pantaslah, sebab ketika makan gandjel rel, teksturnya seolah-oleh keras dan tidak mengembang secara sempurna.
Gandjel Rel sebagai Oleh-Oleh Khas Semarang
Sebagai makanan yang menyimpan nilai sejarah dan budaya, roti ini dapat menjadi pilihan untuk oleh-oleh ketika berkunjung ke Kota Semarang.
Apalagi, sejumlah produsen berkreasi untuk menghadirkan gandjel rel yang teksurnya mirip brownies sehingga cocok untuk dinikmati berbagai kalangan.
https://www.instagram.com/p/Db7USFcoExs/
(Preview akan muncul di halaman artikel)Meskipun tampil lebih modern, gandjel rel tetep mempertahankan ciri khasnya seperti warna coklat, aroma rempah, rasa manis dan taburan wijen. Inovasi inilah yang membuat gandjel rel semakin menarik untuk dijadikan oleh oleh khas tradisional kota Semarang.
Kuliner Lama yang Perlu Dikenalkan Kembali
Gandjel rel dengan cita rasa autentik saat ini memang tidak mudah ditemukan di berbagai toko di Kota Semarang. Bahkan, penelitian pada jurnal kajian kebudayaan menjelaskan bahwa popularitas makanan ini mulai menurun, terutama generasi muda.
Dengan demikianlah, perubahan selera masyarakat terhadap makanan modernm kurangnya promosi, serta terbatasnya penerus usaha menjadi tantangan bagi keberadaan roti tradisional ini.
Teksturnya yang padat dan cenderung keras juga membuat gandjel rel kurang diminati dibandingkan roti modern yang lebih lembut.
Oleh karena itu, gandjel rel perlu diperkenalkan kembali melalui festival kuliner, pusat oleh-oleh, dan media sosial. Pengenalan tersebut sebaiknya tidak hanya menampilkan produknya, tetapi juga mengangkat sejarah dan filosofi.
Dengan begitu, generasi muda dapat memahami bahwa gandjel rel bukan sekadar roti, melainkan bagian dari identitas budaya Kota Semarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

