Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan (HIMASPER) IPB University melalui kegiatan ROBS in Action (RIA) melaksanakan rangkaian kegiatan di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, pada 12–16 Agustus 2026.
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan lapangan sekaligus mengenal kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.
Pada pelaksanaannya di Pulau Sabira, RIA mengangkat kegiatan yang berkaitan dengan penyu, mulai dari pengenalan proses konservasi, pengamatan sarang dan telur, hingga edukasi mengenai keberadaan penyu di lingkungan masyarakat.
Pulau Sabira dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki ekosistem pesisir yang menjadi bagian dari habitat penyu sisik (Eretmochelys imbricata), termasuk sebagai kawasan peneluran.
Kondisi tersebut menjadikan Pulau Sabira sebagai lokasi yang relevan untuk memperkenalkan kegiatan konservasi penyu kepada peserta. Selama berada di lapangan, peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai penyu, tetapi juga melihat secara langsung berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mendukung proses peneluran dan penetasan.
Peserta RIA mempelajari konservasi penyu dari sisi yang lebih dekat, mulai dari peneluran, pengelolaan telur, pemantauan sarang, hingga perkembangan telur selama masa inkubasi. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pengelolaan telur penyu pada sarang semi-alami.
Pada kondisi tertentu, telur yang ditemukan pada sarang alami dapat dipindahkan ke lokasi yang telah disiapkan untuk membantu meningkatkan peluang keberhasilannya.
Suhu, kelembapan pasir, kedalaman dan diameter sarang, hingga jumlah telur yang menetas menjadi bagian yang diperhatikan selama proses tersebut.
Pengamatan secara langsung memberikan pengalaman berbeda dari pembelajaran di dalam kelas. Peserta dapat melihat bahwa proses penetasan membutuhkan perhatian sejak telur ditempatkan hingga tukik keluar dari sarang.
Setiap tahapan membutuhkan ketelitian dalam melakukan pengamatan dan pencatatan agar kondisi sarang serta keberhasilan penetasan dapat diketahui dengan baik.
Tidak hanya mengamati, RIA juga menghadirkan aksi yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Salah satunya adalah pemasangan plang informasi mengenai penyu di kawasan Pulau Sabira.
Pemasangan plang menjadi upaya untuk menyampaikan informasi mengenai keberadaan penyu sekaligus mengingatkan masyarakat dan pengunjung agar memperhatikan kawasan yang digunakan penyu untuk bertelur.
Keberadaan plang tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa pantai yang terlihat biasa bagi manusia dapat memiliki fungsi penting bagi satwa. Ketika penyu naik ke pantai untuk bertelur, aktivitas manusia perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan keberadaan sarang.
Informasi yang terpasang juga dapat terus dilihat setelah rangkaian RIA selesai sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga penyu dapat menjangkau masyarakat dan pengunjung secara lebih luas.
Selain pemasangan plang, RIA turut dilengkapi dengan aksi bersih pantai bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kegiatan dilakukan di kawasan pantai yang sering digunakan penyu untuk melakukan peneluran secara alami.
Peserta bersama pihak DLH membersihkan sampah di sepanjang kawasan pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan tempat penyu beraktivitas.
Kegiatan bersih pantai menjadi pelengkap dari rangkaian RIA karena memperlihatkan bahwa menjaga penyu juga berkaitan dengan menjaga lingkungan tempatnya hidup. Sampah yang berada di kawasan pantai dapat menjadi salah satu gangguan bagi lingkungan pesisir.
Melalui program ini, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman mengenai konservasi penyu, tetapi juga melihat secara langsung bahwa menjaga habitat dapat dilakukan melalui tindakan sederhana yang melibatkan banyak pihak.
Kolaborasi dengan DLH dalam kegiatan tersebut turut menunjukkan adanya keterlibatan lintas pihak dalam menjaga lingkungan Pulau Sabira.
Konservasi penyu membutuhkan dukungan yang tidak hanya berasal dari kegiatan penelitian, tetapi juga dari pengelolaan lingkungan dan kepedulian masyarakat. Masing-masing pihak memiliki peran yang berbeda dan dapat saling melengkapi untuk mendukung keberlanjutan kawasan pesisir.

Bagi masyarakat Pulau Sabira, keberadaan penyu merupakan bagian dari lingkungan yang berada dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas masyarakat berlangsung di kawasan yang juga menjadi habitat berbagai biota pesisir.
Karena itu, pengetahuan dan kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan yang selaras antara aktivitas manusia dan alam.
Harapan terhadap keberlanjutan kegiatan konservasi di Pulau Sabira juga disampaikan langsung oleh pengelola Rumah Penyu. Ia berharap keberadaan kegiatan konservasi penyu di Pulau Sabira semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya di Indonesia.
“Harapan saya sih dengan adanya kegiatan pelestarian penyu ini, Pulau Sabira makin dikenal masyarakat luas, terutama di Indonesia bahwa di Jakarta itu ada tempat pelestarian penyu,” ujarnya.
Ia juga berharap masyarakat dapat berkunjung ke Pulau Sabira untuk mengenal dan melihat secara langsung kegiatan konservasi penyu yang dilakukan di kawasan tersebut.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa konservasi di Pulau Sabira tidak hanya berkaitan dengan perlindungan penyu, tetapi juga dengan upaya memperkenalkan kegiatan konservasi kepada masyarakat.
Semakin dikenal, Pulau Sabira diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal penyu sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
Melalui RIA, peserta melihat bahwa konservasi penyu memiliki banyak sisi, mulai dari pengamatan dan pengelolaan telur, pemantauan sarang, pengenalan terhadap tukik, edukasi masyarakat, hingga menjaga kondisi habitat. Setiap kegiatan berfungsi yang saling berkaitan dalam mendukung perlindungan penyu di Pulau Sabira.

ROBS in Action di Pulau Sabira pada akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan untuk mengenal penyu, tetapi juga menjadi pengalaman memahami hubungan antara satwa, habitat, masyarakat, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaannya.
Dari telur yang dijaga di dalam sarang, tukik yang menunggu waktunya menuju laut, plang yang menjadi pengingat bagi masyarakat, hingga pantai yang dibersihkan bersama, setiap bagian kegiatan membawa pesan bahwa keberlangsungan penyu membutuhkan ruang hidup yang tetap terjaga.
Melalui ROBS in Action, jejak penyu di Pulau Sabira diharapkan tidak hanya menjadi sesuatu yang ditemukan di atas pasir, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kehidupan yang ada di baliknya.
Selama pantai tetap terjaga dan kepedulian terus tumbuh, masih akan ada ruang bagi penyu untuk kembali ke daratan, meninggalkan telurnya, dan melanjutkan perjalanan hidupnya di laut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


