menjadi tetangga krakatau bagaimana pulau sebesi bertahan sejak 1883 - News | Good News From Indonesia 2026

Menjadi Tetangga Krakatau: Bagaimana Pulau Sebesi Bertahan Sejak 1883

Menjadi Tetangga Krakatau: Bagaimana Pulau Sebesi Bertahan Sejak 1883
images info

Google Maps (satelit)


Di balik aktifnya Gunung Krakatau, ada pulau yang sudah lama hidup sebagai tetangganya, yaitu Pulau Sebesi. Pulau Sebesi terletak di kabupaten Lampung Selatan dan hanya berjarak 15—20 kilometer dari Anak Krakatau.

Jarak ini membuatnya menjadi tetangga yang paling dekat dengan gunung api terkenal di Indonesia. Secara administratif, Pulau Sebesi masuk wilaya Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa.

Pada Agustus 1883, letusan besar Gunung Krakatau menewaskan seluruh penduduk asli Pulau Sebesi. Pulau ini sempat kosong tak berpenghuni selama beberapa tahun. Mulai awal 1900-an pendatang dari Banten, Lampung, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat mulai datang ke Pulau Sebesi.

Artinya, masyarakat Sebesi hari ini merupakan pendatang baru di Pulau Sebesi. Hingga saat ini, masyarakat Pulau Sebesi mencapai sekitar 2.790 warga.

baca juga

Hidup Berdampingan dengan Risiko

Bagi masyarakat Pulau Sebesi sekarang, Gunung Krakatau menjadi salah satu bagian dari mata pencaharian, selain bercocok tanam dan memancing ikan. Sejak awal 2000-an, kakao menjadi komoditas utama masyarakat Sebesi dengan hasil panen yang membuat perekonomian masyarakat meningkat cukup pesat.

Saat Gunung Krakatau sedang aktif tanpa membahayakan, banyak wisatawan yang datang untuk melihatnya dari dekat. Tak hanya dari Krakatau sendiri, pulau ini juga menawarkan berbagai wisata, mulai dari homestay yang didirikan oleh para warga, snorkeling, hingga pantai yang relatif sepi pengunjung.

Namun hidup di sini juga berarti terbiasa dengan risikonya sendiri. Bau belerang, hujan abu vulkanik, hingga dentuman letusan, yang terdengar menakutkan bagi orang luar merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Pulau Sebesi.

baca juga

Situasi Terkini: Bertahan Tanpa Evakuasi

Per 8 September 2026, di tengah aktifnya Anak Gunung Krakatau, masyarakat Pulau Sebesi masih beraktivitas normal seperti biasa. Mereka tetap bertani dan memancing, hanya diimbau untuk tetap waspada, menggunakan masker, serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Akses wisata Pulau Sebesi sempat ditutup sementara waktu sebagai langkah antisipasi.

Masyarakat Pulau Sebesi tidak pernah goyah. Sama seperti pendahulu mereka yang dulu memilih datang dan menetap meski tahu risikonya, masyarakat Sebesi saat ini juga memilih untuk bertahan dan tidak meninggalkan pulau, meskipun tahu bahaya ada di dekat mereka.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ZS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.