ramalan ranggawarsita tentang gunung anak krakatau - News | Good News From Indonesia 2026

Ramalan Ranggawarsita tentang Gunung Anak Krakatau

Ramalan Ranggawarsita tentang Gunung Anak Krakatau
images info

Serat Pustaka Raja Purwa. Gambar: Ilustrasi AI


Malam telah larut ketika Keraton Surakarta diselimuti kesunyian. Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya pelita, Raden Ngabehi Ranggawarsita duduk seorang diri di hadapan meja kayu tua.

Sang pujangga agung itu menggenggam pena sambil menatap lembaran naskah Serat Pustaka Raja Purwa, seolah sedang menunggu sesuatu yang tersembunyi di balik rangkaian kata.

Perlahan, matanya terpejam. Suasana kamar yang semula hening seakan menghilang, berganti dengan bayangan sebuah masa yang sangat jauh.

Dalam penglihatan batinnya, Ranggawarsita seperti menembus batas waktu dan tiba di Nusantara pada abad kelima, sekitar tahun Saka 338. Saat itu, daratan yang kelak dikenal sebagai Pulau Jawa dan Sumatera masih terhubung dalam satu bentang bumi.

Di hadapannya terbentang negeri yang hijau dan subur. Hutan-hutan lebat memenuhi daratan, sementara manusia hidup berdampingan dengan alam di bawah bayang-bayang gunung purba yang dikenal sebagai Gunung Kapi. Gunung itu tampak menjulang tinggi, tenang, dan kokoh, seolah tidak menyimpan kekuatan besar di dalam perutnya.

baca juga

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tanah tiba-tiba bergetar, mula-mula perlahan lalu semakin kuat hingga pepohonan bergoyang dan bebatuan berjatuhan. Hewan-hewan hutan berlarian mencari tempat yang lebih aman, sementara manusia mulai meninggalkan permukiman mereka dengan wajah penuh kepanikan.

Dari kejauhan terdengar suara menggelegar seperti ribuan petir yang meledak bersamaan. Gunung Kapi mulai mengeluarkan asap tebal dan material vulkanik, sementara kilatan cahaya merah tampak menyambar-nyambar di sekitar puncaknya. Langit yang sebelumnya terang berubah gelap ketika abu vulkanik membumbung tinggi dan menutupi matahari.

Hujan deras kemudian mengguyur daratan. Akan tetapi, derasnya air tidak mampu meredam gejolak Gunung Kapi yang semakin menggila. Dari kawahnya mengalir lava pijar, menerobos lereng gunung dan membakar apa pun yang berada di jalurnya, sementara suara gemuruh terus mengguncang udara.

Manusia berlarian menyelamatkan diri di tengah hujan abu dan kegelapan. Tidak ada yang mengetahui ke mana harus pergi ketika tanah terus bergerak dan langit berubah menjadi kelabu pekat. Dari kejauhan, Gunung Batuwara dan Gunung Raja Basa seolah menjadi saksi bisu atas perubahan besar yang sedang berlangsung di tanah Nusantara.

Kemudian, tibalah saat yang paling mengerikan. Sebuah ledakan mahadahsyat mengguncang bumi, jauh lebih kuat daripada suara gemuruh sebelumnya. Gunung Kapi seakan pecah dari dalam, tubuh raksasanya runtuh, sementara sebagian besar daratan di sekitarnya ikut berubah akibat kekuatan letusan tersebut.

Laut pun bergolak. Gelombang besar menerjang daratan dan memasuki wilayah yang sebelumnya menjadi tempat manusia hidup. Air bergerak semakin jauh, menenggelamkan permukiman, pepohonan, dan berbagai peninggalan kehidupan yang tidak sempat diselamatkan.

baca juga

Ketika gejolak alam akhirnya mereda, bentang bumi yang sebelumnya dikenal sebagai satu daratan telah berubah. Laut kini memisahkan wilayah di sebelah barat dan timur, membentuk selat yang kelak dikenal sebagai Selat Sunda. Jawa dan Sumatra pun berdiri sebagai dua pulau yang terpisah.

Bayangan itu kemudian perlahan menghilang dari pandangan Ranggawarsita. Sang pujangga tersentak dan kembali membuka mata di ruang keraton pada abad ke-19, sementara keringat dingin membasahi dahinya. Tangannya masih menggenggam pena, tetapi pikirannya seolah tertinggal pada peristiwa besar yang baru saja disaksikannya.

Di hadapannya, lembaran Serat Pustaka Raja Purwa kembali menjadi benda nyata. Kisah tentang Gunung Kapi, daratan yang terbelah, dan laut yang muncul di antara Jawa dan Sumatra kemudian dikenal sebagai salah satu catatan penting dalam tradisi sastra Jawa mengenai perubahan alam Nusantara.

Berabad-abad setelah kisah itu dituliskan, perhatian terhadap kawasan tersebut kembali muncul ketika Gunung Krakatau mengalami letusan dahsyat pada 1883. Jauh setelah peristiwa itu, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau terus berlanjut hingga muncul gunung baru yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Karena itu, kisah Ranggawarsita kerap dikaitkan dengan sejarah geologi kawasan Krakatau. Namun, kisah tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari warisan sastra dan pengetahuan tradisional Jawa, bukan sebagai ramalan ilmiah mengenai kemunculan Gunung Anak Krakatau.

Di antara halaman-halaman naskah kuno itu, tersimpan gambaran tentang sebuah Nusantara yang pernah berubah secara dramatis. Kisah Gunung Kapi menjadi cerita yang terus hidup karena mempertemukan ingatan budaya, legenda, dan bayangan tentang kekuatan alam yang membentuk wajah kepulauan Indonesia hingga hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.