Rencana Pemkab Bojonegoro bangun 5 taman perbatasan, sepatutnya prioritaskan kearifan lokal dan keluhuran masa silam sebagai pondasi identitas kultural.
Upaya Pemkab Bojonegoro menata kota dengan tetap memperhatikan sisi ekologis, tentu patut diapresiasi. Pemkab berencana bangun 5 taman perbatasan yang berfungsi sebagai wajah baru, sekaligus ruang terbuka hijau (RTH) di titik-titik strategis. Lokasi taman ini, berada di daerah berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono menyampaikan, pembangunan taman perbatasan ini merupakan upaya membangun jati diri dan identitas luhur kawasan. Pembangunan lima taman perbatasan ini berkait dengan menambah luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menjaga keseimbangan ekosistem seperti penanaman pohon, dan mempercantik pintu masuk (gate) kabupaten agar lebih ikonik dan representatif.
”Taman-taman ini adalah simbol kebanggaan kita bersama, sekaligus bukti bahwa pembangunan di Bojonegoro dilakukan secara merata hingga ke pelosok perbatasan,” ujar Setyo Wahono.
Dengan kehadiran 5 taman perbatasan ini, Bojonegoro diharapkan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil migas, tapi juga kabupaten yang peduli terhadap lingkungan dan identitas luhur kawasan. Adapun 5 Taman Perbatasan Bojonegoro tersebut adalah; Gondang – Nganjuk, Margomulyo – Ngawi, Kedungadem – Lamongan, Baureno – Babat, dan Padangan – Cepu.
Identitas Kultural
Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dalam sebuah forum, secara tegas mengatakan, Bojonegoro adalah wilayah berperadaban tua. Bahkan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pun, kata Cak Nun, Bojonegoro sudah dikenal sebagai kawasan berperadaban tinggi yang didukung sumber daya alam (SDA) mumpuni meliputi sungai Bengawan, perbukitan Kapur Kendeng, pohon jati, hingga minyak bumi.
Ucapan Cak Nun tentu terbukti secara ilmiah. Raffles dalam Map of Java (1817) menyebut kawasan Bojonegoro sebagai bagian penting dari The Ruins of Medang Kamulan. Bojonegoro dicatat dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) sebagai bukti kejayaan peradaban Perahu Bengawan. Bahkan pada Prasasti Maribong (1246 M), wilayah ini ditasbihkan sebagai Bhinnasrantaloka — tanah penyatu Jawa.
Kebesaran Bojonegoro bukan sekadar dongeng. Namun fakta yang tergurat abadi pada keberadaan sumber daya alamnya. Karena itu, sudah sepatutnya Pemkab Bojonegoro berani berkreasi dalam memunculkan kebesaran tersebut, melalui berbagai simbol yang mudah dipahami generasi hari ini.
Pembuatan taman perbatasan tak boleh diniati sekadar membangun gapura. Tapi momen untuk menunjukan nilai-nilai luhur masa silam. Dalam hal ini, kebesaran peradaban Perahu Bengawan. Sehingga, Bojonegoro tak hanya dikenal dalam hal dampak banjirnya saja. Tapi juga keahlian masyarakatnya dalam mengelola dan beradaptasi dengan alam. Khususnya sungai Bengawan.
Selain memiliki kebesaran di ranah sungai Bengawan, Bojonegoro juga tercatat memiliki berkah alam berupa perbukitan kapur Kendeng yang maha luas. Di hamparan bukit kapur inilah, terdapat pohon jati dan minyak bumi, dua entitas endemik Bojonegoro yang punya dampak besar hingga hari ini.


