Senipertanian.com - Pasar minyak atsiri dunia terus menunjukkan tren positif, namun potensi besar komoditas nilam Indonesia belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, Indonesia dikenal sebagai pemasok utama minyak nilam dunia, bahan penting bagi industri parfum, kosmetik, hingga farmasi global.
Nilam (Pogostemon cablin) sering dijuluki sebagai “emas hijau” karena nilai ekonominya yang tinggi. Data perdagangan internasional menunjukkan sekitar 80–90 persen kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari Indonesia. Ironisnya, di tingkat petani, komoditas ini masih sering dipandang sebagai tanaman pinggiran.
Di berbagai daerah sentra produksi seperti Aceh, Sulawesi, hingga sebagian wilayah Jawa, petani nilam kerap menghadapi persoalan klasik: fluktuasi harga, keterbatasan teknologi penyulingan, hingga rantai perdagangan yang panjang. Akibatnya, keuntungan terbesar justru lebih banyak dinikmati oleh pedagang besar dan industri pengolahan di luar negeri.
Baca Selengkapnya

