Dua hari lagi, Tahun Baru Islam 1448 H datang. Pertanyaannya kini: mengapa, setiap kali 1 Muharram datang, kaum Muslim di berbagai penjuru dunia tidak merayakannya dengan tabuhan genderang dan letusan kembang api yang memecah cakrawala. Namun, mereka merenung?
Ini karena Tahun Baru Islam-1 Muharram-bukanlah untuk berpesta. Ia adalah tangisan zaman yang terdengar tanpa suara, sebuah pukulan telak pada gendang waktu yang menggetarkan relung jiwa yang paling dalam.
Sejarah menuturkan, pada 1 Muharram 1 H Rasulullah Saw. dan para sahabatnya tidak duduk di atas permadani sutra sambil menyantap kurma paling lezat dan menyesap susu kambing paling segar.
Namun, mereka sedang berhijrah. Mereka meninggalkan rumah-rumah mereka di Makkah, harta benda yang dirampas, dan sanak saudara yang menangis, menuju Yatsrib yang kelak berganti nama menjadi Madinah Al-Munawwarah.
Kita tahu, kalender Islam yang kita kenal kini tidak diciptakan oleh Rasulullah Saw. Namun, oleh Umar bin Al-Khaththab sekitar tahun 638 M. Suatu hari, sebelum itu, Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Basrah, mengirim surat yang intinya mengeluh, “Amirul Mu’minin. Kami menerima surat-surat darimu yang tidak bertanggal.”
Baca Selengkapnya

