Fenomena suara dentuman keras disertai kilatan cahaya merah yang muncul di langit kawasan Cipanas, Cianjur, pada Senin (5/1) malam, akhirnya mendapat penjelasan ilmiah. Pakar dari IPB University menepis keterkaitan peristiwa tersebut dengan cuaca ekstrem maupun aktivitas tektonik di wilayah Gunung Gede-Pangrango.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat kejadian terpantau normal. Selain itu, data seismograf juga tidak menunjukkan adanya pergerakan sesar maupun aktivitas vulkanik yang signifikan di kawasan tersebut.
“Kondisi atmosfer saat kejadian terpantau normal dan tidak menunjukkan adanya cuaca ekstrem,” ujar Sonni dalam keterangannya.
Analisis ilmiah lebih lanjut mengarah pada fenomena astronomi yang disebut sebagai bolide atau bola api. Bolide terjadi saat meteoroid berukuran besar masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, sehingga menimbulkan gesekan yang menghasilkan cahaya terang sekaligus gelombang kejut sonik.
“Jika ukurannya cukup besar, meteoroid dapat meledak di atmosfer dan menimbulkan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman keras oleh warga di permukaan,” jelas Sonni.
Proses meledaknya meteoroid di langit ini juga memicu pelepasan energi elektromagnetik yang menjelaskan munculnya kilatan cahaya merah. Fenomena serupa tercatat pernah terjadi di Cirebon beberapa bulan lalu, di mana material meteor dilaporkan sempat menyentuh permukaan Bumi.
Meski dugaan bolide sangat kuat, Sonni menegaskan bahwa kepastian penyebab peristiwa di Cipanas ini masih memerlukan bukti fisik lebih lanjut. Dibutuhkan temuan lapangan berupa jejak material meteorit untuk mengonfirmasi secara utuh asal-usul dentuman misterius tersebut.
“Untuk memastikan penyebab pastinya, diperlukan pengamatan langsung serta temuan lapangan di lokasi kejadian, termasuk kemungkinan adanya jejak material meteorit,” pungkas Sonni.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


