Badan Pangan Nasional melaporkan bahwa stok awal tahun 2026 mencapai angka fantastis, yakni 12,529 juta ton. Jumlah ini melonjak tajam hingga 203 persen jika kita bandingkan dengan kondisi awal tahun 2024 yang hanya sekitar 4,1 juta ton.
Cadangan yang melimpah ini merupakan hasil kumulatif dari berbagai lini. Tidak hanya tersimpan di gudang Bulog yang memegang 3,24 juta ton, tetapi juga tersebar di rumah tangga petani, penggilingan, pedagang, hingga sektor perhotelan dan katering.
Dengan asumsi kebutuhan nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan, stok awal ini saja sudah cukup untuk mengamankan perut seluruh rakyat Indonesia selama lima bulan ke depan.
Berikut adalah poin penting dari pencapaian swasembada ini:
Tren Kenaikan Drastis: Stok awal 2026 sebesar 12,5 juta ton jauh melampaui stok awal 2025 (8,4 juta ton) dan 2024 (4,1 juta ton).
Target Produksi 2026: Indonesia membidik produksi hingga 34,7 juta ton tahun ini, sehingga stok akhir tahun diperkirakan bisa menyentuh 16,1 juta ton.
Stop Impor: Pemerintah menegaskan tidak akan ada impor beras umum maupun beras untuk bahan baku industri pada 2026, melanjutkan kebijakan serupa di tahun sebelumnya.
I Gusti Ketut Astawa dari Bapanas menyebutkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras para petani dan sinergi lintas lembaga. Kepercayaan diri pemerintah untuk menutup keran impor didasari oleh data neraca komoditas yang menunjukkan surplus signifikan. Kebijakan ini diambil untuk memberikan perlindungan penuh bagi harga gabah di tingkat petani lokal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


