Perum Bulog menegaskan bahwa rencana kebijakan beras satu harga hanya berlaku untuk jenis beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pemerintah ingin harga jual di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa seragam sehingga masyarakat mendapatkan keterjangkauan yang sama. Skema ini mengadopsi model satu harga pada BBM untuk menekan disparitas harga antardaerah.
Rencananya, HET beras SPHP di tingkat konsumen akan dipatok sebesar Rp12.500 per kilogram. Untuk mendukung pedagang, Bulog akan melepas stok dari gudang dengan harga Rp11.000 per kilogram sehingga pengecer mendapat keuntungan Rp1.500 per kilogram. Fokus utama kebijakan ini adalah menjaga daya beli masyarakat dan menstabilkan pasokan pangan secara nasional.
“Kami sudah menghitung untuk merencanakan beras satu harga dari Sabang sampai Merauke adalah beras SPHP-nya, bukan beras premium,” tegas Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.
Meski Presiden Prabowo Subianto telah memberikan lampu hijau, Bulog masih menunggu arahan teknis terkait subsidi ongkos angkut. Pemerintah perlu menanggung biaya transportasi ke wilayah pelosok agar harga tetap seragam di mana pun berada. Jika mekanisme margin fee dan subsidi ini rampung, skema satu harga diharapkan dapat segera berjalan sepenuhnya pada tahun 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


