Pemerintah menggulirkan kebijakan pemberian subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram guna memitigasi dampak kenaikan harga bahan baku di pasar internasional. Langkah perlindungan ini diambil untuk menjaga stabilitas produktivitas para perajin tahu dan tempe domestik yang ruang geraknya terganggu oleh volatilitas pasokan komoditas dunia.
Pada tahap awal, penyaluran insentif finansial ini akan dialokasikan melalui Perum Bulog untuk mencakup kuota sekitar 250.000 ton kedelai impor. Intervensi khusus ini dinilai mendesak lantaran struktur pemenuhan kebutuhan zat pangan nasional tersebut hampir seluruhnya masih bertumpu pada mekanisme perdagangan luar negeri.
"Ini tujuannya adalah untuk meringankan harga yang semakin tinggi karena imbas pasar global, karena perang, sehingga nanti perajin tetap bisa memproduksi tempenya sesuai harga yang ada sekarang," ujar Menteri Perdagangan, Budi Santoso, di Bogor.
Lonjakan harga komoditas pangan di tingkat global dipengaruhi secara linier oleh ketidakpastian situasi geopolitik global serta konflik bersenjata yang memicu disrupsi rantai pasok maritim.
Selain gangguan logistik jarak jauh, otoritas perekonomian nasional mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi melambungkan biaya penebusan kargo impor di pelabuhan.
Melalui penerapan subsidi harga ini, para pelaku usaha mikro diharapkan dapat mempertahankan kelangsungan operasional pabrik tanpa harus menaikkan harga jual secara ekstrem ke tingkat konsumen.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


