Membicarakan kebudayaan Sunda tidak bisa lepas dari keragaman jenis kesenian, salah satunyanya adalah wayang golek. Sebagaimana pewayangan di pulau Jawa, wayang golek juga dipercaya menjadi sarana yang turut membawa nilai-nilai Islam di Tatar Sunda.
Sejak dahulu, wayang menjadi teater rakyat yang popular di masyarakat Indonesia, begitu pun di masyarakat Sunda. Di daerah Jawa Barat, wayang golek umumnya dipentaskan menggunakan Bahasa Sunda. Meski begitu, wayang jenis ini juga muncul di masyarakat Brebes dan Cilacap, Jawa Tengah.
Boneka wayang golek memiliki bahan dasar utama kayu, biasanya kayu yang dipakai adalah mahoni dan albasia. Kayu-kayu tersebut dipahat hingga menjadi tokoh tertentu alam cerita pewayangan.
Golek sendiri memiliki arti tongkat kayu karena wayang jenis ini dimainkan dan digerakan dengan tongkat kayu. Berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan dari balik layar, wayang golek bisa langsung dimainkan oleh seorang dalang di atas panggung.
Ada beberapa jenis wayang golek, di antaranya adalah wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Jika melihat pada sejarah, wayang golek cepak menjadi media wayang golek yang pertama kali muncul dan mengambil andil dalam penyebaran agama Islam di Tatar Sunda.
Sejarah Wayang Golek dan Penyebaran Ajaran Agama Islam
Sejarah mencatat bahwa wayang telah menjadi media penyebaran Islam pada masa Wali Songo. Diyakini, Sunan Kalijaga meerupakan wali yang paling berpengaruh dalam penyebaran melalui pewayangan.
Pada masanya, Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam dengan pendekatan sosial dan budaya. Ajaran terjebut ia perkenalkan dengan kesenian rakyat berupa wayang, gamelan, dan tembang. Dari situlah kesenian wayang muncul sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Indonesia.
Ada pendapat yang menyebut wayang golek diperkenalkan oleh Sunan Kudus, yang juga merupakan seorang Wali Songo, pada 1583 Masehi. Sunan Kudus memainkan wayang dengan membawa cerita kehidupan sehari-hari yang lekat dengan nilai islam.
Berawal dari Kesultanan Cirebon
Melansir dari situs Museum Nasional Ketransmigrasian, wayang golek pertama kali muncul di zaman Kesultanan Cirebon. Pementasan wayang golek dimulai di masa Panembahan Ratu yang memimpin pada 1570-1649. Saat itu masyarakat cirebon mengenal wayang golek dengan wayang cepak.
Pada masa Pengeran Girilaya, penuturan wayang golek cepak semakin populer. Kisah-kisahnya diambil dari kisah babad dan sejarah Jawa dengan lakon yang berkisah pada penyebaran agama Islam. Kemudian wayang golek purwa dengan lakon Ramayana dan Mahabharata lahir pada 1840.
Menyebar Luas di Tatar Sunda
Semakin lama, wayang golek semakin tersebar luas di daerah pulau Jawa bagian barat. Kesenian wayang golek berbahasa Jawa Cirebonan mulai bergeser dan berganti dengan bahasa Sunda.
Dominasai penceritaan wayang golek berbahasa Sunda hadir pada abad ke-17 di masa ekpansi Kesultanan Mataram.
Namun, saat itu pengisahan wayang golek terpengaruh oleh ajaran Hindu dan Budha sebagai bekas wilayah kerajaan Sunda Pajajaran, di sinilah wayang golek purwa dikenal.
Lakon Ramayana dan Mahabharata kemudian diadopsi dan diperkaya. Tujuan para dalang mmengambil kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata adalah dalam rangka memperluas ajaran Islam yang disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
Kesenian wayang golek terus menyebar dan kisahnya dimodifikasi. Ajaran Islam kemudian dikisahkan dengan membawa kisah-kisah para sahabat nabi. Hingga akhirnya wayang golek menjadi identitas dari masyarakat Sunda.
Dalam penyampaiannya, wayang golek tidak hanya hadir sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga tuntunan. Wayang menjadi sarana yang menyiarkan ajaran yang mampu membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat.
Wayang Golek dan Pengajaran Islam di Masa Modern
Islam telah menjadi ajaran yang populer dan terbesar di Indonesia. Meskipun begitu, kesenian wayang golek masih dipakai banyak dalang modern dalam mengajarkan Islam melalui kesenian Tradisional.
Mengutip dari Republika, terdapat deretan pedalang legendaris yang pernah mengajarkan ajaran Islam melalui wayang golek mengikuti pendahulunya. Sebut saja Abah Asep Sunandar Sunarya, Abah Cecep Supriadi, Abah Dede Amung Sutarya, dan lain sebagainya.
Dalam setiap pagelaran yang mereka lakukan, akan ada ajakan kepada penonton mengenai kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan ajaran Islam.
Kemudian ada pula nama penceramah seperti Ramdan Juniarsyah yang menggunakan metode kultural sebagai penyampaian ajaran agama. Hingga saat ini ia masih menunjukkan nilai-nilai Islam melalui wayang dengan cara yang lucu dan menghibur.
Hingga kini, wayang golek tidak hanya hadir sebagai media pengajaran agama atau menjadi identitas agama tertentu, tetapi juga kesenian dan hiburan dalam kebudayaan Sunda yang sudah sepatutnya dilestarikan.
Selain hadir di panggung seni teater dan pertunjukan, wayang golek seringkali menjadi cindera mata wisatawan ketika berkunjung ke Tatar Sunda. Tokoh pewayangan yang populer dijadikan oleh-oleh adalah pasangan Rama dan Shinta, tokoh wayang terkenal seperti Arjuna dan Srikandi, dan tokoh Punakawan seperti Semar.
Referensi:
- https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/wayang-golek-acc/362111
- https://museumketransmigrasian.lampungprov.go.id/pages/ruang-pamer-wayang-golek
- https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek
- https://literat.republika.co.id/posts/48984/belajar-ajaran-islam-dari-wayang-golek
- Dewi, Evita., Zaenal, Mukarom., & Aang, Ridwan. (2018). Wayang Golek sebagai Media Dakwah. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 3(2), 190-207. https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1780251&val=18961&title=Wayang%20Golek%20Sebagai%20Media%20Dakwah%20Studo%20Deskriptif%20pada%20Kegiatan%20Dakwah%20Ramdan%20Juniarsyah
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


