Situs Istana Kota Piring merupakan bangunan bersejarah yang berada di wilayah Kelurahan Melayu Kota Piring, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Di tempat ini, dulu berdiri istana tempat pemerintahan Kesultanan Johor-Riau-Lingga yang dikelilingi dengan Benteng.
Tetapi keberadaan Istana Kota Piring hampir tidak dilihat jejaknya, hal ini karena di sekitar situs tersebut mulai padat dengan pemukiman penduduk. Apalagi warga setempat juga tidak begitu familier dengan keberadaan situs ini.
Dimuat dari Kebudayaan.Kemdikbud, padahal situs ini dulu adalah Istana Kota Piring yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Melayu (Jo hor) Riau. Istana ini berfungsi sejak 4 Oktober 1722 sampai 10 November 1784.
Istana Kota Piring menjadi pusat pemerintahan ketika pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah Pada 4 Oktober 1722. Sejak saat itu, Istana Kota Piring menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor-Riau-Lingga hingga 10 November 1784, ketika Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah.
Ketika Raja Haji Fisabilillah (1777-1784) memerintah, Riau menjadi salah satu pusat perdagangan paling ramai di Asia Tenggara. Namun setelah Raja Haji Fisabilillah gugur, Kesultanan Johor-Riau-Lingga terpaksa mengakui kekuasaan VOC
Kesultanan ini harus kehilangan hak monopoli perdagangan di Kepulauan Riau. Hingga Istana Kota Piring harus dibumihanguskan, sehingga tidak lagi digunakan untuk pemerintahan kesultanan.
Istana Kota Piring hanya Sisakan Fondasi
Sebenarnya kekuasaan VOC di Riau tak berlangsung lama, karena dapat diusir oleh sultan yang menerima bantuan dari berbagai daerah. Tetapi sultan tetap memindahkan pusat kekuasaannya dari Kota Piring ke Daik Lingga untuk menghindari serangan balasan dari VOC.
Aksi tersebut membuat Istana Kota Piring hanya tersisa fondasi dan dinding benteng dari batu gamping dan pasir laut, yang dulu mengelilingi istana. Padahal dalam catatan
Tuhfat Al-Nafis, Istana Kota Piring begitu megah.
Digambarkan Istana Kota Piring, mempunyai bentang keliling yang berhias pinggan dan piring dengan permukaan licin yang memantulkan sinar matahari, merupakan karya arsitektur yang luar biasa indah
Penamaan Istana Kota Piring pun berasal dari struktur tembok istana yang dipenuhi dengan piring-piring dari keramik buatan China dan Eropa. Di situs ini banyak ditemukan keramik dari masa Dinasti Yuan, Dinasti Ming, dan piring-piring dari Siam.
Sekitar Istana Kota Piring Penuh Pemukiman Warga
Dimuat dari Kompas, di sekitar Istana Kota Piring telah banyak dibangun pemukiman warga. Walau sudah ada plang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang tentang larangan membangun di kawasan tersebut, pembangunan permukiman yang dilakukan sejak 1990-an terus saja berjalan.
Sementara itu, reruntuhan Istana Kota Piring juga memprihatinkan. Tembok istana sudah lapuk dengan ketebalan rata-rata sekitar 30 cm dengan ketinggian maksimal 2 meter.
Situs bersejarah Istana Kota Piring bukanlah obyek yang menarik untuk dikunjungi warga kota Tanjungpinang. Jangankan wisatawan, warga Kepri, khususnya Tanjungpinang
diyakini tak semuanya familiar dengan situs ini.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatra Barat dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang harus mencermati potensi kerusakan situs cagar budaya ini karena dampak pembangunan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


