Muji Melirik Peluang Emas Bisnis Kambing di Tegal: Kembangkan 2.000 Ekor dengan Teknik Modern
Di wilayah Tegal, kebutuhan daging kambing untuk kuliner sate mencapai 500 hingga 1.000 ekor per hari. Angka ini dipakai untuk menyuplai ratusan warung sate yang telah menjadi ikon kuliner daerah. Masalahnya, pasokan kambing lokal belum sepenuhnya mampu mengejar laju permintaan tersebut.
Kondisi ini menjadi peluang bagi Muji mengembangkan ternak kambing.
Ia adalah Tarmuji (29), atau akrab disapa Muji, pemuda asal Desa Dukuhwaru, Tegal. Ia berhasil mengaplikasikan teknik peternakan Jepang pada kambing lokal.
Sebenarnya, latar belakang Muji tidak berasal dari keluarga peternak. Ia lulusan SMK jurusan teknik mesin. Pada usia 20 tahun, ia sempat mengadu nasib sebagai teknisi di industri perakitan sepeda motor di wilayah Jabodetabek.
Akan tetapi, panggilan pulang ke kampung halaman ternyata jauh lebih kuat daripada rutinitas kerja di pabrik. Muji telah melihat peluang di kampung halaman sehingga memilih resign dari pekerjaannya dan pulang ke desa.
“Akhirnya karena melihat peluang di Tegal, pencinta kuliner sate di sini sangat banyak. Sate Tegal beda dari yang lain. Dari situ saya berpikir kenapa tidak inisiatif untuk ternak kambing saja,” ujar Muji, dikutip dari Kompas.com.
Sempat Mencoba Sektor Pertanian
Keberhasilan Muji mengembangkan ternak kambing jelas tidak berjalan mulus. Ia pun pernah merasakan kegagalan selama masa percobaan hingga tabungannya terkuras. Sebelumnya, ia lebih dulu mencoba bercocok tanam.
Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai teknisi di perusahaan perakitan sepeda motor besar di Jabodetabek, Tarmuji mencoba peruntungan di sektor pertanian. Modalnya tidak kecil. Pesangon Rp30 jutaan ia tanamkan penuh. Pengetahuan ia dapat dari YouTube dan langsung ia praktikkan di lahan.
“Setelah saya praktikkan, ternyata hasilnya (panen) berbeda, tidak sesuai harapan. Nah ini awal dari uang saya habis semua dalam waktu tiga bulan,” katanya.
Kondisi itu memaksanya kembali ke Jakarta. Ia melakukan berbagai pekerjaan apapun. Biasanya, pagi ia berjualan telur, siang memperbaiki motor, sore membantu berjualan nasi goreng. Kadang ia dipanggil menjadi teknisi listrik gedung dan mal.
Lebih dari setahun hidup seperti itu, Tarmuji bertemu seorang pegawai bank berlatar belakang pertanian. Orang inilah yang menyarankan ia kembali ke desa sekaligus memberikan modal Rp1 juta tanpa imbalan.
Uang itulah yang ia gunakan untuk beternak cacing. Bahan bakunya diambil dari kotoran sapi dari kandang tetangga. Pilihan ini sempat membuatnya dicibir.
“Usaha ternak cacing saya awalnya diremehkan tetangga, dianggap kurang waras karena sebagai anak muda kok kerjaannya cuma ngumpulin kotoran sapi,” katanya.
Awal Mula Beternak
Muji menerapkan sistem ekonomi sirkular saat beternak cacing. Sisa kompos dari budidaya cacing tidak dibuang tetapi diolah menjadi pupuk organik. Urin kambing dan sapi ia jadikan pestisida nabati. Semua diaplikasikan ke sawah beras ketan milik ayahnya.
Pestisida nabati adalah pestisida berbahan alami, biasanya dari fermentasi tanaman atau limbah ternak. Keunggulannya, lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu kimia berat di tanah.
Produktivitas sawah saat itu sedang bagus. Harga jual beras ketan juga tinggi. Dari keuntungan itulah Tarmuji mulai membeli sapi. Awalnya tiga ekor. Kandang ia bangun di samping rumah.
Ketekunan itu menarik perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal. Tarmuji terpilih mengikuti program magang ke Jepang selama satu tahun. Di sana, ia tidak hanya belajar teknis beternak.
“Di sana saya banyak belajar bisnis pertanian, peternakan, dan perkebunan. Alhamdulillah ilmunya bisa diaplikasikan di sini yang saya rasa lebih efisien, lebih efektif, kemudian dibalut dengan inovasi terbaru, salah satunya di pembuatan pakan,” jelas Tarmuji, dikutip dari Pemkab Tegal.
Peternakan Modern di Lahan Desa hingga Belajar dari Wagyu Jepang
Sepulang dari Jepang pada 2020, Muji membangun peternakan kambing dengan pendekatan modern. Ia mulai belajar langsung ke peternak domba. Modal awalnya hanya 10 ekor. Dua tahun kemudian, jumlahnya menjadi 150 ekor. Ia membangun peternakan di atas lahan sekitar 1.700 meter persegi di Desa Dukuhwaru.

Muji Jaya Farm
Kini, ia mengelola sekitar 2.000 ekor kambing. Jumlah itu secara khusus dipersiapkan untuk menopang kebutuhan daging sate khas Tegal yang terus meningkat.
Tak hanya kuantitas, Muji juga sangat memperhatikan kualitas daging yang dihasilkan dari kambing-kambingnya.
Muji mengadopsi teknik pemeliharaan ternak yang terinspirasi dari sistem peternakan sapi Wagyu di Jepang. Teknik ini menekankan beberapa aspek utama.
Pertama, pengaturan pakan bernutrisi tinggi. Pakan dirancang untuk mendukung pembentukan lemak intramuskular. Lemak jenis ini berada di antara serat otot dan berperan besar dalam menentukan keempukan daging.
Lemak intramuskular berbeda dengan lemak yang menempel di bagian luar daging. Saat dimasak, lemak ini meleleh dan membuat daging terasa lebih empuk serta juicy. Pada daging Wagyu, pola lemak ini dikenal sebagai marbling. Muji mencoba menerapkan prinsip serupa pada kambing.
Kedua, jadwal makan yang terkontrol. Ternak tidak diberi pakan sembarangan, tetapi mengikuti ritme yang konsisten.
Ketiga, manajemen stres ternak. Stres pada hewan dapat memengaruhi kualitas daging. Dalam praktik peternakan modern, lingkungan kandang, kebersihan, dan perlakuan terhadap ternak menjadi faktor penting.
“60 persen dipengaruhi oleh pakan ternak, 10 persen metode pemotongan hewan ternak, di mana ternak tidak boleh stress. Selebihnya, 20 persen lewat cara penyajian saat diwarung dan 10 persen rahasia pemilik warung sate kambing,” jelasnya.
Teknik tersebut tidak dipelajari hanya dari buku. Muji mempelajarinya secara langsung saat berada di Jepang, lalu menyesuaikannya dengan kondisi lokal di Tegal.
“Dengan teknis tersebut kualitas daging domba yang dihasilkan memiliki tekstur premium yang menyerupai daging sapi kelas dunia,” kata Muji.
Bukan Sekadar Ternak, tapi Rantai Terpadu
Salah satu hal yang dinilai menonjol dari peternakan Muji adalah kemampuannya mengelola seluruh rantai produksi, mulai dari pengolahan pakan hingga pemanfaatan limbah. Muji menerapkan sistem ekonomi sirkular, yakni pemanfaatan ulang limbah untuk bidang lain.
Kotoran dan urin kambing tidak dibuang begitu saja. Limbah tersebut diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Pendekatan ini membantu efisiensi biaya sekaligus menjaga lingkungan.
Model peternakan yang dikembangkan Muji menarik perhatian Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih. Saat berkunjung ke Muji Jaya Farm pada masa reses Desember 2025, Fikri menilai pilihan Muji sebagai langkah strategis.
“Saya kira ini pilihan yang sangat tepat karena di era disrupsi seperti sekarang ini, sektor pertanian, peternakan, dan kuliner adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan, sehingga usaha ini akan berkelanjutan,” ujar Fikri.
Menurut Fikri, di tengah perubahan ekonomi global, sektor berbasis kebutuhan dasar justru memiliki daya tahan lebih kuat.
Permintaan sate kambing di Tegal tembus 1.000 ekor per hari. Muji mengembangkan peternakan modern dengan teknik Wagyu Jepang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


