Ada sebuah cerita yang pernah dipublikasikan secara luas pada 1959 terkait perjalanan pendakian Gunung Merapi yang ada di Yogyakarta. Jika dirunut ke waktu sekarang, pendakian salah satu gunung aktif di Jawa ini tentu tidak relate dengan kondisi saat ini.
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif yang ada di Indonesia. Gunung yang ada di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah ini sering mengalami erupsi dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun menjadi salah satu gunung teraktif, pendakian Gunung Merapi pada awalnya diperbolehkan dulunya. Terdapat beberapa jalur pendakian yang bisa digunakan untuk mendaki gunung ini, seperti Selo, Babadan, dan Kinahrejo.
Aktivitas Gunung Merapi yang cukup tinggi membuat tidak diperbolehkannya lagi para pendaki yang ingin melakukan pendakian di gunung tersebut. Tercatat kali terakhir pendakian Gunung Merapi yang masih diizinkan secara resmi terjadi pada 2018 lalu.
Mundur beberapa dekade ke belakang, ada sebuah cerita perjalanan pendakian Gunung Merapi yang tercatat dan terpublikasi secara luas. Perjalanan pendakian ini diwartakan oleh Roenoes Sukandar, seorang wartawan di surat kabar Nasional.
Ronoes Sukandar tergabung dalam tim yang melakukan pendakian ke gunung yang memiliki ketinggian 2.930 mdpl pada 1954. Perjalanan ini bukanlah pendakian biasa.
Sebab pendakian yang dilakukan pada tahun tersebut memiliki misi khusus untuk meneliti lebih lanjut terkait perkembangan ilmu pengetahuan pada waktu itu.
Cerita Pendakian Gunung Merapi 1954
Dilansir dari artikel "Ekspedisi Kepuntjak Merapi (III): Perdjalanan Mendaki Puntjak Dimulai" yang terbit di surat kabar Nasional edisi 11 Maret 1954, cerita pendakian Gunung Merapi yang dilaporkan oleh Roenoes Sukandar terjadi pada Maret 1954. Ronoes menjadi salah satu orang yang tergabung dalam tim bentukan Dinas Gunung Berapi untuk melakukan ekspedisi pada waktu itu.
Roenoes bukanlah satu-satunya jurnalis yang terlibat dalam pendakian ini. Selain dirinya, ada seorang jurnalis dari Radio Jogja, yakni Hamid yang turut merekam dan mendokumentasikan ekspedisi ini.
Sementara itu, tim utama yang dikerahkan dari Dinas Gunung Berapi untuk memimpin ekspedisi ini adalah Surjo, Djajadi, Umar Alie, dan Sudajat. Selain itu, ada juga beberapa penduduk lokal yang dilibatkan sebagai pembawa barang dan alat yang nantinya digunakan dalam proses pendakian.
Tujuan dari pendakian ini bukanlah sekadar perjalanan menaklukkan gunung saja. Tim ekspedisi ini dikirim untuk meneliti serta menambah wawasan terkait gunung berapi pada waktu itu.
Momen pendakian pada Maret 1954 ini sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan. Sebab Gunung Merapi baru saja mengalami erupsi kecil di periode keberangkatan waktu itu.
Bahkan tim ekspedisi ini menjadi tim pendaki pertama yang berhasil melakukan pendakian dan mencapai puncak setelah momen letusan Gunung Merapi yang terjadi pada waktu. Tidak heran, Bung Hatta menyematkan label "Pahlawan Merapi" kepada tim ekspedisi yang melakukan pendakian Gunung Merapi tersebut.
Perjalanan Pendakian
Cerita bermula ketika tim Ekspedisi memulai perjalanan pada Sabtu, 6 Maret 1954. Pada awalnya, tim berencana untuk memulai perjalanan pada pukul 05.00 WIB.
Namun karena situasi masih gelap, perjalanan ini akhirnya dimulai pada 06.00 WIB. Ekspedisi ini melakukan pendakian Gunung Merapi melewati jalur Selo.
Sebelum keberangkatan, Sudajat melakukan koordinasi dengan pos-pos pendakian lainnya, seperti Babadan dan Muntilan. Setiap pos juga meminta agar tim ekspedisi mengabarkan perjalanan mereka.
Dalam perjalanan ini, tim ekspedisi melalui beberapa desa yang terdampak akibat erupsi yang terjadi pada awal 1954. Salah satu desa yang dilalui oleh tim ini dalam perjalanan pendakian adalah Plalangan.
Plalangan juga menjadi desa terakhir yang ditemui tim ini sebelum memasuki hutan rimba menuju puncak. Di desa ini, tim ekspedisi melihat beberapa bekas banguna yang masih terkena dampak abu vulkanik pada waktu itu.
Dalam perjalanan ini, ada juga beberapa warga lokal yang mengikuti pendakian tim ekspedisi tersebut. Salah satu pemuda yang turut ikut dalam tim ini adalah Paidi.
Tim ekspedisi bertemu Paidi di Plalangan. Dari desa itu, pemuda ini terus mengikuti tim ekspedisi hingga 600 meter dari puncak.
Pendakian ini kemudian terus dilanjutkan dengan melewati beberapa titik penting, seperti Selokopo, Gadjah Mungkur, dan Pasar Bubar. Perjalanan ini juga turut dipantau oleh pesawat AURI dari udara yang ikut bekerja sama dalam proses ekspedisi tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


