Kawan GNFI, siapa sangka limbah wol domba yang seringkali tidak termanfaatkan, bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi? Inilah yang sedang diupayakan oleh mahasiswa IPB yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Melalui program "Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pemanfaatan Limbah Wol Merino: Studi Kasus Pelatihan Needle Felting pada Ibu-ibu PKK di Desa Kalisari", mereka berinovasi dalam mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.
Desa Kalisari, yang dikenal sebagai desa eduwisata berbasis produksi tahu, memiliki potensi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal, salah satunya adalah limbah wol merino dari peternakan lokal.
Bayangkan saja, peternakan ASF Farm yang dikelola oleh Pak Retno Aji menghasilkan sekitar 150 kg limbah wol per tahun. Selama ini, limbah tersebut cenderung dibuang atau dibakar karena biaya pengiriman untuk penjualan lebih tinggi dibandingkan nilai jualnya, ditambah lagi minimnya fasilitas pengolahan di sekitar Kabupaten Banyumas.
Melihat kondisi ini, tim KKN IPB menghadirkan solusi inovatif: pelatihan needle felting. Teknik needle felting adalah salah satu metode pengolahan wol yang relatif murah dan sederhana, dengan melibatkan proses mengikat serat wol secara mekanis menggunakan jarum berduri tajam untuk membentuk tekstur padat sesuai keinginan.
Teknik ini membutuhkan ketelitian, keuletan, dan kesabaran, karakteristik yang sangat cocok dengan profil ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta sejalan dengan semangat peningkatan keterampilan yang diusung PKK.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai potensi bisnis dari pengolahan limbah wol merino melalui teknik needle felting, mengembangkan keterampilan praktis peserta dalam membuat produk needle felting (khususnya boneka gantungan kunci), dan mendorong keberlanjutan program dengan penetapan kegiatan ini sebagai program rutin PKK Kalisari.
Produk luaran yang dipilih pun sangat kontekstual, yaitu boneka gantungan kunci berbentuk tahu putih, yang mengaitkan dengan identitas Desa Kalisari sebagai sentra produksi tahu. Diharapkan produk ini dapat menjadi suvenir menarik bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan tahap promosi yang gencar, dilakukan melalui rapat koordinasi PKK tingkat RT dan RW, serta penyebaran informasi via pesan berantai (jarkoman), leaflet, dan video tutorial di grup WhatsApp PKK.
Kemudian, pada tahap pra-kegiatan, tim mengadaan wol merino dari peternakan ASF Farm yang telah dicuci dan dicukur. Sebanyak 500 gram wol disisir dan 40 kawat gantungan kunci diluruskan, diikuti dengan uji coba pembuatan boneka gantungan kunci untuk mengestimasi waktu pengerjaan.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 24 Juli 2025, pukul 13.00 WIB, di Pendopo Balai Desa Kalisari. Dari 40 undangan, 30 peserta hadir. Setiap peserta menerima satu kit needle felting lengkap, berisi wol putih, wol berwarna, kawat gantungan kunci, spons, dan jarum felting. Peserta dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing dengan penanggung jawab yang siap membantu dan memberikan arahan teknis.
Kegiatan diawali dengan pengisian pre-test bagi peserta yang datang lebih awal, kemudian dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi selama 30 menit. Materi mencakup peluang bisnis boneka gantungan kunci dari limbah wol merino dan proses needle felting.
Setelah itu, sesi praktik langsung selama 90 menit menjadi momen seru bagi ibu-ibu PKK untuk berkreasi. Selama praktik, tim juga melakukan wawancara singkat untuk menggali kesan dan masukan.
Di akhir sesi, dua peserta terbaik dipilih dan diberikan apresiasi berupa sisir wol dan wol siap sisir, sebagai penyemangat untuk melanjutkan kreasi mereka. Kegiatan ditutup dengan dokumentasi dan pembuatan konten TikTok yang menampilkan hasil karya peserta.
Hasilnya, Kawan GNFI, sungguh menggembirakan! Sebanyak 25 boneka gantungan kunci berhasil dibuat selama sesi praktik. Meskipun ada kendala teknis seperti kualitas wol yang bervariasi, semangat peserta tetap tinggi. Peningkatan pemahaman juga terlihat dari hasil
pre-test dan post-test, di mana nilai rata-rata post-test meningkat 22% dibandingkan pre-test. Lebih dari itu, program ini berhasil ditetapkan menjadi kegiatan rutin PKK Kalisari di bawah naungan Pokja 2, yang diketuai oleh Ibu Eni Wardani.
Untuk mendukung keberlanjutan komunitas ini, diberikan bantuan berupa sisir stainless steel, wol siap sisir, kawat gantungan kunci, cat warna, dan akses ke video tutorial via YouTube.
Tentu saja, ada beberapa evaluasi yang menjadi catatan penting. Beberapa peserta mengalami cedera ringan akibat tertusuk jarum felting, dan beberapa jarum patah. Namun, tim sigap menyediakan P3K dan jarum cadangan, serta memberikan instruksi ulang teknik penusukan yang benar.
Sesi penyampaian materi juga kurang kondusif karena peserta cenderung langsung praktik atau mengobrol, diduga karena pemberian kit felting terlalu awal dan gaya penyampaian materi yang kurang interaktif. Terkait pengisian pre-test dan post-test, beberapa peserta pulang lebih awal atau datang terlambat, serta ditemukan kesalahan teknis dalam pembagian lembar tes.
Meskipun demikian, respons peserta sangat positif. Ibu Kasiyati senang karena memperoleh pengetahuan baru tentang pengolahan limbah wol. Ibu Dewi menilai pengalaman membuat boneka needle felting menyenangkan dan baru.
Ibu Kanthi berterima kasih karena dapat menambah ilmu baru dan berharap dapat menambah penghasilan. Ibu Novi bahkan berpesan agar mahasiswa dapat memberikan teknik lain yang lebih aman dalam membuat boneka dari bulu domba.
Tim KKN IPB memberikan saran bagi Pemerintah Desa Kalisari untuk membantu pendanaan pengadaan mesin pemintal bulu domba dan membantu pemasaran produk yang diintegrasikan dengan wisata edukasi berbasis produksi tahu. Untuk PKK Kalisari, disarankan untuk membuat MoU dengan Peternakan Domba Merino ASF Farm milik Pak Dirin untuk kepastian pasokan bulu domba.
Program ini adalah contoh nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat mengubah limbah menjadi berkah, sekaligus memberdayakan masyarakat secara ekonomi. Semoga program ini terus berlanjut dan membawa dampak positif yang lebih luas bagi Desa Kalisari!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


