Dalam banyak puisi sosial, konflik tidak selalu ditampilkan melalui adegan kekerasan, bentrokan fisik, atau teriakan revolusioner. Ia justru hadir secara halus melalui bahasa, bahkan lewat kata ganti.
“Kami” dan “kau” menjadi penanda posisi, relasi kuasa, sekaligus luka yang dipendam. Dalam puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan Kau karya Nuke Hanasasmit, pertarungan itu terasa jelas, suara kolektif rakyat yang tertindas berhadapan langsung dengan figur kekuasaan yang abai, dingin, dan menindas.
Puisi-puisi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman sosial yang timpang, ketika pembangunan, stabilitas, dan kenyamanan segelintir elite dibayar mahal oleh penderitaan banyak orang.
Karena itu, membaca kedua puisi ini bukan hanya soal menikmati keindahan bahasa, tetapi juga memahami fungsi puisi sebagai alat perlawanan, ruang kesaksian, dan sarana membangun kesadaran bersama.
“Kami” sebagai Subjek Perlawanan
Dalam puisi Bunga dan Tembok, Wiji Thukul menggunakan metafora yang sederhana, tetapi tajam dan politis. Kalimat “Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh” langsung memosisikan “kami” sebagai subjek kolektif yang ditolak keberadaannya. Bunga, yang biasanya melambangkan keindahan, kehidupan, dan harapan, justru dianggap mengganggu.
Sebaliknya, “tembok” hadir sebagai simbol kekuasaan, kokoh, dingin, membatasi ruang hidup, dan menutup kemungkinan.
Namun, puisi ini tidak berhenti pada keluhan. Di balik gambaran penindasan, Wiji menyisipkan harapan yang bersifat politis, “biji-biji telah disebar, dan suatu saat tembok harus runtuh.”
Harapan di sini bukan utopia kosong, melainkan keyakinan bahwa perlawanan, sekecil apa pun, memiliki potensi tumbuh. Puisi menjadi medium untuk menyatakan bahwa suara rakyat tidak bisa selamanya dibungkam.
Nada perlawanan yang serupa muncul dalam puisi Kau karya Nuke Hanasasmit, meskipun dengan gaya yang lebih lugas dan konfrontatif. Repetisi seruan “Lihat kami!” menjadi pusat puisi ini.
Seolah-olah penyair memaksa penguasa untuk menoleh, mengakui keberadaan mereka yang selama ini diabaikan.
Puisi ini menghadirkan ironi yang tajam, rakyat bekerja keras, berpeluh, dan bertahan hidup dari hari ke hari, sementara “kau” justru “menari-nari di atas penderitaan kami”.
Tidak ada metafora yang berbelit. Yang ada adalah kemarahan yang jujur, gugatan moral yang langsung diarahkan kepada pemegang kuasa. Puisi Kau tidak meminta belas kasihan; ia menuntut pengakuan.
Puisi sebagai Bahasa Tandingan
Jika dibaca melalui gagasan Antonio Gramsci, kedua puisi ini dapat dipahami sebagai upaya melawan hegemoni. Kekuasaan tidak hanya bekerja lewat aparat, hukum, atau kekerasan fisik, tetapi juga lewat bahasa, wacana, dan penerimaan.
Ketidakadilan menjadi terasa wajar ketika rakyat terbiasa diam dan menganggap penderitaan sebagai takdir.
Puisi Bunga dan Tembok dan Kau hadir sebagai bahasa tandingan. Ketika penyair berkata “kami”, ia sedang membangun kesadaran kolektif. Ia mengingatkan bahwa penderitaan bukan persoalan individu yang gagal, malas, atau tidak kompeten, melainkan persoalan struktural yang dialami bersama. Kata “kami” menjadi tindakan politis.
Dalam konteks ini, pemikiran Frantz Fanon membantu kita melihat puisi-puisi tersebut sebagai bagian dari proses pembebasan. Bahasa dalam puisi tidak netral. Ia lahir dari pengalaman tertindas dan berfungsi mengembalikan martabat yang dirampas.
Kemarahan, tudingan, dan keyakinan akan runtuhnya tirani bukan sekadar luapan emosi, melainkan ekspresi kesadaran politis. Puisi menjadi ruang bagi mereka yang selama ini tidak diberi “mikrofon”.
Narasi Tandingan terhadap Kekuasaan
Melalui perspektif Edward Said, puisi-puisi ini juga dapat dibaca sebagai narasi tandingan. Ketika negara atau elite berbicara tentang pembangunan, kemajuan, dan ketertiban, puisi justru menghadirkan cerita dari sisi yang disingkirkan.
Bunga dan Tembok menolak narasi pembangunan yang merampas ruang hidup rakyat atas nama kepentingan besar. Kau membongkar kemunafikan elite yang berbicara tentang moral dan kemajuan, tetapi menutup mata terhadap penderitaan sosial.
Dengan demikian, puisi menjadi sarana untuk mengatakan bahwa selalu ada cerita lain di balik narasi resmi. Cerita yang tidak masuk pidato, laporan, atau iklan pembangunan.
Pendekatan Lucien Goldmann memperkuat pembacaan ini. Struktur oposisi dalam kedua puisi “kami” dan “kau”, “bunga” dan “tembok”, “keringat” dan “menari”, bukan kebetulan estetis.
Ia mencerminkan pandangan dunia kelompok sosial tertentu. Puisi ini bukan curahan perasaan personal semata, melainkan ekspresi kesadaran kolektif kelompok tertindas.
Wiji Thukul dan Puisi yang Hidup di Jalanan
Kekuatan puisi Wiji Thukul tidak bisa dilepaskan dari riwayat hidupnya. Lahir dari keluarga tukang becak di Solo, tumbuh di lingkungan buruh dan kampung, Wiji menjadikan puisi sebagai alat perjuangan.
Puisinya tidak hanya dibacakan di ruang sastra, tetapi juga di pabrik, kampung, dan jalanan. Ia menulis dari pengalaman langsung, dari keringat dan luka nyata.
Aktivisme Wiji bersama buruh, petani, dan mahasiswa, membuat puisinya hidup di tengah masyarakat. Tak heran jika sajak-sajaknya lebih banyak beredar dalam bentuk fotokopi daripada buku resmi.
Puisinya bergerak dari tangan ke tangan, dari mulut ke mulut, menjadi suara mereka yang dibungkam Orde Baru. Hingga kini, hilangnya Wiji Thukul masih menjadi luka sejarah yang belum sembuh.
Sementara itu, puisi Kau karya Nuke Hanasasmit hadir dari konteks yang berbeda, tetapi menyuarakan kegelisahan yang serupa. Dengan bahasa yang lugas dan penuh semangat, Nuke menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial dan ketidakpedulian penguasa.
Meski informasi biografinya terbatas, puisinya telah menjadi bagian dari kajian akademis dan diskursus kritik sosial sastra Indonesia.
Mengapa Masih Relevan Hari Ini?
Di tengah situasi sosial hari ini, ketimpangan ekonomi, penggusuran, krisis kemanusiaan, dan narasi sukses yang menekan, puisi-puisi semacam ini terasa tetap relevan. Mereka mengingatkan kita bahwa sastra bukan sekadar hiburan atau keindahan bahasa, tetapi juga alat untuk menggugat, mengingatkan, dan melawan lupa.
Ketika “kami” melawan “kau”, puisi berubah menjadi ruang perlawanan. Kata-kata bekerja sebagai senjata yang halus, tetapi tajam. Dan mungkin, seperti biji-biji di tubuh tembok itu, puisi-puisi ini akan terus tumbuh, menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan ketidakadilan yang terlalu lama dibiarkan berdiri.
Mari menyelami kata, suara, dan perlawanan. Sebab puisi seperti yang ditunjukkan Wiji Thukul dan Nuke Hanasasmit bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang keberanian untuk berkata: kami ada, kami melihat, dan kami tidak lagi diam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


