wayang sadat dan wayang wahyu - News | Good News From Indonesia 2026

Wayang Sadat dan Wayang Wahyu, ketika Wayang jadi Alat Akulturasi dan Penyebaran Agama

Wayang Sadat dan Wayang Wahyu, ketika Wayang jadi Alat Akulturasi dan Penyebaran Agama
images info

Wayang Sadat dan Wayang Wahyu, ketika Wayang jadi Alat Akulturasi dan Penyebaran Agama


Kawan GNFI, selama ini, kita mengetahui wayang sebagai sebuah hiburan tradisional Indonesia yang terdiri dari dalang, gamelan, dan boneka-boneka kulit dengan peran tertentu.

Namun, tahukah Kawan bahwa wayang juga menjadi alat akulturasi dan penyebaran agama Islam dan Kristen di Indonesia?

Kali ini, Kawan akan berkenalan dengan sejarah wayang secara umum dan dua jenis wayang spesifik yang dipakai untuk memperkenalkan Islam dan Kristen pada masyarakat Indonesia: Wayang Sadat dan Wayang Wahyu.

Jejak Sejarah Wayang di Indonesia Secara Umum

Dikutip dari Tempo, UNESCO mengakui wayang sebagai bagian dari kebudayaan oral takbenda kemanusiaan Indonesia pada 7 November 2003 dan masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia 5 tahun kemudian.

Pengakuan dari UNESCO ini membuat pemerintah Indonesia menentukan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30 2018.

Dikutip dari situs Jendela Kemdikbud, wayang sudah ada sejak 1500 SM sebagai bagian dari ritual pemujaan roh nenek moyang atau hyang jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Nusantara.

Lalu, seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia, wayang mengalami akulturasi dengan budaya setempat dengan adanya penambahan tokoh-tokoh wayang.

Cerita-cerita epik seperti Ramayana dan Mahabharata dari India mulai diadaptasi dan disisipkan ke dalam lakon wayang.

Para pujangga Jawa tidak hanya menyalin cerita tersebut, tetapi juga melakukan proses pribumisasi dengan menambahkan tokoh-tokoh lokal seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong yang dikenal sebagai Punakawan.

Pada masa inilah, wayang menjadi media utama bagi penyebaran nilai-nilai dharma dan filosofi hidup masyarakat agraris di Jawa, Bali, dan wilayah sekitarnya.

Seiring dengan berkembangnya zaman, masuknya pengaruh agama lain seperti Islam dan Kristen di Indonesia, serta percampuran budaya-budaya lokal, wayang pun memiliki fungsi lain: penyebaran agama.

baca juga

Islam dan Wayang: Dari Walisongo sampai Wayang Sadat

Islam dan Wayang: Dari Walisongo sampai Wayang Sadat
info gambar

Wayang Sadat, Salah Satu Jenis Wayang untuk Menyebarkan Agama Islam | Foto: Dokumen Pribadi


Ketika pengaruh Islam mulai masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, para pendakwah yang dikenal dengan sebutan Walisongo di Pulau Jawa melihat potensi besar dalam kesenian ini.

Dikutip dari Republika, budayawan Nahdlatul Ulama, M. Jadul Maula, menyebutkan bahwa para wali Walisongo merumuskan ajaran dasar Islam dan kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai masyarakat.

Lalu, para Walisongo memasukkan nilai baru dalam wayang seperti bersabar, mengalah, ikhlas, musyawarah, dan mufakat serta menerjemahkan istilah-istilah ajaran Islam ke dalam bahasa lokal seperti kalimosodo untuk istilah syahadat dan puasa untuk istilah shaum. Singkatnya, wayang digunakan sebagai alat pendidikan masyarakat.

Salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam melalui wayang ini adalah Sunan Kalijaga. Dikutip dari situs resmi iNews, Sunan Kalijaga membuat beberapa modifikasi dari wayang, salah satunya adalah mengukir adegan wayang di atas kulit kambing. Sebelumnya, adegan wayang diukir di atas kertas dan gambarnya menyerupai wujud manusia.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam wayang. Dari wayang buatannya, tertancap ajaran untuk menghilangkan kesombongan, menguatkan iman, dan mencari teman yang baik sebanyak mungkin.

Dalam perkembangannya di masa modern, penggunaan wayang sebagai alat penyebaran agama Islam semakin spesifik dengan lahirnya Wayang Sadat. Dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Wayang Sadat diciptakan oleh Suryadi Warnosuhardjo - seorang pendidik dan penulis dari Desa Sabrang Lor, Klaten, yang lahir pada tahun 1912 - dan wayang ini mengisahkan kisah Walisongo dan penyebaran agama Islam di Jawa.

Dikutip dari biografi beliau, Suryadi: Sosok dan Kreativitasnya karta Siti Ajar Ismiyati, Wayang Sadat yang memiliki singkatan dari Sarana Dakwah dan Tabligh dibuat pada tahun 1973 dan berhasil digelar sebagai pertunjukan bernafas Islam pada tahun 1986. Nama Sadat dari “Wayang Sadat” sendiri diambil dari kata Syahadat, yang merupakan pilar pertama dalam rukun Islam.

baca juga

Wayang Wahyu sebagai Alat Penyebaran Agama Kristen

Wayang Wahyu sebagai Alat Penyebaran Agama Kristen
info gambar

Wayang Wahyu yang Digunakan untuk Penyebaran Agama Kristen | Foto: Dokumen Pribadi


Tidak hanya dalam lingkup Islam, wayang juga menjadi instrumen penting dalam sejarah akulturasi agama Kristen dan Katolik di Indonesia.

Gereja menyadari bahwa untuk menyebarkan "Kabar Gembira" kepada masyarakat Jawa, mereka harus berbicara melalui bahasa budaya yang sudah mendarah daging.

Penggunaan unsur budaya lokal ini dilakukan agar ajaran Kristiani tidak dianggap sebagai "agama Barat" yang asing, melainkan ajaran yang mampu berakar dalam identitas lokal.

Proses akulturasi ini memungkinkan masyarakat untuk memahami kisah-kisah Alkitab tanpa kehilangan jati diri kebudayaannya.

Wayang menjadi bahasa visual yang mempermudah pemahaman tentang kasih, penebusan, dan pengorbanan dalam perspektif Kristiani.

Salah satu inovasi terbesar dalam wayang sebagai alat penyebaran agama Kristen adalah munculnya Wayang Wahyu. Dikutip dari situs resmi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, perjalanan Wayang Wahyu dimulai dari pementasan lakon “Daud Mendapat Wahyu Akan Menjadi Raja” oleh M.M. Atmowiyono pada tahun 1957.

Bruder Timotheus L. Wignyosubroto, FIC, atau Bruder Wignyo selaku salah satu penonton lakon tersebut kemudian membuat tim yang merumuskan konsep Wayang Katolik yang nantinya akan menjadi Wayang Wahyu.

Wayang Wahyu nantinya akan dipentaskan pertama kali di Gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri Purbayan Solo pada 2 Februari 1960 dengan tiga lakon: “Malaikat Mbalela”, “Manusia Pertama Jatuh dalam Dosa”, dan “Kelahiran Tuhan Yesus Kristus”.

Beberapa bulan setelah pementasan ini, tim Wayang Wahyu ini tampil di depan Uskup Albertus Sugiyapranata dari Semarang. Wayang ini kemudian dikembangkan oleh beliau sebelum akhirnya mendapat imprimatur atau izin penayangan karya dari otoritas Gereja.

Dikutip dari Liputan6 SCTV, wayang ini menjadi identik dengan kisah-kisah Alkitab dengan waktu pementasan 2-4 jam. Bukan hanya di Jawa saja wayang ini dipentaskan. Dikutip dari situs resmi Radio Republik Indonesia, Wayang Wahyu juga menjadi tradisi natal di Jogjakarta

Harmoni dalam Kelir Peradaban

Sejarah Wayang Sadat dan Wayang Wahyu menunjukkan betapa fleksibelnya kebudayaan Indonesia dalam menyerap ajaran-ajaran spiritual dari luar. Wayang telah membuktikan perannya bukan hanya sebagai karya seni yang indah secara visual, tetapi juga sebagai wadah toleransi dan alat komunikasi yang ampuh.

Melalui penggunaan wayang sebagai alat penyebaran agama, nilai-nilai luhur ketuhanan dapat disampaikan tanpa harus mencerabut akar budaya lokal. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa di Indonesia, agama dan budaya tidaklah saling bertentangan, melainkan saling memperkaya satu sama lain.

Bagi Kawan GNFI, menjaga kelestarian wayang-wayang ini adalah bagian dari menjaga napas keberagaman yang menjadi identitas bangsa kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.