Aktivitas ekonomi di Pasar Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, perlahan kembali hidup pascabanjir yang sempat melumpuhkan aktivitas perdagangan. Di balik lumpur yang belum sepenuhnya kering dan parit-parit yang masih dibersihkan, semangat para pedagang untuk bangkit mulai terlihat.
Aktivitas ekonomi kini ditandai dengan kios-kios yang mulai dibuka meski sisa lumpur masih melekat di sudut lorong dan parit pasar belum sepenuhnya bersih. Sebelumnya aktivitas ekonomi di Pasar Kuala Simpang sempat berhenti total ketika banjir membuat akses jalan tertutup dan pedagang diminta mengungsi demi keselamatan.
Keberanian pedagang kecil yang memilih bertahan meski kondisi pasar jauh dari kata normal membuat ekonomi rakyat kembali hidup. Hal itu memperlihatkan daya lenting masyarakat akar rumput yang menolak menyerah pada bencana.
Sosok Surahim
Surahim (45) seorang tukang sepatu asal Desa Bukit Rata, Kecamatan Kuala Simpang, menjadi potret nyata ketangguhan pedagang kecil dalam menjaga aktivitas ekonomi di Pasar Kuala Simpang pascabencana.
Dirinya masih mengingat jelas bagaimana air banjir naik cepat hingga membuat pasar tak bisa diakses dan aktivitas perdagangan berhenti seketika.
“Waktu banjir, air tinggi sekali, jalan tidak bisa dilewati dan kami diminta menjauh demi keselamatan,” ujar Surahim.
Setelah melalui masa-masa gelap itu, Surahim kembali ke tokonya dengan perasaan campur aduk sambil memeriksa satu per satu sepatu yang terendam air dan lumpur. Sebagian barang dagangan masih bisa diselamatkan, sebuah keberuntungan kecil di tengah kerugian besar yang dialami banyak pedagang lain.
Dia yang membaca kebutuhan pasar kemudian memilih menjual sepatu pacul atau sepatu bot karet yang sangat dibutuhkan warga dan petugas pembersih lumpur.
“Sepatu bot paling dicari karena banyak yang membersihkan lumpur,” kata Surahim sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Selama hampir sepekan, ia membersihkan tokonya sedikit demi sedikit sambil tetap membuka lapak agar dapur tetap mengepul. Dia sempat berjualan di bagian depan pasar yang lebih ramai, namun memilih kembali ke kios lamanya agar proses pembersihan bisa berjalan beriringan dengan aktivitas jual beli.
Meminta bantuan pemerintah
Surahim mengaku sudah menerima bantuan kebutuhan dasar dari pemerintah daerah, perangkat desa, dan sejumlah pihak terkait. Bantuan tersebut setidaknya membantu bertahan hidup di saat pendapatan belum kembali stabil.
Meski demikian, ia menilai pemulihan aktivitas ekonomi di Pasar Kuala Simpang masih membutuhkan waktu dan kerja bersama. Parit yang tersumbat dan lorong pasar yang belum sepenuhnya bersih dinilai menghambat arus pembeli.
Surahim menyimpan harapan besar pada dukungan lanjutan dari pemerintah. Termasuk pemberian modal agar usahanya bisa kembali berjalan.
“Kami berharap ada keringanan atau solusi untuk utang modal, karena kondisi kami masih sangat berat,” ujarnya dengan nada jujur.
Skema Pemulihan UMKM
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Menurutnya, pemulihan tidak hanya menyasar pembersihan fisik pasar, tetapi juga pemulihan ekonomi pelaku usaha.
Pemerintah, kata Ibnu Azis, telah menyiapkan Program Klinik UMKM melalui Kementerian Koperasi dan UKM.
Program tersebut mencakup pendampingan usaha, suntikan modal, hingga skema penghapusan atau keringanan utang bagi UMKM terdampak banjir.
“Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi pedagang sekaligus menguatkan kembali semangat mereka untuk bangkit,” kata Ibnu Azis.
Hingga 1 Januari 2026, progres pembersihan Pasar Kuala Simpang telah mencapai sekitar 90 persen. Jika cuaca mendukung, pembersihan ditargetkan rampung pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Upaya tersebut melibatkan lintas sektor mulai dari dinas daerah, TNI, BNPB, hingga Balai Pelaksana Jalan Nasional.
Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar aktivitas ekonomi di Pasar Kuala Simpang bisa kembali normal.
Bagi para pedagang, pasar bukan sekadar tempat berdagang, melainkan ruang hidup yang menentukan masa depan keluarga.
Dengan lumpur yang perlahan disingkirkan, harapan pun kembali ditata. Pasar Kuala Simpang diharapkan kembali menjadi pusat denyut ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


