museum asmat tmii menengok bagaimana luhurnya budaya asmat di tanah papua - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Asmat TMII, Menengok Bagaimana Luhurnya Budaya Asmat di Tanah Papua

Museum Asmat TMII, Menengok Bagaimana Luhurnya Budaya Asmat di Tanah Papua
images info

Museum Asmat TMII, Menengok Bagaimana Luhurnya Budaya Asmat di Tanah Papua


 

Museum Asmat di Jakarta Timur ini punya cara sendiri buat memindahkan suasana Papua ke tengah kota. Atap kerucutnya yang menjulang 25 meter itu meniru model rumah Kariwari milik suku Tobati Enggros dari Danau Sentani. Begitu melihat bangunannya, Kawan akan langsung tahu bahwa ini bukan sekadar gedung pameran biasa yang kaku.

Warna merah bata, putih kapur, dan hitam arang mendominasi setiap sudut bangunan yang punya luas sekitar 6.500 meter persegi ini. Lokasinya berada tepat di area Taman Bunga Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah. Kawan bisa masuk ke sini dengan jalan kaki lewat taman bunga tersebut atau lewat jembatan dekat Taman Akuarium Air Tawar.

Di dalam, suasananya terasa lebih tenang karena penggunaan material yang memberikan kesan tradisional seperti daun rumbia pada atapnya. Tidak ada kesan mewah yang dipaksakan, yang ada hanyalah ruang-ruang luas berisi karya kayu yang menunjukkan bagaimana suku Asmat bertahan hidup di tengah kerasnya alam liar.

 

Sekilas Mengenai Museum Asmat

Museum ini ada karena dulu banyak orang luar negeri yang sangat meminati ukiran Asmat sehingga banyak artefak yang dibawa keluar negeri. Ibu Tien Soeharto akhirnya memprakarsai pembangunan gedung ini agar karya tersebut tetap ada di Indonesia dan bisa dipelajari. Pembangunannya selesai dalam waktu singkat dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1986.

Struktur bangunannya terdiri dari tiga gedung utama berbentuk segi delapan yang dibuat mirip rumah panggung. Model arsitektur ini sengaja dipilih agar tetap selaras dengan identitas masyarakat di pesisir selatan Papua yang akrab dengan air. Fungsinya jelas sebagai tempat menyimpan dan memamerkan identitas etnografi suku Asmat secara utuh kepada masyarakat luas di ibu kota.

Setiap bagian bangunan diberi ragam hias khas yang mencerminkan pandangan hidup suku tersebut terhadap alam dan leluhur. Meskipun bangunannya sudah menggunakan material modern, kesan rumah pemujaan tradisional tetap dipertahankan dengan sangat kuat. Tempat ini menjadi wadah penting untuk melihat sejarah peradaban Papua tanpa perlu menempuh perjalanan ribuan kilometer.

 

Daya Tarik Utama Museum Asmat

Isi museum ini dibagi berdasarkan tema yang memudahkan Kawan untuk memahaminya secara runtut. Di bagian awal, fokusnya adalah hubungan manusia dengan lingkungannya sehingga banyak pakaian adat dari serat tumbuhan dipamerkan. Ada juga perhiasan, sampai diorama orang yang sedang menokok sagu sebagai sumber pangan utama mereka.

Salah satu benda yang paling mencolok di sini adalah wuramon atau perahu arwah yang ukurannya cukup besar. Masuk ke area berikutnya, koleksinya lebih banyak bicara soal alat bertahan hidup seperti senjata, peralatan berburu, dan alat musik tradisional. Kawan juga bisa melihat si atau kapak batu yang dulunya digunakan sebagai alat utama masyarakat di sana.

Bagian yang paling menarik sebenarnya ada di ruang kreativitas yang menampilkan hasil pahatan para wow ipits atau pengukir ahli. Di sini tersimpan patung nenek moyang yang disebut mbis pole dan piring kayu untuk sagu yang disebut jipai. Pahatan mereka sangat detail meski hanya menggunakan peralatan sederhana seperti gigi binatang atau cangkang siput.

Bagi suku Asmat, setiap ukiran kayu itu bukan cuma pajangan, tapi punya ikatan batin dengan leluhur yang sudah meninggal. Mereka percaya bahwa ukiran tersebut bisa melindungi keluarga dari gangguan roh jahat yang mungkin datang. Koleksi tengkorak sepasang suami istri yang disimpan sebagai bentuk penghormatan juga bisa Kawan temukan di dalam lemari pameran tertentu.

 

Akses Menuju Museum Asmat

Lokasi museum ini berada di komplek TMII, Cipayung, Jakarta Timur yang sangat mudah diakses kendaraan. Kalau Kawan membawa kendaraan pribadi, keluar saja di pintu tol TMII dan arahkan kendaraan ke kantong parkir utama yang sudah disediakan. Dari situ, Kawan bisa lanjut menggunakan layanan transportasi internal kawasan yang rutin berkeliling setiap beberapa menit sekali.

Bagi pengguna transportasi umum, naik saja Transjakarta jurusan TMII dari berbagai koridor yang tersedia. Dari halte busway, Kawan bisa masuk ke area utama dan lanjut jalan kaki atau naik shuttle gratis untuk mencapai lokasi. Cari saja bangunan dengan atap kerucut paling tinggi di dekat Taman Bunga Keong Emas, maka Kawan sudah sampai di titik lokasi tersebut.

 

Jam Operasional Museum Asmat

Museum ini buka setiap hari dari jam 09.00 pagi sampai jam 16.00 sore waktu setempat. Kalau mau melihat koleksinya dengan lebih santai tanpa gangguan, datanglah di hari kerja karena suasananya tidak akan seramai akhir pekan. Kawan punya waktu yang cukup untuk mengeksplorasi seluruh bagian gedung tanpa perlu terburu-buru oleh waktu tutup operasional.

 

Ayo Berkunjung ke Museum Asmat!

Datang ke tempat ini adalah cara untuk menghargai hasil tangan orang-orang hebat dari timur Indonesia secara langsung. Kawan tidak perlu banyak teori untuk paham betapa rumitnya sebuah pahatan kayu jika sudah melihatnya sendiri di depan mata. Museum Asmat adalah tempat yang pas untuk istirahat sejenak sambil belajar hal baru.

Ajak teman atau keluarga untuk melihat sisi lain dari kekayaan budaya bangsa yang mungkin selama ini cuma Kawan lihat di buku sekolah. Jangan lupa bawa kamera karena bentuk bangunan Kariwari ini cukup unik untuk diabadikan sebagai kenangan kunjungan Kawan ke TMII.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.