Sabtu pagi, (3/1), di awal 2026, puluhan pelajar SD dan SMP bersama komunitas Tunas Hijau dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya melakukan aksi nyata dengan bersih-bersih pantai batu-batu Kenjeran.
Saat pekan pertama pasca-libur sekolah, puluhan pelajar memilih memunguti sampah-sampah yang mengganggu keindahan pantai dan berbahaya bagi lingkungan. Di atas tumpukan batu-batu pantai, mereka bahu membahu membersihkan pantai dari sampah.
Puluhan Pelajar Duta Lingkungan Hidup
Puluhan pelajar tersebut adalah duta lingkungan hidup di sekolahnya masing-masing. Mereka adalah belia yang memiliki kepedulian tinggi pada bumi yang memiliki berbagai proyek lingkungan hidup.
Ada yang memiliki proyek pengolahan sampah organik, budidaya tanaman, pemanfaatan cangkang telur, dan sebagainya. Aksi bersih-bersih pantai ini adalah kegiatan rutin yang mereka ikuti pada setiap minggunya sejak tahun sebelumnya.
Menariknya, dalam aksi ini, para pelajar duta lingkungan hidup juga mengajak orang tuanya untuk turut serta. Ada yang mengajak bundanya saja, ayahnya saja, bahkan ada yang kedua orang tuanya ikut diajak dalam aksi ini.
Di antaranya adalah Princess Zelda Ilmiah, pelajar SMPN 29 Surabaya, yang juga merupakan Putri V Lingkungan Hidup 2025 SMP. Dia menuturkan bahwa selalu mengajak ayah bundanya untuk ikut bersih-bersih pantai, sebagai upaya untuk mewujudkan keluarga zero waste, yaitu keluarga yang memiliki kesadaran gaya hidup meminimalkan produksi sampah, yang salah satunya diwujudkan dengan turut serta dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan sekitar. Dengan demikian mereka, para pelajar, tidak hanya menjadi duta lingkungan hidup bagi sekolahnya tetapi juga bagi keluarganya.
Menyasar Sampah Tersembunyi di Sela-Sela Batu
Pantai Batu-Batu Kenjeran memang memiliki pesona sebagai tempat duduk-duduk santai sambil menikmati keindahan pantai dan hembusan angin bagi warga atau wisatawan yang berkunjung. Namun, celah di antara bebatuan sering kali menjadi "tempat sampah" bagi pengunjung yang tidak bertanggung jawab.
Sampah-sampah tersebut juga berasal dari laut yang terbawa ombak ke pantai dan terjebak di antara bebatuan. Banyak jenis sampah yang ditemukan, seperti sampah plastik, saset, sedotan, styrofoam, puntung rokok, potongan baju, hingga pecahan kaca, yang sekilas tersembunyi dari pandangan mata namun merusak ekosistem pesisir.
Memang tantangan bersih-bersih pantai di tempat ini adalah memerlukan ketelitian untuk menemukan dan mengambili sampah-sampah di antara bebatuan. Namun bagi para pelajar duta lingkungan hidup, mereka sudah paham dan terbiasa dengan tantangan tersebut, sehingga tidak menjadi sebuah masalah.
Mereka justru berlomba-lomba untuk mendapatkan sampah sebanyak mungkin. Berbekal karung/sak dari DLH, kaos tangan, dan atau penjepit sampah, mereka memunguti sampah satu persatu dan dimasukkan dalam karung. Karung-karung sampah yang sudah penuh diangkut ke truk sampah DLH yang sudah disiapkan.
Salah seorang peserta aksi, Sanggrama Rasio Al-Warisyi, pelajar SDN Kaliasin I Surabaya, menuturkan bahwa sampah yang banyak dia temukan adalah kemasan sachet, diapers, limbah tekstil, dan yang berbahaya adalah pecahan botol kaca karena bisa melukai kaki apabila orangnya tidak hati-hati. Dia berharap dengan aksi bersih pantai ini bisa menjaga ekosistem pantai di pesisir Surabaya.
Bukan Hanya Aksi Awal Tahun
Komunitas Tunas Hijau sebagaimana dalam website-nya menegaskan bahwa aksi bersih pantai adalah kegiatan rutin tiap minggu yang sudah dilakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. Pekan awal tahun ini adalah seri yang ke 216, yang artinya sudah 216 kali Tunas Hijau bekerjasama dengan DLH Surabaya mengadakan aksi bersih-bersih pantai, dan akan terus berlanjut di seri-seri berikutnya.
Secara lokasi tidak hanya di Pantai Batu-Batu Kenjeran, tetapi juga menyasar di pantai-pantai lain di pesisir Surabaya, seperti Pantai Taman Patung Suroboyo, Pantai Tambak Wedi, Pantai Kedung Cowek, Pantai Nambangan, dsb.
Meskipun dengan aksi ini pantai tidak seratus persen bersih, tapi apa yang dilakukan puluhan pelajar bersama komunitas Tunas Hijau patut diapresiasi. Apabila masyarakat tidak ada yang peduli dan membiarkan pemerintah bekerja sendirian, tentu akan semakin lama.
Pelibatan para pelajar dalam aksi ini memiliki peran strategis, karena mereka adalah generasi penerus yang sejak dini telah dididik dan dibiasakan untuk peduli pada alam. Jika mereka yang muda sudah melakukan aksi berkelanjutan untuk bumi, sekarang di 2026 giliran kita semua untuk turut berpartisipasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


