neraca dagang ri surplus 67 bulan beruntun akankah jadi benteng ekonomi di tengah kebijakan tarif as - News | Good News From Indonesia 2026

Neraca Dagang RI Surplus 67 Bulan Beruntun, Akankah Jadi Benteng Ekonomi di Tengah Kebijakan Tarif AS?

Neraca Dagang RI Surplus 67 Bulan Beruntun, Akankah Jadi Benteng Ekonomi di Tengah Kebijakan Tarif AS?
images info

Neraca Dagang RI Surplus 67 Bulan Beruntun, Akankah Jadi Benteng Ekonomi di Tengah Kebijakan Tarif AS?


 

Memasuki awal tahun 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan barang November 2025 yang mencatatkan surplus sebesar US$ 2,66 miliar.

Capaian ini mengukuhkan rekor surplus yang bertahan tanpa putus selama 67 bulan sejak Mei 2020. Angka tersebut menjadi gambaran bahwa produk nasional memiliki ruang tumbuh di pasar global walaupun situasi ekonomi dunia sedang dinamis.

Surplus pada November ini terpantau lebih tinggi dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang berada di angka US$ 2,4 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kekuatan utama ekspor saat ini bersumber dari performa komoditas non-migas.

"Surplus pada November 2025 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas yang sebesar US$ 4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, besi dan baja, serta nikel," ungkap Pudji dalam keterangannya di Jakarta.

 

Surplus sebagai Penopang Pemulihan Ekonomi

Pertanyaan mengenai kekuatan surplus sebagai benteng ekonomi terjawab melalui data kumulatif sepanjang tahun. Dari Januari hingga November 2025, surplus perdagangan barang terkumpul di angka US$ 38,54 miliar. Nilai ini melonjak sekitar 32,3 persen jika dibandingkan dengan catatan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 29,2 miliar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kondisi surplus yang menebal inilah yang menjadi penopang utama ekonomi nasional saat menghadapi gejolak global. Purbaya menegaskan bahwa meskipun ada tekanan, posisi perdagangan Indonesia justru menunjukkan penguatan yang mendukung proses pemulihan domestik.

"Net impact dari perkembangan global ke kita malah membaik sehingga global menopang recovery di ekonomi kita," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA. Hal ini menunjukkan bahwa surplus perdagangan berfungsi sebagai bantalan fiskal yang menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian.

 

Hadapi Kebijakan Tarif Amerika Serikat

Namun, efektivitas benteng ekonomi ini mulai diuji oleh kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat. Purbaya mencermati adanya strategi frontloading yang dilakukan para eksportir, yaitu mempercepat pengiriman barang sebelum aturan tarif baru dari AS berlaku efektif. Langkah antisipatif ini diambil agar risiko hambatan perdagangan bisa diminimalisir dan aliran ekspor tetap terjaga.

Kesiapan industri dalam negeri juga terlihat dari aktivitas impor bahan baku non-migas yang naik 4,37 persen, mencapai US$ 188,61 miliar. Sehingga, produksi domestik masih aktif bergerak untuk menunjang ekspor komoditas unggulan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.