Furky Syahroni adalah pendaki perempuan Indonesia yang telah dikenal namanya lewat sepak terjangnya. Sosoknya mudah dikenal karena aktivitas naik turun gunung yang dilakukannya dibagikan melalui akun media sosialnya @FurkyTM.
Kehadiran Furky di kancah pendakian nasional membawa napas baru bagi pemberdayaan perempuan. Melalui konten-kontennya, ia menunjukkan bahwa perempuan mampu menghadapi medan berat, cuaca ekstrem, dan beban ransel yang berat dengan manajemen yang tepat. Ia menjadi sosok yang mendorong lebih banyak pendaki wanita untuk berani mengeksplorasi alam tanpa rasa takut, tetapi tetap mengutamakan etika dan keselamatan.
Adapun kecintaan Furky terhadap aktivitas naik turun gunung tidak mekar begitu saja. Ia beranjak dari kegiatan fisik lain dan barulah memulai pendakian untuk sekadar mencoba.
Dari Sofbol ke Mendaki
Mendaki gunung bukanlah hal mudah. Biasanya hanya mereka yang memiliki badan dan mental terlatih bisa menaklukkan tiap tanjakan untuk mencapai titik puncaknya.
Beruntuglah Furky dibekali jasmani yang kuat. Sebelum fokus mendaki, ia berpredikat atlet sofbol sehingga staminanya sudah terbentuk.
“Dulu aku pekerja kantoran biasa, tapi sebelum itu atelt nasional di cabang olahraga sofbol 10 tahunan,” ucap Furky kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Furky yang kemudian vakum dari sofbol masih memiliki hasrat memiliki hobi baru di tengah kesibukan pekerjaan. Maka dicobalah mendaki gunung setelah diajak kawannya
Awalnya, Furky dihinggapi pikiran bahwa mendaki gunung lebih sekadar rekreasi semata. Namun, setelah mencobanya ia merasakan bahwa mendaki gunung bukanlah perkara mudah meskipun badan sudah terbentuk karena kebiasaan berolahraga.
“Waktu pertama kali nanjak tuh di satu jam nanjak, ‘Wah kayaknya olahraga ini enggak cocok deh’. Tapi ternyata pas turun pingin balik lagi,” ungkapnya.
Gunung Itu Tidak Adil
Aktivitas mendaki gunung tidaklah mudah terutama bagi orang awam. Dibutuhkan ilmu pengetahuan yang cukup agar pendakian lancar sampai titik puncak. Jika itu belum cukup, tentu rekan perjalanan yang lebih berpengalaman mesti senantiasa mendampingi supaya menghadirkan keamanan dan kenyamanan bagi pendaki pemula.
Namun, bagi pendaki berpengalaman, proses pendakian gunung tidak selamanya mulus. Mereka yang berpengalaman kerap berjumpa dengan tantangan di tengah pendakian sehingga tidak bisa menggapai target yang diinginkan. Furky sendiri pernah merasakan itu sewaktu mendaki gunung di Nepal.
“Saya kemarin baru dari gunung Nepal dan gagal mencapai summit karena sakit penyakit ketinggian AMS (Acute Mountain Sickness) namanya. Dan di situ yang saya pelajari adalah gunung tidak akan melihat niat baik atau kerja keras kita,” ucap Furky.
Furky lantas menilai gunung selalu menghadirkan tantangan yang tidak adil bagi pendaki berpredikat apapun. Menurutnya pendaki dengan perhitungan matang bisa saja gagal menjejakkan kaki di puncak karena sejumlah faktor, entah itu cuaca atau kondisi dari pendaki itu sendiri.
“Di gunung itu enggak ada fair atau unfair. Mereka punya keputusan sendiri. Mereka itu berbahaya. Jadi menurut saya gunung itu enggak adil. Lo mau sebagus papun, perhitungan lo sebagus apapun, tapi itu enggak akan merubah hasil yang nanti pada akhirnya,” katanya lagi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

